Sungguh, aku tidak bisa menolak untuk jatuh cinta padamu. Aku sungguh mengagumi apapun yang ada pada dirimu. Jika saja aku lebih tahu bagaimana cara menunjukkan perasaanku, mungkin kamu akan tahu seberapa beruntungnya aku memilikimu saat ini. Entah apa yang harus aku katakan pada Tuhanku, Allah, apakah aku harus berterima kasih pada-Nya atau justru bertanya mengapa ini harus terjadi padaku?

Terkadang, aku ingin sekali tahu bagaimana raut wajahku ketika aku selesai berdoa, bersujud memohon kamu yang mendoakanku dengan cara berlutut didepan Altar. Terkadang, aku ingin sekali tahu bagaimana perasaanmu ketika menunggu lonceng Gereja sedangkan aku merindukan suara Adzan. Tapi seringnya, aku tak mau kamu tahu seberapa sedihnya aku, ketika Minggu pagi kamu pamit ke Gereja usai aku menunaikan Shalat Dhuha.

Jangan mau tahu, pokoknya.

Shalom.

Assalamualaikum, Koh.

How are you today, Ci?

Alhamdulilah baik, Koko gimana?

Puji Tuhan, Koko baik juga Ci.

Aku berbohong, jika aku mengaku baik-baik saja ketika hendak melafalkan Al-Quran yang kemudian mengingat kamu sedang membaca Al-Kitab. Aku berbohong, jika aku tidak merasa sedih setiap kamu ibadah sore di Gereja, sedangkan aku mengambil air wudhu untuk Ashar dan Magrib seraya menunggumu selesai. Aku berbohong, jika aku tidak merasa sesak saat aku menggenggam tasbih untuk berdzikir, sedangkan Rosario kau genggam untuk bermazmur, mendaraskan Doa Bunda Maria. Aku berbohong, jika setiap aku bershalawat, Asmaul Husna, membayangkan kamu yang menyanyikan Kidung Jemaat. Air mataku tidak menetes.

Advertisement

Percaya padaku. Aku berbohong.

Koko ngga bisa ngebayangin deh, kalau kita punya anak, kasihan anak kita Ci.

Loh kok gitu?

Gak bisa lihat kayaknya dia.

Heh! Sembarangan!

Sipit, Ci…. Segaris. Koko sipit, Cici sipit. Bayangin coba hahahaha, lagian kita bisa-bisanya sama-sama turunan China.

Iya juga ya? Hahaha, terus salah aku? Koh, aku harus ngorbanin apa ya biar kita bisa nikah nanti?

Apa aja, asal jangan Agamamu, sayang.. Kamu? Cici mau Koko ngorbanin apa biar kita bisa punya anak yang matanya lebih kecil dari kita berdua?

Apa aja, asal jangan Tuhanmu, sayang…

Mungkin saat ini kita memilih untuk tidak menghiraukan perbedaan yang ada dan terasa nyata. Tapi aku tahu, aku tengah tenggelam dalam ketakutan dan kamu tengah berlari dari kekhawatiran. Jangan sampai lelah, kita bersandiwara; berpura-pura tuli dan buta.

Sayang, dari beberapa tahun lalu, aku tak pernah sedikitpun meminta apalagi memaksamu meninggalkan Tuhanmu, demi aku. Dan kamu juga melakukan hal yang sama, tak pernah sekalipun.

Mungkin, kesalahanku yang dari awal tidak tahu diri. Seharusnya aku tidak membiarkan kamu membuatku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya seperti sekarang. Aku tidak boleh mencintaimu, tapi kau harus mengerti, ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu tepat pada saat aku punya kesempatan untuk memilikimu.

Aku tidak pernah berencana dan menduga bisa memiliki lelaki sesempurna kau. Aku juga tidak punya kuasa apa-apa tentang ‘perbedaan’ yang sebenarnya membuat kita saling menyakiti. Aku begitu paham, apa yang dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan manusia. Begitu pula sebaliknya, bukan?

Aku menyadari, mungkin untuk bertahan denganmu, memperjuangkan kita, aku harus membuang semua yang kumiliki; duniaku?

Sayang, bagaimana jika memiliki hanya membuat kita saling melukai? Di malam-malamku yang kau buat bahagia, terlalu banyak pertanyaan yang mengganggu pikiranku dan aku tahu, tidak akan pernah aku temukan jawaban-jawaban untuk itu.

Begitu menyakitkannya kebahagiaan kita, untukku. Kita tidak pernah berhenti merapal doa meskipun dieja dengan Bahasa yang berbeda. Aku tidak pernah menyesalkan ini, menyesalkan cara kita saling mendoakan. Dalam setiap sujud dan setiap lipatan tangan, juga Al-Quran dan Al-Kitab yang masing-masing ada di genggaman kita. Pernahkah kau ingin bertanya, apa salah perbedaan di antara kita jika hanya perihal panggilan kita yang berbeda terhadap Tuhan?

Cinta yang kau berikan kepadaku, membuatku sangat percaya. Tapi cintamu juga membuat aku tidak peduli, bahwa kisah yang tengah aku peluk dengan segala kesusahanku hanya memiliki dua akhir. Aku bahagia bersamamu atau akhirnya aku harus rela kehilanganmu selamanya. Hanya karena aku menengadahkan tangan dan kau melipat tangan, tak pantaskah kau dan aku berakhir bahagia?

Kau, lelaki yang sangat aku cintai. Meski tasbih ada di genggamanku dan salib ada pada kalungmu, bisakah kau tanyakan pada Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umat-Nya mencintai hamba-Nya?

Manusia mana yang bisa menerka-nerka akhir dari segala takdir? Tidak ada. Meskipun aku tak tahu, Tuhan mengirimmu padamu untuk apa, namun percayalah hanya kamu yang kuyakini sebagai jawaban dari doa-doa yang kukirimkan setiap sujudku kepada-Nya.

Cinta-cintaku yang lalu, tidak sebaik kamu. Pulang-pulangku dulu, tidak senyaman kamu. Tidak ada yang sesempurna kamu melengkapi segala kekuranganku. Begitu menyedihkannya kisah ini, sayang. Saat aku sangat mencintaimu dan merasa beruntung memilikimu, kenyataan bahwa kita berbeda juga harus kutelan pelan-pelan.

Aku bisa apa, sekarang? Selain mendoakan agar semuanya baik-baik saja, aku hanya bisa menangis. Menangis bahagia karena ada kamu di sampingku, juga menangis menahan perih karena tidak mungkin kita meninggalkan Tuhan hanya untuk menyatukan cinta dan agama.

Semoga kamu juga tidak bosan, mencicipi masakan khas Idul Fitri yang setiap tahun selalu aku masakkan untukmu.

Sayang, aku belum bosan mendengar ceritamu merayakan malam Natal, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya.