Sepanjang hidup saya sudah mengunjungi beberapa tempat di luar Jakarta, kota kelahiran saya. Mulai dari Puncak sampai yang agak jauh ke China dan Hong Kong. Destinasi Asia Tenggara bisa dibilang lumayan lengkap, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina sudah pernah saya rasakan, meski hanya dalam beberapa hari.

Yang belum kesampaian dan ingin saya lihat adalah Angkor Wat di Kamboja. Selain itu juga ada niat untuk bisa pergi ke Myanmar, saya baru mengenal beberapa rekan dari Myanmar, dan sepertinya menarik bila bisa datang ke Myanmar.

Untuk di dalam negeri, ada beberapa tempat pernah saya kunjungi dan tentu tidak kalah menarik daripada yang pernah saya lihat di luar negeri. Saya pernah berwisata ke Yogyakarta, Toraja, Bali dan Lombok. Nama yang saya sebut terakhir adalah tempat impian saya untuk menutup mata terakhir kalinya di dunia ini.

Pada tahun 2014 kemarin saya tinggal di Lombok Timur selama satu bulan untuk mengerjakan proyek penelitian. Dibanding Lombok Barat, Lombok Timur masih tidak terlalu ramai dikunjungi wisatawan. Tetapi justru ini yang membuat tempat ini menarik. Ada mutiara terpendam disana.

Yang saya maksud adalah sebuah pulau kecil yang dinamakan Gili Kosong oleh seseorang yang mengantar saya. Pulau tersebut memang kecil, paling hanya sebesar lapangan bulu tangkis. Mungkin sebenarnya ini hanyalah pulau karang , lalu diberi nama. Airnya sangat bersih dan jernih. Saya dan teman-teman saya begitu terpana melihat kombinasi air tiga warna yang mengelilingi pulau.

Advertisement

Di Filipina, saya pernah melihat air sejernih itu, tepatnya di Pulau Cebu, matahari bersinar menembus sampai ke pasir yang ada di bawah air laut. Airnya juga merefleksikan tiga warna yang berbeda. Tetapi dari segi pemandangan serta kebersihan, tetap lebih baik Gili Kosong (tidak ada kerikil maupun bulu babi disana).

Hanya bermodalkan kacamata berenang, saya bisa melihat ikan-ikan berlalu lalang tidak jauh dari tempat saya mencelupkan kepala saya. Sungguh indah! Sekumpulan ikan berenang membentuk formasi yang teratur, tanpa takut pada sosok manusia yang sedang mengamatinya.

Hari itu, Gili Kosong benar-benar menjadi pulau pribadi , hanya kelompok saya empat orang, ditambah satu pemandu dan dua orang awak kapal. Sangat puas kami bermain disana. Tujuan kami sebenarnya ke Gili Kondo yang lebih terkenal sebagai destinasi wisata. Tetapi sampai sekarang pun kami sepakat pengalaman di Gili Kosong adalah yang terbaik selama kami di Lombok.

Keyakinan saya untuk memilih meninggal di Lombok semakin menguat ketika kami berkunjung ke Pantai Mawun di Lombok Selatan. Tempat ini masih agak sepi. Pasirnya sangat halus, dan pemandangannya luar biasa. Sampai saat ini saya belum pernah melihat tempat seindah itu. Kami tidak berenang di laut, hanya menikmati sepuasnya pemandangan Pantai Mawun.

Untuk mencapai tempat-tempat yang saya sebutkan memang bisa dibilang butuh waktu lama. Karena belum menjadi destinasi wisata yang umum, mungkin bayaran untuk transportasinya juga agak mahal (meskipun saat itu menurut saya wajar-wajar saja).

Inspirasi untuk menghabiskan sisa hidup di Lombok juga saya dapatkan ketika menginap di rumah paman teman saya. Beliau menghabiskan masa pensiunnya di sebuah rumah di daerah Mataram. Rumahnya tergolong bagus dan harganya juga masih terjangkau . Asik sekali tentunya, kalau saya bisa tinggal di Lombok, dengan bermodalkan motor , saya bisa mengunjungi pantai-pantai yang indah.

Saya berharap sampai puluhan tahun ke depan, tempat-tempat indah tersebut bisa tetap terjaga keheningannya. Karena dari pengalaman saya, tempat yang sudah dibanjiri turis biasanya akan "rusak". Tempat hiburan malam akan menjamur, merusak budaya ketenangan yang ada. Sampah bertebaran. Sungguh mengerikan. Semoga tidak terjadi.

Andai Tuhan mengijinkan, saya ingin menghabiskan sisa hidup saya di Lombok.