Waktu itu, umurku 24 tahun. Aku hanya seorang perempuan biasa yang selalu berharap bisa seperti teman-temanku, yaitu memiliki kekasih yang baik dan hidup bahagia. Beberapa kali aku menjalin hubungan, namun kuanggap itu semua cinta monyet karena itu semua terjadi semasa aku sekolah dulu. Hingga Tuhan mempertemukanku dengan dirimu. Tak kusangka, ternyata kita bekerja di kantor yang sama.

Bayangkan, sudah dua tahun aku bekerja di sana dan kamu sendiri sudah empat tahun ada di sana. Dua tahun ada di kantor yang sama, namun tak membuat kita saling mengenal. Sungguh luar biasa cara Tuhan kemudian mempertemukan kita. Aku ingat semuanya! Bermula dari aku yang lebih dulu mengejekmu dan sejak saat itu kamu mulai gencar mendekatiku.

Kamu mulai mencari tahu nomor ponselku, memperhatikan warna bajuku, memperhatikan berapa kali aku ganti foto profil Whatsapp, sampai kamu pun mulai menunjukkan pengorbananmu dalam banyak hal untukku. Pada waktu itu, mungkin kamu lihat aku keras kepala dan sok jual mahal. Namun sebenarnya, saat itu, saat di mana kamu rela bangun pagi-pagi buta untuk menjemputku pergi kerja dan rela pulang tengah malam karena mengantarku pulang ke rumah.

Saat itu, aku telah jatuh hati padamu. Kamu begitu baik, begitu tulus, dan begitu indah di mataku. Akhirnya, banyak hari kita lewat bersama dengan komitmen bersedia menerima kekurangan satu sama lain dan saling melengkapi. Aku pun mulai memperhatikan penampilan. Aku mulai belajar memakai eye liner agar terlihat lebih feminin (walaupun aku tahu, kamu tidak pernah menuntutku untuk tampil beda). Aku sungguh beruntung memilikimu.

Aku yang cukup mudah berubah mood-nya (terutama saat PMS), tetap dapat kamu mengerti. Aku benar-benar beruntung. Makin besarlah rasa sayangku padamu!

Advertisement

Namun keadaan berubah setelah ternyata cinta kita tidak mendapat restu dari keluarga kamu. Saat ini, usiaku 27 tahun. Perselisihan demi perselisihan makin sering terjadi di antara kita. Tidak, mereka tidak salah. Aku berusaha memahami bahwa setiap orangtua pasti menginginkan pendamping yang terbaik bagi anaknya. Mungkin, aku memang tidak cukup baik bagimu. Terlalu banyak kekuranganku.

Aku sadar, banyak sifat dan sikapku yang mungkin membuatmu jenuh, terganggu, kecewa, bahkan terluka. Namun, percayalah! Tidak ada sedikit pun niatku untuk melukaimu. Sebaliknya, aku sangat mencintaimu. Sekalipun kamu telah jujur padaku bahwa rasa sayangmu tidak lagi seperti yang dulu dan bahwa keinginanmu untuk bersama denganku selamanya telah sirna, aku tetap mencintaimu.

Ya, aku masih di sini. Menyayangimu dengan segenap hatiku. Membayangkan tertawa terbahak bersamamu. Berharap bisa berbagi cerita lagi denganmu. Tiap kali aku merindukanmu, aku akan memandangi setiap kenangan yang kita abadikan dalam foto. Aku bersyukur kita sering berfoto waktu itu. Sekarang, aku memang tak lagi bisa melihatmu, tak lagi bisa mendengar suaramu, bahkan mendapat pesan darimu pun sudah tak mungkin rasanya.

Yang kudengar, kamu telah bahagia dengan yang lain saat ini. Sayangku, sekalipun hati ini sakit memendam rindu, namun ketahuilah bahwa aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu. Jika memang kamu menginginkan aku pergi, aku akan pergi. Aku bahagia untukmu, walaupun aku bukan bagian dari kebahagiaanmu itu. Aku berdoa pada Tuhan agar dia yang saat ini ada di sampingmu bisa mencintaimu sebesar cintaku padaku. Bahkan lebih besar!

Kamu ingat lagu yang sering kunyanyikan untukmu, bukan?

"I'll make a wish for you and hope it will come true.

The night would just be kind to such a gentle mind.

If you lose your way, think back on yesterday.

Remember me this way. Remember me this way."

Dulu kamu selalu tersenyum tiap aku menyanyikan lirik itu. Aku harap, kamu kembali tersenyum saat tulisan ini sampai kepadamu. Tolong jangan marah! Semua ini aku sampaikan karena aku tak mau kehilangan kesempatan untuk mengungkapkannya pada dunia. Karena aku tak tahu, kapan duniaku berhenti berputar. Ketahuilah, entah mengapa, aku tak pernah lelah menyayangimu.