Dear kamu yang kusebut Sahabat,

Jika aku tidak ditakdirkan berjumpa denganmu, mungkin aku takkan pernah bisa mengulur senyum, tawa atau bermanja-manja pada seseorang yang kusebut ‘sahabat’. Orang menyebut kita bersahabat, ya, aku pula seperti itu.

Kita bergumul belum cukup lama, mungkin terhitung kurang dari tiga tahun. Tapi aku merasa seolah kita sudah mengenal cukup lama, sampai rasanya kamu benar-benar darah dalam tubuhku. Ah, rasanya aku ingin menangis. Ah, tidak! Bukan ingin, tapi memang sering menangis jikalau kamu suatu saat gugur dari kehidupanku.

Kamu layaknya daun yang merimbunkan ranting-ranting kehidupanku. Jika suatu saat kita menjumpai musim gugur, mungkin kamu akan hilang. Apalah artinya aku jika kamu menghilang?

Aku berpikir tentang masa depan yang semu. Terlalu tebal tabir yang Tuhan bangun untuk menerawang masa depan. Apa yang akan terjadi di antara kita? Bolehlah, Tuhan sedetik saja mengijinkanku mengintip masa depan. Aku ingin melihat kehidupanmu di sana. Apa masih ada aku? Atau aku tidak pernah ada lagi di kehidupanmu?

Advertisement

Kamu berkata padaku: “aku tidak bisa membayangkan dengan siapa kamu menikah.”

Pikirmu, hanya kamu saja yang berkata seperti itu? Hatiku juga seperti itu. Acap kali kutatap wajahmu, ada pilu yang tersembuyi. “Tidak sanggup rasanya membayangkanmu menikah dengan orang lain.

Mungkin aku takkan pernah leluasa lagi menemuimu, meminta pertolongan ataupun bemanja-manja padamu. Persahabatan kita tinggal menghitung tahun, bulan, minggu atau hari? Ah, aku hanya mampu memendam kesedihan yang tertampung ketika tanganmu sudah menggandeng belahan jiwamu,

Aku selalu bilang: Terkadang takdir itu sungguh kejam, tapi apalah daya. Kita hanyalah wayang yang mengikuti ketentuan-Nya.

Seandainya tidak ada norma yang berlaku, aku ingin memelukmu sekali saja. Tapi apalah daya kamu hanyalah sahabatku. Kamu hanyalah milik-Nya yang tidak bisa kutatap setiap saat.

Semoga kamu lekas bahagia dengan yang tercinta. Terimakasih atas persahabatan yang telah kamu beri.