Aku…

Berjalan menyusuri jalanku sendiri yang telah di buat-Nya. Bertemu ribuan orang yang aku pun tak tahu tujuan-Nya apa. Hanya bisa terus berjalan, menyusuri jalan cerita sang sutradara kehidupan. Jatuh bangun telah ku lewati tak hanya soal hati. Kehidupan yang benar-benar menarik ulur hati memberi pembelajaran yang sangat berarti.

Kamu…

Juga demikian, menyusuri jalanmu sendiri. Bertemu ribuan orang yang awalnya akupun tak menemui mereka. Bersama, membangun sesuatu yang menurutmu dulu "selamanya" dan ternyata tidak. Kalah dengan takdir yang juga telah di tuliskan-Nya.

Kita…

Advertisement

Aku kira hanya sekedar menyapa seperti halnya ribuan orang yang aku temui sebelumnya. Toh status kita sama. Sama-sama memiliki cerita dengan sosok yang lainnya. Meski aku tahu ceritamu tamat setelah beberapa waktu aku mengenalmu. Dan setelah itupun kamu pergi. Kita baru saja bertemu dan kamu pergi. Aku kira kita tidak akan bertemu lagi. Aku kira cerita kita telah selesai, 'TAMAT'. Dan ternyata… Aku salah.

Tuhan melanjutkan kisah kita. Yah Tuhan melanjutkannya!

Setelah 1 tahun kepergianmu dan kamu datang kembali. Tentu saja ini bukan untukku. Kita hanya teman, partner kerja lama yang kini bekerja sama kembali. Tak seperti sebelum-sebelumnya, kini kerjasama kita di warnai dengan ke-isengan teman-teman kita. Ke-isengan yang membawa kita ke percakapan yang lebih intens dan lebih mengenal satu sama lain. Dan dari sinilah cerita 'kita' berawal…

Tiada hari tanpa saling bertukar kabar. Dari mulai awalnya hanya menyapa, saling membalas perhatian, dan tak lupa bertukar foto selfie untuk sekedar keisengan kita berdua. Kita memang satu perusahaan, tapi kamu bertugas di luar kota sedangkan aku stay di sini. Itulah mengapa kita sering bertukar cerita dan menamainya dengan kata 'rindu'.

Menabung rindu katamu. Istilah yang sering kamu utarakan saat kita berjauhan. Dan.., entah mengapa hatiku berbunga-bunga dibuatnya.

Aku tak tahu sejak kapan rasa ini ada.

Dan kamu pun juga tak pernah menyadarinya…

Hari demi hari berlalu tanpa sedikitpun memberi celah untuk berhenti mengenalmu. Sampai kini pun aku tak tahu apa sebenarnya maksud dari hadirmu di kehidupanku. Aku yang masih meraba sosokmu. Masih mencari tahu siapa dan bagaimana dirimu. Semakin lama semakin tahu dan entah mengapa aku justru semakin mengagumi sosokmu. Tak melulu baik mu yang terungkap, justru sebaliknya. Kekuranganmu yang kian kamu tunjukkan.

Dan tahukah kamu, hati ini tak pernah bergerak mundur.

Kini aku cuma bisa berharap Tuhan segera menunjukan jalan-Nya. Apakah cerita 'kita' akan selesai (TAMAT) atau justru akan ditulis skenario berikutnya yang lebih indah.

Dari aku, yang tak pernah tahu hadirmu…