Jika pohon merindukan hujan saat musim panas. Sama halnya dengan diriku yang merindukanmu, di kala kekosongan hati menghampiri. Butuh waktu bagiku tuk yakin, akan pilihanku merindukanmu.

Kehadiranmu kala itu seakan membawa kesejukan bagiku. Bagai hamparan tanah yang kering dan tandus, kemudian datang hujan dan membawa kesejukan. Menumbuhkan rumput-rumput yang telah mengering dan mati. Menumbuhkan semangat tersendiri, akan jalinan kasih denganmu lagi.

Wajahmu yang teduh dilapisi senyum merona dari bibirmu yang merekah. Membuat hatiku luluh akan dirimu lagi. Entah harus bagaimana aku mengendalikan diriku ini.

Tentang perasaan yang tumbuh bagai benih yang menemukan tanah subur.

Tentang rumput-rumput yang bergoyang gembira ketika diterpa angin.

Tapi semua seakan berubah tiba-tiba. Saat kukira hadirmu kali ini akan lama, akan tinggal dan takkan pernah pergi lagi.

Advertisement

Nyatanya…

Kamu pergi…

Seakan laut yang tiba-tiba surut karena kehilangan purnama. Begitupun kamu yang hilang tiba-tiba membuatku seakan larut dalam kesedihan. Akupun tak mengerti apa isi hatimu yang kala ini pergi meninggalkanku tanpa jejak.

Mungkin benar kata seorang pujangga, bahwa datang pasti akan pergi…

Awal kan berakhir dan bertemu akan berpisah…

Akhirnya kata-kata itu seakan memenuhi setiap ruang di otakku dan membuatku sadar.

Bahwa kepastian akan pergimu sejalan dengan hadirmu yang tiba-tiba.