Labakkang merupakan salah satu kecamatan terluas yang terdapat di Kabupaten Pangkep. Memiliki 13 desa/kelurahan. Saya sendiri membagi wilayah Kecamatan Labakkang ini menjadi dua bagian yakni Labakkang Barat dan Labakkang Timur mengingat jarak keduanya memang berjauhan satu sama lain antara barat dan timur. Sebenarnya, beberapa tahun silam Labakkang sendiri sempat di issukan akan di mekarkan menjadi dua kecamatan karena dianggap memiliki wilayah yang sangat luas dan cukup memenuhi syarat untuk di adakan pemekaran.

Namun, entah bagaimana kelanjutannya hingga saat ini, Labakkang tetap satu Kecamatan Labakkang. Membuka sejarah Kecamatan Labakkang maka tidak dapat di pisahkan dengan sejarah kekaraengan di Kabupaten Pangkep khususnya di Labakkang. Farid Makkulau dalam bukunya tentang sejarah kekaraengan di Pangkep yang terbit pada tahun 2008 yang lalu dalam bukunya sudah menjelaskan asal muasal nama Labakkang yang memang menurutnya secara harfiah berasal dari kata “Labba” yang artinya luas atau lebar. Sebut saja Labakkang barat terdapat enam desa/kelurahan seperti Kelurahan Labakkang di mana pusat kecamatan terletak di kelurahan tersebut termasuk rumah adat Balla Lompoa yang menjadi icon wisata sejak berdirinya tahun 2008 yang lalu juga berada di Labakkang barat.

Berbagai aktifitas adat seperti Mappalili pun di lakukan di rumah adat tersebut yang kini banyak di kunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Maka tak salah kini rumah adat Balla Lompoa menjadi fungsi sosial menurut para budayawan. Selanjutnya, Kelurahan Mangallekana, Pundata Baji, Borima Sungguh, Manakku dan desa Bonto Manai. Tujuh desa/kelurahan lainnya terdapat desa Gentung, Kanaungan, Pattalassang, Batara, Kassiloe, Bara Batu dan juga Taraweang yang terletak di bagian timur Labakkang. Selain desa/kelurahan di Kecamatan ini terdapat pula puluhan nama kampung yang memiliki arti dan makna bahkan sejarahnya tersendiri. Kantor camat Labakkang terletak di Jl. Poros Makassar Pare-Pare Km. 60 Bontowa dan saat ini di pimpin oleh Bapak Camat H. Andi Ansar Paduwai, SH. Sesaat setelah menerima gaji pertamaku ketika bekerja di salah satu Lembaga Bimbingan Belajar yang terletak di Bonto Gelang Bungoro tahun 2009 silam.

Aku mengajak kedua orangtuaku ke salah satu dealer motor di pusat kota membeli motor baru yang nantinya bisa di gunakan ettaku mencari nafkah sebagai tukang bentor di Labakkang. Sebelumnya, ettaku sendiri hanya menjual ikan di berbagai pasar tradisional yang ada di kecamatanku. Namun sejak munculnya profesi baru yang cukup menjanjikan menurut beliau guna memenuhi tuntutan hidup yakni menjadi “Pabentor” maka ettaku memutuskan untuk pensiun dari dunia yang sudah begitu lama ia geluti, bahkan semenjak aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Berkat bantuan rekan ibuku, ettaku akhirnya mendapatkan bentor tua yang ia sewa hampir tiga bulan lamanya.

Dan masuk bulan ketiga inilah ketika bentor tersebut harus diambil pemiliknya karena akan digunakan sendiri, membuatku harus membantu orangtua memiliki bentor impiannya. Ettaku sempat berkata padaku setelah pulang dari dealer motor bahwa sebelum motor baru kami ini di jadikan bentor untuk ettaku mencari nafkah, beliau akan mengajariku selama seminggu berturut-turut setiap paginya mengendarai roda dua tersebut hingga betul-betul mampu mengendarainya. Aku senang bukan main meski di susupi rasa malu juga mengingat usiaku saat itu sudah 23 tahun, kalah telak dengan anak di bawah umur lainnya yang sudah begitu lihai mengendarai roda dua tersebut.

Advertisement

Namun, jabatan pekerjaanku di lembaga bimbingan belajar tempatku bekerja sebagai koordinator marketing yang mengharuskan untuk turun sosialisasi product bimbingan ke sekolah-sekolah tentunya membutuhkan kemampuan mobilitas yang tinggi termasuk kecakapan mengendarai roda dua bersama rekan kerjaku yang lain. “Baja maele, lokkani ri lapangan Pattalassang. Koniromai kupagguruko makkaliling mammotoro” Ujar ettaku setelah motor yang kami beli sudah di antar oleh pihak dealer dengan dialek bahasa bugisnya dengan penuh semangat.

