Sudah 3 tahun aku melarikan diri darimu, pergi jauh dari kehidupanmu dan memutus semua kontakmu. Kukira dengan begitu aku lebih mudah melupakanmu. Nyatanya aku masih asik mendambakanmu yang di mataku sempurna. Banyak yang datang orang-orang baru dalam hidupku semenjak keputusanku hari kemarin. Tapi tak ada yang sepertimu, yang tetap tinggal. Memang ini salahku, tak mengijinkan mereka masuk bahkan sekedar berdiri sejajar denganku tidak kuperbolehkan.

Karenamu, sosok sepertimulah yang masih saja aku inginkan. Andai saja dulu aku menyadari rasaku ini, mungkin saja kita masih beriringan. Andai saja aku tidak tergerus oleh prinsipku sendiri dan tenggelam dalam gengsiku. Aku yakin kamu akan tetap berdampingan denganku.

Prinsip kerasku yang percaya perbedaan status dan kelas tidak bisa bersatu. Gengsiku yang berlebihan tentang dua orang berbeda budaya serta mitos-mitosnya. Juga pengalamanku tentang dua orang berbeda keyakinan yang tidak boleh mencoba-coba.

Jujur saja saat musim hujan seperti ini, aku selalu rindu jagung bakar, susu panas dan cerita konyolmu yang membuatku terpingkal-pingkal, atau martabak manis, teh hangat dan kecuranganmu main monopoli. Semua kehangatan musim hujan yang tidak lagi aku rasakan. Hanya tersisa kenangan yang malah membuat perasaanku teriris.

Penyakit susah tidurku semakin parah, membuat aku rindu cerita konyolmu. Tentang pangeran patah hati ataupun si pemalu Cinderella. Cerita pengantar tidurku yang menenangkan, atau nyanyian sumbangmu yang tidak sesuai nada sebenarnya. Bahkan lagu dengan syair yang kau ciptakan sendiri. Aku selalu ingin menangis saat tiba-tiba ingin ada kamu.

Advertisement

Hari-hariku tambah kelam saat kawanku bertanya soal hati. Aku selalu saja tersiksa saat berbagai pertanyaan tentang perasaan terlontar. Aku masih belum mengerti. Adakah cinta dalam hatiku untukmu? Mengapa aku teringat denganmu saat kawanku membahas soal itu. Dan selalu saja aku merasa sesak nafas dan hatiku perih.

Padahal aku denganmu dulu belum pernah memulai apapun, kita hanya teman dekat. Tapi kenapa aku sesakit ini? Padahal tak sedikitpun ada hal yang salah kau perbuat.

Ini sakit yang kuperbuat sendiri, yang melibatkanmu sebagai sebab. Ini salah perasaanku sendiri yang terlalu berharap setelah kepergianmu. Ini sungguh karena egoku yang ingin kamu menunggu tanpa aku mau datang padamu. Ini semua murni kesalahanku bukan kamu. Dan ini tanggungjawabku sendiri kau tak perlu menanggungnya.

Wahai pangeran impian tanpa kuda putih, yang nampak gagah dengan kaca mata tebalnya. Aku merindukan sosokmu yang hangat dan teduh, lembut dan penuh kasih tapi juga konyol dan gila. Maaf jika aku sering menyalahkanmu di hadapan Tuhan atas kekecewaan diriku sendiri. Maaf juga jika saat ini aku masih merindu dan menginginkanmu di sini.