Setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik, ya untuk anak yang baru lulus SMA misalnya. Banyak diantara mereka yang berharap bisa melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang perkuliahan, bisa kuliah di universitas yang di harapkan dan lain sebagainya. Termasuk aku!

Mimpi indah yang menjadi nyata.

Jujur saja, semenjak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA), keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi sudah ada. Hanya saja, melihat kondisi ekonomi kedua orang tuaku, terkadang keinginan itu hanyalah angan–angan saja. Ya, sebatas angan–angan yang untuk mewujudkannya butuh perjuangan bagiku. Mamakku seorang petani yang hanya lulusan sekolah dasar, sementara bapakkupun seorang petani dan kuli serabutan, juga hanyalah lulusan atau tamatan sekolah dasar. Tak ada penghasilan tetap sehari–harinya, hanya mengandalkan hasil taninya dan ketika ada orang yang menyuruh untuk menjadi kuli. Ya, begitulah kalau hanya lulusan sekolah dasar, apalagi zaman sekarang lulusan sekolah dasar seperti mamak dan bapakku tidaklah mudah untuk mendapatkan penghasilan tetap.

Suatu hari aku pernah mengutarakan keinginanku kepada mamak dan bapakku, “Mak, aku ingin kuliah setelah lulus SMA nanti,” ujarku. Saat itu aku belum bilang universitas mana yang aku tuju, karena memang hanya sebatas mengutarakan keinginanku saja dan belum terpikirkan untuk memilih universitas manapun. Mamakupun langsung menjawab : “Mamak sama bapak juga kalau ada modal untuk membiayai kuliahmu, nggak mungkin nggak menyekolahkanmu lagi, kuliah itu kan nggak cukup satu atau dua juta. Kita uang dari mana sebanyak itu?”, waktu itu aku hanya diam dan tersenyum pada mamakku. “Kalau ingin kuliah, kerja dulu saja. Nanti kuliahnya pakai uang sendiri. Ujar mamakku melanjutkan”, sontak akupun hanya bisa mengiyakan apa yang mamakku bilang. Karena aku memang tau bagaimana keadaan keluargaku. Apalagi kakaku yang juga hanya lulusan SMA dan tak juga melanjutkan ke bangku kuliah, membuatku semakin takut dan ragu.

Saat aku kelas tiga SMA, saat itu menjelang ujian akhir dan kelulusan dimana para guru sibuk menyiapkan mata pelajaran tambahan untuk mempersiapkan ujian akhir nanti, ada salah satu guruku yang begitu antusias dan bersemangat untuk membantu murid–muridnya yang ingin melanjutkan ke bangku kuliah. Beliau semangat sekali memberikan bekal dan pengarahan kepada kami murid–muridnya. Bapak Prayogo namanya, beliau adalah guru bahasa inggrisku. Guru yang sangat disiplin menurutku, dan paling ditakuti juga disegani oleh setiap anak karena kedisiplinannya.

Advertisement

Setiap minggu beliau rutin memberikan soal–soal ujian untuk masuk ke perguruan tinggi, kepada mereka yang berminat untuk melanjutkan sekolahnya. Pada waktu itu aku tak begitu tertarik, karena pikirku aku harus bekerja dulu baru bisa kuliah jadi buat apa ikut–ikut seperti itu. Itulah pikiran polosku waktu itu.

Sampai suatu ketika, ada salah satu temanku yang mengajakku untuk ikut les tersebut sembari memberi tau aku kalau ada beasiswa kuliah gratis dan menyuruhku untuk mencoba . Ya temanku bilang nggak apa, inikan hanya mencoba apa salahnya siapa tau kamu masuk dan bisa kuliah. Akupun akhirnya mengiyakan ajakan temanku, dan ikut bersamanya.

Waktu itu guruku memperlihatkan beberapa daftar perguruan tinggi kepadaku dan teman–teman yang mengikuti les tersebut. Pada saat itu, tiba–tiba aku tertarik dengan sebuah kota, yang mendapat julukan kota para pelajar. Ya, Yogyakarta, entah kenapa begitu aku melihat daftar perguruan tinggi tersebut aku langsung yakin untuk masuk universitas di Yogyakarta. Bahkan aku langsung yakin untuk masuk di UIN Sunan Kalijaga yang kebetulan ada di daftar perguruan tinggi yang diperlihatkan guruku. Padahal waktu itu aku tidak tau sama sekali bagaimana dan seperti apa UIN Sunan Kalijaga itu.

Beberapa hari kemudian setelah aku mengikuti les tersebut, ada informasi mengenai beasiswa bidikmisi dari guruku. Dari sekolahku, waktu itu ada tiga orang anak yang diajukan oleh guruku dan disuruh untuk mempersiapkan persyaratan yang diperlukan untuk pendaftaran beasiswa bidikmisi.

Dua orang temanku memilih universitas di purwokerto kalau tidak salah, dan hanya aku sendiri yang memilih di Yogyakarta. Sepulang sekolah aku ceritakan kepada mamak dan bapakku, bahwa di sekolah aku ikut les untuk masuk perguruan tinggi. Kemudian di suruh mempersiapkan persyaratan pendaftarannya. Sontak mamak dan bapak pun kaget, karena memang aku awalnya tidak bilang kepada mereka. Aku meyakinkan mereka agar mengizinkanku. Saat itu aku bilang kepada mereka, ini hanya mencoba kalaupun nanti tidak berhasil, ya nggak masalah.

Akhirnya aku mendapatkan izin dari mamak dan bapakku. Setelah itu guruku mengurus semua pendaftaran kuliah aku dan teman–temanku, jujur aku tidak tahu menahu soal pendaftarannya karena semua yang mengurus pak Prayogo. Maklumlah, tinggal di desa yang jauh dari kota sepertiku membuatku sedikit gaptek waktu itu , jadi soal seperti itu guruku yang mengurus.

Singkat cerita, akupun lulus dari SMA itu. Setelah lulus, aku menunggu informasi dari guruku apakah pendaftarannya diterima atau tidak. Satu atau dua bulan berlalu aku sudah benar–benar bosan berdiam diri dirumah, sementara teman–temanku sudah pada sibuk. Ada yang mempersiapkan kuliah mereka dan ada juga yang pergi merantau untuk mencari kerja. Karena tak kunjung ada kepastian waktu itu, akupun berpikir untuk mencari kerja.

Aku mulai mempersiapkan persyaratan–persyaratan untuk melamar kerja dan sampai semua persyaratan kerjapun sudah lengkap, tinggal berangkat. Kesokan harinya, guruku mengabariku kalau aku ada panggilan dari UIN jogja untuk mengikuti tes tulis di UIN jogja langsung dan hanya aku saja yang mendapat panggilan sementara dua temanku, aku mendapat kabar kalau mereka tidak diterima, dari situ aku berpikir “inilah keberuntunganku, inilah kesempatanku, aku harus dapat beasiswa itu, pasti Allah kasih jalan.”.

Setelah aku berhasil meyakinkan mamak dan bapakku, akupun bertekad berangkat ke Jogja. saat itu aku masih ingat, aku diberi uang ongkos untuk pergi ke Jogja oleh guru pengajar bahasa inggrisku, beliau bilang “ini saya kasih ongkos, asal kamu harus pergi ke Jogja! ini kesempatan kamu untuk merubah keluargamu, kamu kan tinggal satu–satunya yang bisa merubah keluargamu.” Semangat dan motivasi beliau yang membuat akupun menjadi yakin.

Pertama kali aku melihat Universitas pilihanku, saat itu aku senang karena bisa pergi dan ikut tes disana. Aku diantar oleh saudaraku karena aku masih sangat awam waktu itu. Setelah tes itu aku kira sudah tinggal menunggu pengumuman diterima tau tidaknya, ternyata ada visitasi dari pihak UIN Jogja. Mereka akan datang ke rumah untuk melakukan visitasi.