Seperti janji ettaku. Maka Esok paginya, usai menikmati secangkir kopi panas kami bergegas meninggalkan kampung tarusang, kampung domisili kami. Di bonceng ettaku, kami berdua menuju Lapangan Pattalassang. Pattalassang sendiri adalah salah satu desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Labakkang yang berjarak kurang lebih 4 km dari tempatku tinggal di Tarrusang. Infrastruktur menuju lokasi itu pun terbilang bagus hingga tidak butuh waktu lama lama sekitar 10 menit perjalanan akhirnya kami tiba di lapangan tersebut yang ternyata berada pas di depan kantor Desa Pattalassang.

Tapi untunglah masih sangat pagi sehingga belum terlalu ramai untuk di tonton oleh penghuni kantor desa. Hampir lima belas kali berputar-putar mengelilingi lapangan Desa Pattalassang tak membuatku lelah, hingga akhirnya aku dan ettaku memutuskan pulang ke rumah karena harus bergegas ke kantor untuk bekerja. Begitu setiap harinya, selain hari libur. Seminggu berputar-putar di Lapangan Pattalassang akhirnya ettaku memutuskan kalau aku sudah bisa mengendarai roda dua tersebut meskipun belum selincah anak SMP yang begitu gampangnya ugal-ugalan naik motor di jalan raya.

Selanjutnya, aku diminta mengendarai motor baru kami ini sambil membonceng beliau menuju arah barat yakni Maccini Baji. Maccini Baji sendiri merupakan salah satu kampung yang ada di kelurahan Pundata Baji. Sekitar 8 km dari Lapangan Pattalassang. Dalam bahasa Makassar sendiri Maccini Baji berasal dari kata Maccini = Melihat dan kata Baji =Kebajikan.

Kampung ini sendiri dahulunya sebelum motor, mobil dan bentor seramai saat ini hanya bisa di tempuh dengn kendaraan tradisional seperti bendi atau lebih di kenal dengan istilah dokar dalam bahasa Indonesianya. Kendaraan yang di arak oleh seekor kuda yang menyerupai gerobak berjalan ini memiliki empat ban, dua ban depan dan dua ban belakang. Bendi ini biasanya hanya memuat lima atau enam orang saja. Satu di depan dekat pak kusir yang harus mengontrol laju kuda dan sebahagian lagi duduk di belakang.

Namun seiring perkembangan zaman, kendaraan tradisonal ini pun sudah begitu langka bahkan nyaris "punah" dan tak lagi menghiasi pasar-pasar tradisional di Labakkang setiap waktu pasar yang biasanya tiga kali dalam seminggu, termasuk di Kabupaten pun sudah begitu susah untuk menemukan alat transportasi tradisional bendi. Pulang dari Maccini Baji, aku kira ettaku akan langsung memintaku mengarahkan motor menuju jalan pulang ke rumah, ternyata beliau masih memintaku meneruskan perjalanan ke Kampung Malise.

Kampung Malise sendiri merupakan salah satu kampung yang terletak di Kelurahan Mangallekkana yang jaraknya juga tidak begitu jauh dari pusat pasar tradisonal Labakkang sekitar 2 atau 3 km. Hanya ia terletak di bagian timur Maccini Baji. “Matteruno lokka kotu Kampung Malise nappa Lisuki ri bolae” ujar ettaku dalam bahasa bugis dan hanya kukatakan “Iye” padanya sambil terus melajukan motorku.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari Kampung Malise yang menembus jalan ke tetangga kampungku Paccikombaja akhirnya membawaku masuk ke kampungku kampung Tarusang dan membuat perjalanan kami hari itu berakhir dengan perasaan senang dan bangga telah mampu mengendarai motor. Tidak ada kata terlambat, bisikku dalam hati. Tiba di rumah ettaku menyuruhku duduk sebentar dan menjelaskan filosofi terkait perjalananku beberapa hari ini belajar mengendarai motor di Lapangan Pattalassang, menyusuri Maccini Baji dan Malise.

Beliau mengatakan bahwa untuk memulai sesuatu harus di niatkan dengan kebajikan. Pertama, beliau mengajakku ke Pattalassang yang dalam bahasa Makassar itu Pattalassang yang berarti kehidupan, harapan kedepannya motor baru kami ini memberi kehidupan yang baik bagi keluarga kami. Kemudian menyusuri Maccini Baji yang berarti melihat kebaikan dan berakhir di kampung Malise yang dalam bahasa makassar Malise berarti berisi. Motor baru kami ini di harapkan mampu memberi kehidupan yang baik dan penuh banyak manfaat keberkahan dan tentunya terhindar dari segala keburukan. Demikian pesan tersurat dari pernyataan ettaku padaku.

Note : Etta = Ayah, daddy, papi (dalam bahasa bugis)