Indonesia, sebuah negara dengan panorama alamnya yang indah mengesankan dan portret kehidupan sosial masyarakatnya yang menarik. Tidak heran bila negara ini tidak pernah habis dibicarakan oleh banyak wisatawan lokal maupun mancanegara untuk datang berkunjung. Termasuk saya, sebagai mahasiswa perantau dari ibukota Jakarta yang terlalu sering melihat bangunan mewah tinggi menjulang menimbulkan sebuah keinginan mengunjungi kehidupan yang lebih dekat dengan alam. Jadilah saat itu, muncul dalam benak untuk melakukan backpacker dengan mengajak teman kuliah.

"Backpacker merupakan istilah yang digunakan para traveler dengan budget minim untuk menjelajah tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, sambil berjalan kaki. Mencari yang serba murah dan menikmati setiap detail perjalanan."

-Backpacker Indonesia-

Kala stres melanda, tidak ada salahnya pergi berlibur agar pikiran kembali fresh.

Ada sebab lain mengapa backpacker ini nekat saya lakukan di mana tantangan berlibur di kota orang dengan status mahasiswa yang memiliki kocek terbatas, serta nasib yang mengambang alias "digantung" dosen karena jadwal sidang skripsi beberapa kali ditunda karena kesibukan beliau. Padahal bisa saja di tengah perjalanan backpacker beliau menghubungi untuk segera mengurus persiapan sidang. Mungkin hati abang sudah terlanjur lelah di php de!

Pesona keindahan Bromo yang tiada habis untuk dibicarakan banyak wisatawan lokal maupun asing.

Gunung Bromo sebagai destinasi kami merupakan gunung berapi yang masih aktif dan dianggap gunung suci bagi penduduk asli sana yakni suku Tengger. Keindahan yang banyak orang sebutkan berupa kaldera lautan berpasir serta pesona matahari terbit atau sunrise yang dapat dipandang dari puncak Penanjakan menjadi daya tarik untuk berkunjung. Seperti pesona daya tarikmu menarik hati aku, iya… kamu!

Mari kita mulai perjalanan bersama ini kawan!

Hari keberangkatan pun tiba, kereta berangkat dari Stasiun Poncol Semarang untuk naik kereta ekonomi Matarmaja tujuan Malang. Keesokan paginya usai mandi di pom bensin dan sarapan kami melanjutkan perjalanan dari terminal Arjosari ke terminal Bayu Angga, Kabupaten Probolinggo menggunakan bis dengan estimasi perjalanan sekitar 2 jam. Berbekal informasi yang sudah kami baca dan simpan dari internet, kami pun bersikap layaknya sudah tahu medan ke Bromo dan memilih kendaraan umum bison menuju Cemoro Lawang yang merupakan desa terakhir Probolinggo.

Advertisement

Ketika mobil sudah terisi penuh, di sini pula kami bertemu dengan seorang turis asing bernama Mr. Rudi asal Belgia. Kami dan Mr. Rudi pun menjadi akrab selama perjalanan, suasana yang semakin sore membuat kami memutuskan menyewa home stay murah Rp.150.000,00 sehari semalam yang kami bagi berempat, murah bukan? Namanya juga lagi backpacker status mahasiswa pula, koceknya minimal kepuasan maksimal. Hehehe…

Sebuah kata motivasi mampu membangkitkan semangat tidak pernah putus asa untuk mencapai apa yang diinginkan dan kehidupan yang lebih baik.

Malam hari Mr. Rudi bertanya pada kami apakah ingin ke Penanjakan melihat sunrise? Kami yang sedari awal rencana tidak berniat melihat sunrise di puncak Penanjakan karena menuju ke sana jauh dan umumnya menggunakan mobil khusus atau kuda yang biayanya mahal, justru seperti memberi semangat dan keyakinan kepada kami bahwa kita harus ke sana dan melihatnya.

Kami pun jadi tertantang dan menerima tawarannya tetapi dengan berjalan kaki menuju Penanjakan. Tidak salah bila keyakinan dan semangat luar biasanya sebagai backpacker kami acungi dua jempol, karena Mr. Rudi ini sudah backpacker keliling ke beberapa negara di Asia Tenggara, Afrika dan Amerika Selatan ditambah ensiklopedia sebagai buku bacaan yang selalu dibawanya pergi.

Ketika jam menunjukan pukul 02.00 dini hari kami lekas bangun dari istirahat dan bersiap untuk ke puncak Penanjakan di saat orang lain masih terlelap tidur dalam dinginnya suhu 10 derajat Celcius, hanya bermodalkan pakaian seadanya, kami berempat mencoba melawan dinginnya dini hari di kawasan Bromo dan melewati gelap pekatnya hutan yang berkelok dan menanjak untuk mencapai view point guna menikmati sunrise dari gunung yang berada pada ketinggian 2770 mdpl.

Tanpa banyak berhenti agar badan tidak kedinginan, kami pun sampai di puncak Penanjakan sekitar jam 03.42 sembari menunggu sunrise kami pun duduk di sekitaran api unggun untuk menghangatkan tubuh. Menarik dan menantang memang, tetapi itu semua terbalaskan ketika sunrise yang diharapkan muncul dan Masya Allah indahnya ketika menatap langsung di hadapan kita.

Usai mengamati sunrise, para pengunjung termasuk kami berbondong turun dari puncak Penanjakan ada yang langsung bermain di lautan berpasir, bukit Teletubbies, melihat Candi yang menjadi rumah ibadah umat Hindu suku Tengger serta untuk naik ke Gunung Bromo melihat pesona kawahnya yang eksotis.

Hari semakin siang dan puas menikmati keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kami pun bergegas kembali pulang. Sampailah kami dan Mr. Rudi berpisah di terminal Bayu Angga, Probolinggo. Mr. Rudi memberikan sebuah sepatu dan jaketnya sebagai tanda pertemanan dan terima kasihnya pada kami selama backpacker di kawasan Bromo.

Ini menjadi pengalaman backpacker pertama yang begitu berkesan dengan banyak hal-hal menarik terjadi serta tantangan, tanpa kita ketahui seperti apa di dalam perjalanan untuk menjadikan kita bermental kuat mandiri. Semenjak kegiatan backpacker ini, dunia backpacker pun tumbuh menjadi sebuah hobi. Seiring waktu saya sering melakukan backpacker maupun traveling dengan budget minim atau terbatas ke berbagai kota lain di Pulau Jawa dan baru saja saya kembali dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) setelah kurang lebih 3,5 tahun lalu dan ternyata TNBTS sempat ditutup kurang lebih 3 bulan akibat aktivitas vulkanik Gn. Bromo.

Tiada lupa untuk bersyukur telah dititipkan surga kecil oleh Tuhan bernama Indonesia dan bangga akan kekayaan alam dan budayanya serta pesona wisata yang dimiliki tiap daerah.

-Love Indonesia-