Benar saja waktu itu sudah hampir tengah malam, guruku mengabari aku kalau ada petugas dari UIN jogja yang akan datang ke rumahku malam itu juga dan aku disuruh siap–siap, aku juga bilang pada mamak dan bapakku. Kemudian sekitar jam 02.00 pagi kalau tidak salah, petugas dari UIN yang akan melakukan visitasi pun sampai di rumahku, aku ingat ketika salah satu dari mereka bilang “Wah, ternyata jauh sekali ya rumahmu, dan jalannya itu naik turun naik turun benar–benar ngeri. Setelah ini nanti tinggal menunggun pengumuman berdoa saja semoga nanti diterima”. Mereka kemudian bertanya ini dan itu kepada mamak dan bapakku juga kepadaku, setelah selesai tim visitasi pun kembali ke Jogja pagi itu juga.

Hampir dua minggu berlalu, kemudian guruku mengirim pesan kepadaku di dalam pesan itu beliau membuat surprise, di awal pesan beliau berkata seolah aku tidak diterima gitu dan di akhir pesan itu beliau sampaikan selamat kalau aku diterima di UIN jogja dengan jurusan Fisika. Wow, kebayang donk senangnya aku kaya gimana, tapi jujur aku bingung kenapa di jurusan fisika padahal waktu itu seingetku aku pilih jurusan keuangan islam. Ternyata setelah aku konfirmasi kepada beliau, beliau bilang saya yang masukkan jurusan fisika. Senyum-senyum sendiri deh aku, karena jujur fisika adalah mata pelajaran paling amazing waktu aku di SMA dulu makanya tidak berharap bertemu lagi saat kuliah. Eh, malah masuk fisika, tapi alhamulillah, tetap bersyukur.

Karena untuk setiap niat baik, Allah selalu memberikan jalanNya.. 🙂

Semua memang sudah di terima, aku bahkan tinggal berangkat dan mulai masuk kuliah. Tapi perjuanganku masih ada, yakni meyakinkan kembali mamak dan bapakku. Jujur, mereka takut kalau–kalau beasiswa ini hanya di awal saja, apalagi setelah berunding dengan kakakku. Kakakku bilang bahwa temannya pun dulu dapat beasiswa tapi ujung–ujungnya dia bayar sendiri. Mendengar cerita dari kakakku otomatis mamak dan bapakku semakin ragu dan takut. Saat itu mamakku bilang “Ti, kalau nggak usah diterima saja bagaimana, mamak takut nanti ujungnya disuruh bayar, uang dari mana?” kata mamakku.

Sedih banget rasanya, coba bayangin sudah diterima dan tinggal masuk tiba-tiba orang tua ngomong seperti itu. Piye perasaanmu? Aku tak menjawab apapun waktu itu, aku langsung masuk kamar dan mewek, aku minta pendapat sama teman-temanku dan mereka menyuruhku untuk terus berjuang, harus terima dan berangkat mereka bilang itu kesempatanku, jarang-jarang yang bisa sepertiku.

Kamu pasti bisa! Itulah kata teman-temanku waktu itu. Karena mamak dan bapakku yang masih khawatir waktu itu, akhirnya sodara-sodarakupun ikut meyakinkan orang tuaku sampai beberapa guru datang ke rumah hanya untuk mendukungku dan meyakinkan mamak dan bapakku. Akhirnya, mamak dan bapakku memberikan aku izin, dan aku bilang pada mereka aku mencoba satu semester, kalau nanti ke depannya bayar, aku berhenti nggak masalah. Itu ucapanku waktu itu.

Tadaaaaa.

Akupun akhirnya berangkat diantar mamak dan bapakku juga sodaraku, kaya pindahan kan? Dan Alhamdulillah sampai sekarang masuk ke semester 8 perkuliahan. Aku masih bisa bertahan dan membuktikan kepada mamak dan bapakku kalau memang gratis tis tis alias tidak bayar. Tinggal satu langkah lagi, buat pake toga.

Syukron Allah, for everything that You give to me.

Terimakasih guru teladanku especially Bapak Prayogo, terimaksih kawan-kawanku yang telah memotivasiku, terimakasih mamak dan bapak atas izinnya, terimakasih untuk orang – orang yang telah mendukungku dan menyemangatiku, terimakasih BIDIKMISI.

With Allah, nothing is impossible.