Dimana kenyataan tak selalu sama dengan apa yang dipikirkan. Selama masa perenungan dalam hari-hari yang semakin lama semakin terasa berat dijalankan. Beban dipundak terasa mencekal kaki untuk terus menitih jalan kehidupan. Bukan karena apa-apa, hanya karena merasa kehidupan tak lagi senikmat seperti masa kecil.

Dimana tak dijumpai sedemikian kompleks intrik kehidupan yang penuh lika-liku. Selalu berfluktuasi kehidupan kini. Dewasa ini, idealisme menjadi barang mahal. Dimana kalian tak akan semudah itu menemukan seorang yang benar-benar memegang teguh pada pendiriannya. Seorang yang tahan banting, seorang yang dengan lantang mengatakan kebenaran menjadi kebenaran yang hakikat.

Dan mengatakan lantang bahwa ketidakadilan memang selayaknya dibumihanguskan dari kehidupan bermasyarakat. Namun, lagi-lagi seorang yang seperti itu bagaikan punguk merindukan bulan seperti pepatah kuno.

Hidup akan semakin berfluktuasi ketika kau mendekati fase dimana kau dan lingkunganmu tak sejalan. Dimana perbedaan pemikiran menjadi hal yang lumrah, hal yang sangat lumrah. Ketika hati harus berdamai dengan keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang engkau dambakan untuk dibangun selama ini dalam perenungan malammu. Hidup akan menemukan estetikanya ketika kau merasa tak nyaman dengan kehidupan.

Di situlah letak seni kehidupan. Karena bukan hidup namanya jika semua normal-normal saja. Seperti sudah dikodratkan bahwa setiap hal memiliki dua sisi yang bertentangan, kontradiktif satu sama lainnya.

Advertisement

Mengeluh pun tak ada guna. Hanya akan menambah kekesalan hati akan kehidupan yang tak dapat kita tebak apa yang akan terjadi esok hari, bahkan satu detik kemudia tak ada satupun yang dapat menerkanya. Estetika dari kehidupan adalah ketika kau bejalar bahwa hidup tak akan selamanya mulus, dan menghayatinya sebagai bagian dari peran yang harus kau jalani sampai nanti. Hingga waktu di dunia habis, dan peran di dunia sukses diperankan.

Meminta agar hidup tak berfluktuasi sama saja menghidupkan api dalam air. Kesia-siaan yang didapat hanya kekecewaan yang semakin hebat melanda batin. Nikmati saja kawan, karena semakin menikmati hidup akan semakin mengerti keindahan nilai estetika dari kehidupan itu sendiri.

Hidup pun tak lepas dari masalah hati. Masalah yang acapkali membuat gundah gulanda. Perenungan yang cukup panjang dalam malam-malam sunyi. Cinta tak lepas dari kehidupan, dan lagi-lagi Tuhan menciptakan manusia yang dibekali rasa cinta didalam hatinya. Berkah dari Tuhan yang sangat luar biasa. Hati berfluktuasi, dimana akan tiba saatnya jantungmu berdebar hebat, darahmu mengalir dengan cepat lewat pembuluh nadi, dimana kadang airmata menjadi teman disaat kau merasakan perih yang menusuk dihati.

Seperti disayat sembilu sakitnya, seperti luka merah nan menganga yang terkena air. Tak ada satu orangpun yang mampu menyangkal rasa cinta. Dan tak ada yang dapat mencegah rasa cinta, walaupun mungkin sakit yang didera luar biasa menyayat.

Hidup berfluktuasi berbeda ritmenya setiap saat. Kau diatas, aku dibawah. Beberapa saat kemudian aku diatas dan kau dibawah. Jadi, siapa yang dapat menerka fluktuasi dalam kehidupan ini? Airmata, canda tawa, kesedihan, kekecewaan, kegelisahan, kemarahan, rasa yang Tuhan berikan menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna.