Ada sebuah kutipan yang kubaca di sosial media yang banyak sekali di "share" dan di "like", sehingga sepertinya opini yang terbentuk adalah membenarkan isi dari celotehnya.

Demikian kutipannya :

"Cara terbaik menghukum orang adalah diamkan saja, tidak usah dipedulikan lagi. Itu menyakitkan sekali. Maka, bersyukurlah jika orang masih marah, menegur, menyindir, dsbgnya. Karena sekali kita dianggap angin lalu, kita seperti 'dihapus' dari muka bumi."

Lalu bagaimana kita berkomentar terhadap celoteh ini?

a : luar biasa pahit dan jahatnya orang ini……..

Advertisement

b : ooooh gue bangeeet……

c : betul betul betul

d : daleeem bangeet……

e : hadits nabi juga ada yang giniaaan……atau segudang komentar lainnya yang bersimpatik (mana ada hadits yang menerangkan begini …….hehe)

Saya tidak menyalahkan isi celotehnya, saya pun tidak mendeskreditkan makna apa yang terkandung di dalamnya, tapi saya ingin mengajak pembaca mengkaji dengan lebih arif sesuai tuntunan islam.

Saya sampaikan sebuah narasi :

Seorang lelaki jatuh cinta terhadap seorang gadis. Perasaannya tidak bisa disalahkan, yang terjadi adalah dia terlambat untuk mengharapkan cinta dari sang gadis. Lalu sang gadis membalas rasa cinta sang lelaki dengan perasaan marah, tidak tahu diri dan lain sebagainya. Lalu apakah sang gadis tahu sesungguhnya apa yang dirasakan oleh sang lelaki? Ttentu saja tidak! Yang dia fikirkan hanyalah kemarahan dan rasa dilecehkan."Pria Abu-Abu" si gadis menjuluki sang lelaki. Kenyataan ini menyedihkan bagi sang lelaki. Lalu sang gadis menulis celoteh :

"Cara terbaik menghukum orang adalah diamkan saja, tidak usah dipedulikan lagi. Itu menyakitkan sekali. Maka, bersyukurlah jika orang masih marah, menegur, menyindir, dsbgnya. Karena sekali kita dianggap angin lalu, kita seperti 'dihapus' dari muka bumi."

Sang lelaki tak pernah satu waktupun terlewat dalam doanya untuk melantunkan pengharapan yang baik kepada Rabbnya atas Habibah (yang terkasih). Lalu di ujung sujudnya dia bertanya kepada sang Pengasih, "Habibah, mengapa harus marah, membenci, lalu menghukum? Pantaskah kau menghukum sedangkan masih ada Allah, Al Hakim yang lebih berhak untuk menghukum?

Lalu sang lelaki bergumam, "Seandainya kau bisa melihat apa yang ada di dalam hati ini, niscaya kaupun akan menyesali dan meminta maaf kepadaku."

Aku pun akan berkata, "Tak perlu meminta maaf sayang, Allah sudah atur bahwa ketetapan-Nya kali ini adalah kita belum diberi kesempatan bersama. Bersabar adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri, ambil sisi baiknya saja apa yang ada di dalam diriku jika itu memang masih kau pandang baik"

Woooooow.., luar biasa menyedihkan lelaki ini. Saya pun sebagai pembaca merasa miris.

Demikian pendapat saya :

Mengambil hikmah dari kesalahan mungkin lebih baik dari pada tidak pernah merasa salah saudara-saudariku. Lalu apakah Allah memberikan nafsi pada manusia hanya untuk supaya manusia berbuat dosa? Nafsi adalah jiwa yang membuat kita hidup dan memiliki rasa ketenangan, kedamaian, kebencian, kegundahan, bahkan cinta.

Yang berhak untuk menghukum adalah "Al Hakim" wahai saudara-saudariku. Sebaik-baik kita adalah yang bisa memaafkan, adapun jika sulit cukuplah untuk melupakan kesalahan sesama saudaramu. Yang "salah" menurut mata manusia belum tentu "salah" di mata Allah, tetapi pun yang "benar" menurut kita belum tentu "benar" di mata Allah.

Lalu apa pesan saya?

Berlapang dadalah atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, semuanya tidak terlepas dari skenario Yang Maha Pencipta. Baik buruknya perjalanan adalah semata mata Atas Kehendak-Nya. Mudah mudahan bermanfaat bagi para pembaca, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Terre Liye dan Bang Joni Kurniawan Bin Hasan.