Aku membuat segelas kopi bungkus malam ini. Ya, segelas bukan secangkir. Karena nyatanya tidak ada cangkir di rak piring rumahku. Aku pernah ingat, mama memiliki cangkir tapi pasti dia menyimpannya rapat-rapat. Bukan soal kenangan di cangkir itu hingga ia menyimpannya dengan rapat tapi soal kerapihan karena dianggap lebih efisien untuk membuat susu, kopi, teh, sirup, atau air putih dengan gelas.

Mungkin dari segi keefisiensian, aku setuju dengan hal itu. Tapi untuk segi keestetikaan, aku… ah sayangnya aku bukan tipe orang yang dengan mudah mengganti wadah minumku sesuai dengan jenis minuman yang akan aku teguk. Cukup satu wadah saja yang akan berkali-kali aku cuci untuk setiap pergantian jenis minuman yang akan ku minum.

Apakah hal ini menandakan aku adalah orang setia? Mungkin kamu akan mengaggukan kepalamu perlahan pertanda kamu setuju dengan pertanyaanku atau kamu akan mengelak karena pertanyaanku tidak berkaitan sama sekali tentang wadah minum dengan kesetian. Tapi sayangnya, aku senang membuat perumpamaan atau menyambungkan sesuatu hal. Entah untuk mencari ketenangan atau kadang menambah kegundahan atau justru hanya untuk hiburan semata.

Kopi jam 10 malamku hampir dingin. Air mendidih yang semula harus ku seruput dengan sendok perlahan menjadi sehangat kuku. Kopiku malam ini seperti yang kemarin, rasa cappuccino, tapi beda merk. Rasanya lebih pahit. Terlebih lagi ketika dingin, dan sedikit masam. Beberapa kotak kecil es batu di kulkas akhirnya ku pasrahkan  untuk bergabung dalam kopiku. Kopi yang sudah hilang kehangatannya inipun berubah seketika menjadi kopi jam 10 malamku yang dingin. Tapi tak masalah, aku tetap menikmatinya.

Aku menyesapnya terus dan terus hingga habis. Ahhhhhh… apakah hanya aku yang ketika meminum kopi tiba-tiba ingin menulis? Aku yakin tidak. Tapi kali ini, bukan keinginan menulisku yang menggebu melainkan ingatanku tentang kemarin. Jika kamu memahami perkataanku, maka kamu akana menyadarinya. Ingatan jelas saja tentang kemarin. Tidak ada ingatan tentang masa depan, bukan? Yang ada justru adalah ramalan atau prakiraan. Dan aku mengingatnya.

Advertisement

Aku selalu memperhatikannya. Meskipun dengan sembunyi-sembunyi. Kadang-kadang aku dengan susah payah berusaha mencuri kesempatan untuk dapat berbincang dengannya. Entah tentang apapun padahal aku tidak banyak memiliki topik pembicaraan dengannya. Kadang aku ingin selalu terlihat agar ia menyadari keberadaanku.

Aku juga ingin menjadi tempat curhatnya, tempat bercandanya, tempat keluh kesahnya dan tempat segalanya yang bahkan belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Dan aku semakin ingin tahu tentangnya. Ya, segalanya tentang dirinya.

Tapi kenapa ia semakin terasa jauh? Ketika berbicara dengannya bibirku kelu namun ia terasa beku. Ketika aku berusaha menarik perhatiannya, justru ia mengalihkan pandangannya. Aku dan dirinya seakan memiliku satu kutub yang sama. Selatan dan selatan atau utara dan utara. Dan jika kami didekatkan, kami akan saling menjauh, menghindar dan tidak bertemu.

Es Kopi cappuccino pahit masamku sudah habis. Tapi untuk cerita ini, aku belum juga tahu akan kujadikan apa. Tetap panas, atau ku tambahkan es, aku minum dan kuhabiskan dalam satu tegukkan.


Jika memang memberi kesempatan untukku adalah sesuatu yang sulit untuknya, maka dengan segenap hati dan segala rasa kopi yang masih menempel di sekitar mulutku, aku sangat memakluminya. Karena bahkan, aku juga belum siap jika ada seseorang yang tidak kucinta, memaksa meminta masuk ke dalam hatiku. Karena yang kupunya adalah hati, bukan halte yang dapat disinggahi siapa saja.


Teruntuk kopi jam 10 malamku, aku telah menuguk habis dirimu. Namun gelasmu masih ada di sisiku hingga jam 11 malamku. Ini biar jadi rahasia kita bertiga. Aku, kamu, dan Tuhan yang tahu bahwa diam-diam aku merindukannya. Jika tulisanku berhasil dipublikasi (dan aku harap selalu begitu), itu artinya akan banyak yang membaca cerita tentang dirinya. Tapi sosoknya, biarlah menjadi rahasia kita bertiga. Aku, Tuhanku, dan Kopi jam 10 malamku.