Dear: Desember, kelabu.

Masihkah hujan menyapa di luar sana? Menyanyikan kisah kita yang kemarin malam belum berakhir. Akankah hujan menutup lagunya dengan kisah manis tanpa perpisahan? Aku tidak ingin berpisah, walau hanya sepatah ranting yang terpisah dari daun-daunnya, kemudian menua dan kering sendirian. Aku tak ingin berlalu bak sepoi angin yang menyapu desir dedaunan, kemudian pergi tanpa jejak.

Aku sempat mengira, akhir rindu ini ada di penghujung Desember. Iya, ketika tak lagi kudengar dendang merdu hujan, saat tak lagi ku tatap dedaunan basah karena tetesan embun pagi. Tapi apa? Rintik rindu itu masih saja berserakan di halaman rumahku, menunggu dengan seribu harapan hampa. Bahkan untuk mengintip dari celah jendela pun aku enggan, karena aku takut. Takut merindukan bayang yang telah tiada.

Tahukah kamu alasanku tak pernah sedikitpun berniat membuka jendela? Karena aku tahu, rindumu selalu menungguku disana. Entahlah, mengapa rindu selalu menyukai hinggap di jendela kamar. Dan aku pun sering mengintipnya kembali, walau tanpa sepengetahuan sang pemilik rindu. Kamu tahu apa yang aku lihat? Tidak ada, absurb, semu. Kau bersama rindu dan cinta yang lain. Lalu, bagaimana aku harus memutar waktu yang telah berlalu? Jawab aku; Desember. Aku tak ingin bahkan sekedar mengintip rindu itu. Ia telah pergi, ia telah berlalu.

Aku benci Desember. Bisa-bisanya menyuguhkan kesakitan hatiku ini karena dirimu; seseorang tanpa nama. Aku tak ingin lagi mengingat tentangmu, bahkan aku tak ingin lagi menyebut namamu, titik. Tapi Desember terlalu kejam, dan Desember-lah yang menjadi satu-satunya alarm rindu yang tak pernah ada sebelumnya. Desember lah yang selalu menyuguhkan hujan, agar aku setidaknya mengingat tentang kisah kita yang dulu pernah ada. Dan Desember pula yang menjadi pembalik waktu, menyapaku melalui rintik embun yang menyerupai rindu, hingga ku tak mampu untuk tidak merindukanmu. Kau pernah menyakitiku, namun rasa sakitku tak lebih besar dari rasa rinduku padamu; kini, dan entah hingga kapan.

Advertisement

Terima kasih Desember, setidaknya aku bisa lega meninggalkan kenangan yang terekam dan berakhir di kamu; Desember. Percayalah, aku tidak akan pernah melupakan rinai angin yang bertiup segera ingin menghapusmu, kemudian percik embun yang menyerupai hujan ingin aku kembali menanyakan tentang rinduku pada seseorang. Desember, sungguh engkau kelabu, tanpa gemintang menghiasi, tanpa rembulan yang bersinar cerah. Tidakkah engkau kesepian? Tidakkan engkau bosan bertemankan awan hitam selalu? Dan tidakkah engkau lelah mendengar nyanyian hujan yang selalu saja membawa kenangan itu kembali? Menyedihkan! Jika aku jadi engkau; Desember, aku akan mati perlahan hingga aku lelah bertahan.

Selamat tinggal Desember. Ceritamu tidak akan sama dengan sebelas bulan lainnya. Aku akan melangkah, Januari sudah menungguku untuk menggoreskan cerita bersamanya. Ah, jangan cemburu, tenang saja, aku tidak akan menceritakan ke-kelabuan-mu pada Januari.