Tepat hari ini, sebulan kau menjadi suami dia. Aku sudah lupa, hanya kebetulan teringat karena melirik kalender yang ada di meja kantorku. Kau apa kabar? Aku berharap sudah bahagia dengan dia. Sebulan yang lalu tepat di tanggal ini, aku hancur lebur karena rasa. Kehilangan harapan pun kehilangan mimpi. Aku tidak melupakanmu, malah aku menikmati kenangan yang terulang kembali setiap lewat atau kebetulan mampir ke tempat yang dulu pernah aku kunjungi bersamamu. Aku baik-baik saja disini. Meskipun kau tak peduli kabarku lagi.

Dulu kau datang menawarkan aku untuk menjadi teman hidupmu. Aku yang saat itu masih rapuh karena baru sembuh dari patah hati sebelum kamu, mencoba yakin menerima tawaranmu. Hari berganti hari, aku yang kau kenal cuek di awal menjadi begitu takut kehilanganmu. Sedangkan kau yang begitu mengejarku di awal, semakin memudar perhatianmu. Sudahlah, beberapa lelaki memang begitu. Adrenalinnya teruji ketika apa yang ingin dimilikinya belum termiliki, aku mengerti.

Setelah sebulan pernikahanmu, aku seperti mempercepat putaran waktu. Tidak aku tanya pada diri tentang seberapa dalam patah hatiku. Aku pun acuh tak acuh. Menghabiskan waktu dua puluh empat jam untuk segala kegiatan di luar rumah. Aku menghindar menjadi sendiri. Kamar tidurku hanya untuk istirahat malam. Aku tak lupa makan, malahan semakin banyak makan. Aku lebih sering membeli produk care beauty, padahal kau tau aku tak terlalu berminat berdandan. Aku perbanyak tertawa, apapun itu ku anggap lucu. Sampai pada hari ini, aku lupa sudah berapa jauh aku berlari. Sudah tak terasa lagi perih di hati. Dan ketika aku mendengar namamu atau sekedar tentangmu lewat di berandaku, aku sudah merasa biasa saja.

Sebenarnya bukan cuma aku yang kau remukkan hatinya, tetapi keluargaku juga, orangtuaku pun harus ikut merasa perih gagal melihat anak gadisnya duduk di pelaminan bersama orang yang dengan lancang datang meminta anak gadisnya. Kau tenang saja, luka keluargaku sudah aku obati. Hati orang tuaku sudah aku balut lembut dengan janji aku akan tetap bahagia dan suatu hari nanti akan bertemu yang terbaik untukku. Sudah, aku tak ingin usik kau maupun dia, istrimu. Berbahagialah kalian, aku doakan menjadi sakinah mawaddah warrahmah. Jika kelak kau punya anak perempuan, jagalah anakmu. Jangan biarkan ada lelaki yang menyakitinya, seperti bapaknya dulu menyakiti aku. Atau jika anakmu nanti laki-laki, ajarilah anakmu. Tentang bagaimana seorang laki-laki berkomitmen dengan ucapan dan perbuatannya. Agar tidak ada anak perempuan yang akan dia sakiti nanti. Kau ada di sana, di tempat kenangan. Salam buat istrimu. Doaku selalu tentang bahagia kalian.