Kisah tiga tahun silam adalah kisah sempurna dalam hidupku, perkenalan yang menjadi sebuah hubungan persahabatan yang intens merupakan hal yang tak akan pernah aku sesali. Tapi sekarang, semua hal indah itu seperti sudah menjadi kenangan dan terkubur dalam-dalam… mungkin saja.

Tak mudah rasanya melupakan semua kenangan yang telah melekat dalam jiwa, bersatu dengan raga, kenangan itu abadi bukan seperti foto-foto dalam laptop, camera digital or smartphone kita yang bisa dengan sengaja dilenyapkan dengan sekali klik, atau bahkan bisa saja dengan sadis diamuk virus bedebah. Bukan seperti itu, karena kenangan bukanlah sesuatu yang bisa dihapus walau oleh sebagian orang mengutuk kehadirannya.

Persahabatan kita sudah bak satu keluarga saat itu, kepedulian, perhatian, saling menghormati serta saling menjaga membuat pondasi hubungan kita kokoh layaknya karang walau berada ditengah-tengan lautan, walau mendiami sebuah pulau kecil namun pesonanya luar biasa, diantara orang-orang asing yang kemudian juga menjadi keluarga . Yach, tempat inilah yang aku rindukan sekarang. tempat pertama aku mengenal kalian yang punya tujuan yang sama demi mencerdaskan anak bangsa. Desa dengan nama yang aneh, Desa Nyamuk, merindukan rumah kita, canda tawa, bukit yang jauh itu (tempat kita berkomunikasi dengan orang-orang tercinta kita) yang akhirnya kita namai "Gunung Cinta or Gucin), merindukan hal-hal yang absurd yang pernah kita buat bersama, saling kejar-kejaran seperti anak-anak (padahal sudah jadi Bapak & Ibu Guru) rekreasi kepantai-pantai yang luar biasa indahnya, bakar ikan, mandi air asin atau juga air tawar di Air terjun Temburun dan juga kekonyolan lainnya yang bisa membuat kita senyum-senyum sendiri ketika dia terlintas dibenak kita. Aku rindu itu, Aku ingin kembali ke masa itu, bersama kalian orang-orang hebat yang membuat hari-hariku bermakna, Ada Ali n Ojan yang ganteng, bang Dede n Bg Supri yg bijak, kak Lisa yang smart, Imah yang rempong (konco sejati), dan juga Yani yang care n Kind (my roommate). I love u All. Wo hen xiang nimen, nimen bu xiang wo ma????

But, Kenapa sekarang kita berubah??? mungkin hanya aku yang rasa. Apakah kesibukan mewakili kesombongan kita untuk saling ber SAY Hi?? Bukankah dulunya kita bersahabat? Aku tahu hidup kita punya garis hidup masing-masing, punya kesibukan masing-masing, tapi bukankah silaturrahmi masih bisa kita rajut? Bukankah kita sudah hidup dijaman Modern dimana Telepon, SMS, WA, Facebook, or BBM sudah membahana? Dunia sudah diujung jari tapi kenapa bisa saling melupakan hanya karena kita berjauhan???? Miss U all…. salam terindah buat kalian yang pernah berjuang bersama.