"Kepada kalian yang pernah ku sapa dalam hidup dan kepada setiap ceritanya yang tak pernah kita tutup. Biarkan waktu yang semu terus berjalan sebagaimana mestinya, tanpa ragu, tanpa ada keraguan yang mengganggu. Kita harus banyak berduka cita bahwa dahulu terlalu banyak sudah musibah, terlalu banyak sudah kita berdusta akan hakikat dari semuanya. Aku dulu ialah aku yang dahulu, aku yang penuh harap akan bayangan, pandangan, keinginan, dan hasrat yang menutup hati dan nalar. Sedang saat itu kalian adalah kalian yang dahulu, yang selalu terjerambab pada indera serta terperangkap di dalamnya tanpa sadar, tanpa ada yang menyadarkan. Aku tak tahu, apakah kalian sekarang adalah kalian yang dahulu?"

Entah ada angin apa, Gasa menuliskan kalimatnya yang berakhir tanda tanya. Kalimat yang ditulisnya saat dini hari di Desember yang dingin. Udara lembab, lebih dingin daripada biasanya. Apalagi jika dilihat, tanah halaman samping kanan rumah masih terlihat basah, terlihat juga genangan air dari jendela kamar yang terbuka, sebuah pertanda musim hujan telah tiba.

Sungguh kantuk mulai tak tertahankan. Deretan tugas kuliah masih menunggu disapa, menunggu dikerjakan dan seolah berteriak kencang bahwa besok harus segera dikumpulkan. Gasa dengan segenap rasa bosan enggan untuk menyelesaikan tugas yang menurutnya tak ada guna. Ia malah bergumam bahwa tugas yang diberikan hanya melahirkan banyak dusta dan jauh dari kata kebenaran yang harusnya demikian.

Data yang tak ada mulai diada-adakan, tapi tak ada masalah jika pandai menjelaskan atau cukup dapat menyampaikannya dengan tanpa keragu-raguan. Perguruan tinggi lama-lama bukan lagi tempat belajar, melainkan tempat orang-orang bekerja hanya untuk sesuatu yang mereka anggap masa depan. Perlahan-lahan, perguruan tunggi hanya sekadar tempat mengisi otak dengan pengetahuan; yang katanya luarbiasa dan melupakan rasa yang semestinya lebih penting untuk diasa. Tugas kuliahnya ditinggalkan, tanpa takut tak ada nilai. Sejenak menimbulkan kemungkinan bahwa kejadian kemarin seolah-olah juga faktor penyebab mengapa Gasa mulai berlaku layaknya seorang ekstremis. Masalah hati memang bisa merambat ke mana saja. Berkutat dengan hati kala pikiran yang harusnya mulai bebas berkeliaran adalah hal yang tak mengenakan.

Masa muda tanpa cerita dan dinamika yang terjadi di dalamnya itu seperti kartu perdana tanpa kuota. Ada, tapi tak berdaya. Lalu apa artinya? Gasa merasa bahwa terkadang masa muda harus dinikmati romantismenya. Di sisi lain ia berpendapat bahwa masa muda harusnya diisi dengan kebermanfaatan, dengan karya nyata tak terbantahkan. Di mana-mana ia menyaksikan televisi tak henti berkoar bahwa anak muda harus membawa perubahan, tapi di jam yang berbeda mereka menampilkan tontonan tak berpendidikan lewat sinetron yang memuakkan.

Advertisement

Belum kelar masalah hati, masalah di dunia belum tuntas ia selesaikan. Dunia terlalu mendunia hingga kita lupa bagaimana cara menikmatinya dan berlaku sebagaimana mestinya. Lupa kalau orang sekitar butuh uluran untuk sedikit memancing obrolan atau setidaknya berbagi sapa lewat kabar. Lupa jika mati pun kita butuh beberapa tangan untuk menggali kuburan. Gasa merasakan bumi memang sudah tua dan atau kita yang membuatnya lebih tua? Semacam merenung untuk hal-hal yang tak ada guna. "Sudahlah cukup urus dirimu saja! Hatimu saja tak tuntas kau pahami", celetukan dalam benaknya menjawab pelan.

Masalah klasik, masalah anak muda zaman sekarang. Masalah lawan jenis dan drama yang tak pernah tertinggal atau sengaja tak ditinggalkan pemilik-pemiliknya. Ya, Gasa pun demikian. "Ternyata sakit hati itu begini ya Dru, bawaannya gelisah dan bingung mau ngapain".

Di sampingnya ada Adru yang dari dua jam lalu setia menemani cerita sendu Gasa. Obrolan berkedok curhat itu berlangsung hingga kumandang adzan maghrib dengan rekaman murotal terdengar sangat kencang sebelumnya. "Rekamannya terlalu kuat Sa, berjam-jam sebelum adzan selalu diperdengarkan. Katanya Tuhan itu sangat dekat dengan kita, tapi mengapa mereka memanggilnya seolah Tuhan itu tuli dan terasa sangat jauh? Ruwet, ruwet, Sa. Seruwet ini memang duniamu", Adru dengan nada-nada mengejek menyampaikan pendapatnya.

