Sebelum aku terlahir ke dunia ini, Tuhan mengirimkan seorang malaikat yang akan mengantarkan dan menemaniku selama di dunia. Sebelum aku menghirup udara di bumi, terlebih dulu aku menghirup udara di sebuah tempat di dalam tubuh malaikatku, rahim nama tempatnya. Tempat yang nyaman, tenteram, dan jauh dari dosa. Tapi tetap saja aku begitu penasaran dengan dunia di luar rahim.

Aku ingin rasanya segera keluar dari tempat yang dinamakan rahim ini. Namun, malaikatku pernah cerita bahwa beliau takut sebenarnya melahirkanku ke dunia ini. Kata beliau, “Dunia akan lebih kejam nak daripada yang kau kira. Aku takut jika tak bisa menjadikanmu soleha. Tapi dirimu adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan padaku".

"Semoga aku bisa menjaga dan merawatmu hingga kau tumbuh menjadi gadis yang soleha”. Itulah malaikatku. Penuh kebaikan hati bak berlian. Rasanya aku tak sabar untuk segera terlahir ke dunia ini dan bertemunya. Dan akhirnya, sampailah pada saat kelahiranku datang. Aku terlahir ke dunia ini dengan penuh pengorbanan malaikatku. Dan kini kutahu siapa malaikatku itu, dia lah Ibu. Nama terindah di dunia ini. Begitu bahagianya diriku bisa memiliki, memeluk, dan melihat wajahnya. Seiring berjalan waktu, Ibu telah merawat dan membesarkanku hingga kini aku beranjak dewasa.

Namun, setiap melihat tetesan keringat kerja kerasmu merawatku, tersirat pertanyaan yang ingin kuajukan padamu…

Ibu, sempat aku terpikir, sudah kah diriku membuatmu bangga? Ibu selalu menjadi kebanggaan buatku. Tapi, apakah aku kebanggaan buat ibu? Kuingin ibu tahu, apapun yang aku lakukan hanya untuk membuatmu bangga karena telah melahirkanku ke dunia ini.

Advertisement

Ibu, seringkali diriku membuatmu sedih, kesal, kecewa, dan marah, tapi dirimu kenapa tak menampakkan kekesalanmu itu padaku bu? Hanya tersenyum dan memberiku nasihat. Kuingin ibu tahu, bahwa ibu adalah malaikat tanpa sayapku yang dikirimkan Tuhan untukku sejak sebelum aku dilahirkan.

Ibu, rasanya ingin segera aku menggantikanmu mencari nafkah. Sejak aku kecil, ibu sudah menjadi ayah dan ibu sekaligus buatku. Bukan hal yang tak mudah. Mungkin, jika orang lain sudah berputus asa, tapi tidak bagi dirimu ibu. Setiap ibu usai kerja, ibu masih saja menyiratkan senyuman termanis di wajah untuk menyambut anakmu ini di rumah. Namun ku tahu bu, rasa capek yang luar biasa yang selalu ibu rasakan selepas kerja. Lagi, ibu tak pernah mengeluh dan menampakkannya ke anakmu ini. Begitu sakitnya diriku yang tak bisa berbagi keletihanmu itu, tak bisa mendengar keluh kesahmu.

Ibu, jika ada kata lebih dari terima kasih, kan kuberikan hanya untukmu..

Ibu, terima kasih telah menjadi malaikatku sejak masih dalam kandungan. Jika kelahiranku menjadi anugerah buatmu, begitu pula dengan kehadiranmu juga menjadi anugerah terindah buatku. Ibu, terima kasih atas perjuangan dan kebaikan yang kau telah beri selama ini. Kebaikanmu sama halnya bintang di langit yang tak bisa kuhitung. Hanya doa, doa, dan doa yang terbaik yang selalu kupanjatkan untukmu.

Ibu, jika di dunia ini orang berlomba-lomba mencari harta yang melimpah, tidak bagiku ibu. Dirimu adalah hartaku yang paling berharga dan tak ternilai. Kehilangan uang, permata, berlian, emas, dan sebagainya bisa dicari gantinya. Namun, kehilanganmu ibu? Sama saja aku kehilangan separuh nyawaku.

Ibu, jika di dunia ini pula banyak orang mengidolakan artis, tidak bagiku. Ibu tahu aku mengidolakan siapa? Bahkan presiden pun tak bisa mengalahkan idolaku yang satu ini. Ya, Ibu adalah idolaku. Aku berharap, kelak dapat menjadi sosok ibu bagi anak-anakku seperti Ibuku. Ibu adalah Idolaku sepanjang masa.

Ibu, diriku selalu berdoa pada Tuhan agar dirimu sehat selalu dan diberi umur yang panjang. Aku ingin ibu menemaniku lebih lama. Aku ingin ibu melihatku sukses, menikah, dan memberikan cucu buat ibu. Aku tidak pernah terpikir jika kelak ditinggal ibu untuk selamanya. Memikirkannya saja sudah membuatku menangis bu. Bukan aku ingin menentang takdir Tuhan bu, hanya saja aku tak sekuat hati ibu. Aku yakin akan rapuh jika harus kehilanganmu ibu. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain dirimu. Biarkan Tuhan yang tahu saat yang tepat untuk memanggilmu.

Ibu, Ibu, Ibu, aku sangat bangga memanggil namamu. Aku sangat berharap dapat memanggilmu terus dengan nama itu. Ibu harus selalu tersenyum dan bahagia, hingga Tuhan memanggilmu dan mengakhiri tugasmu menjadi malaikatku. Walaupun kelak dunia kita berbeda, tapi ibu akan selalu menjadi malaikat tanpa sayapku, hari ini, esok, dan selamanya.