Kebiasaan Adru memang demikian. Bak pengkritik mahsyur, ia lontarkan kalimat-kalimatnya tanpa tahu kedalaman pemahaman orang lain, sehingga akan ada gesekan asyik di akhirnya. Sungguh Adru menjadi teman yang lengkap bagi Gasa.

Malam tiba, gelap beranjak menutupi senja. Gasa bersama Adru dalam canda, tak henti tertawa walau kadang terlalu banyak gibah. Kritik demi kritik mereka lontarkan kepada setiap kejadian yang akhir-akhir ini diperbincangkan, mulai dari kasus penistaan agama yang tak memperlihatkan keluasan dada hingga sepak bola yang menjadi pemersatu dari kelonggaran yang sempat hadir, atau juga tentang isu yang datang bergantian saling menutupi pengaruh dari isu lainnya.

"Aku malah berharap bahwa Indonesia bisa hancur-sehancurnya sekarang juga, Sa. Aku ingin menyaksikan bagaimana kita membangunnya lagi dengan lebih banyak cinta. Dengan begitu, mungkin ada rasa untuk bersama, ada rasa bahwa beda itu tak jadi masalah. Aku juga merindukan sosok-sosok pembawa bahagia yang menebar kebenaran akan bahagia yang benar. Bukan seperti kamu yang sibuk membangun citra! Haha", Adru melontarkan kalimat dengan tertawa terbahak di akhirnya.

Gasa dengan nada meninggi langsung menjawab, "Lho, aku bukan mau membangun citra, Dru. Kenyataannya masih banyak yang mengedepankan siapa yang berbicara, bukan bobot bicaranya. Termasuk kamu, yang masih percaya apa kata media hari ini sedang aku mulai ragu dan terkesan tak mudah percaya pada apapun, pada siapapun. Eitsss, kecuali Tuhan dan Muhammad-ku, haha. Ahhh, masalah hati belum rampung, kamu malah mengajakku memikirkan negeri yang semakin amburadul. Dru, kamu buatku semakin murung. Dru dru, sudahlah mending kamu bantu aku menemukan obat dari candu masa muda ini, candu kecintaan terhadap dunia".

"Widih puitis banget cakapmu, Sa! Haha. Tapi kayaknya kamu harus banyak membaca buku soal cinta. Ya begitulah Tuhan itu memang menyelipkan banyak embel-embel dunia Sa dalam hidup kita. Ya, kadang supaya kita mikir tapi.. pengalaman pribadiku malah kita banyak terbuai dulu baru mikir. Tapi ya solusinya bawa asyik aja, Bro! Kalau kata Mbah Djiwo, Tuhan itu 'kan Maha Asyik, masa kita hambanya tak berasyik-asyik ria? That's it!" Adru tersenyum lalu menyenggol bahu Gasa.

"Malam itu angin terasa lebih kecang, begitulah kala musim pancaroba. Musim yang selalu berguna bagi Tuhan untuk menguji sabar dan syukur hamba-hambanya. Desember, bulan terkahir dalam satu tahun kalender masehi. Desember 2016, bulan istimewa bagi dua agama dengan jumlah pemeluk paling banyak di Indonesia dalam keindahannya masing-masing. Tepat di bulan ini umat Islam diingatkan dengan kelahiran rasulnya dan umat Nasrani akan dengan segenap rasa senang dan sukacita menyambut hari rayanya. Bulan di mana akan ada banyak celotehan hanya karena ucapan selamat juga bulan haul Bapak bangsa yang selalu hadir dengan damainya. Jika saja dia masih ada, mungkin masalah ucapan selamat akan beliau jawab dengan kalimat "Kasih selamat ya kasih selamat aja. Gitu aja kok repot!". Aku bersandar pada sandaran yang nyata. Aku yang siap diayunkan dengan ayunan apa saja. Aku untuk Januari di tahun yang baru."

Gasa menulis lagi setelah tepat sekitar 10 menit setelah Adru pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Seperti biasa, ia menuliskan apa yang ada dalam pikirannya dan menutup tulisannya dengan kalimat yang berbunyi demikian. Bulan yang tak terlihat indah mengantar Gasa menutup malamnya. Tumpukan masalah hati akan ia tinggalkan di bawah bantal biru kesayangannya. Lampu ia matikan, matanya ia tutup pelan seraya berkata, "Tuhan, aku akan terlelap tanpa ada keraguan atas-Mu. Masalah hati ku anggap selesai karena nyatanya aku yang terlalu lebay".