Ini musim hujan pertama aku tak bersamamu. Kau tahu, ini juga menjadi musim hujan paling sepi karena tidak adanya kamu. Sepi ini paling menyakitkan kawan. Tawamu di tengah hujan menyayat hatiku yang mendengarnya setiap kali desember tiba. Kali ini aku tak mendengarnya.

Berkelana dimana kau saat ini? Kenapa kau menghilang begitu saja seperti hantu?. Bukan apa-apa, aku mengkhawatirkanmu. Terakhir kulihat kau tak lagi bersinar. Cahaya dirimu meredup bersamaan dengan kepergiannya. Gairahmu hidup tak seperti biasa. Keyakinanmu menantang dunia juga Semangat itu sirna dalam dirimu,.

Padahal dulu kau selalu memukulku dengan semangat itu saat aku kelelahan menghadapi kekejaman dunia ini. Aku merindukanmu yang keras kepala dan ambius gila.

Hai kamu yang ingin sekali di sebut sebagai Soekarno junior…. Kembalilah. Tak Hanya aku yang merindukanmu tapi kita semuanya. aku yakin gadismu itu juga.

Apa hebatnya dia yang mematikanmu hidup-hidup. Seperti katamu bukan? Hidup ini indah jika kita ikhlas menikmatinya. Kau pasti juga bisa mengikhlaskannya. Kau hanya perlu waktu saja.

Advertisement

Cinta butamu itu sudah membutakan logikamukah? hingga kau senekat ini?. Apa kau lupa mimpi kita dan yang lainnya tentang negeri dongeng?. Aku tengah mengusahakannya, lihatlah temanmu ini sudah memiliki keyakinan gila sepertimu. Bahkan sudah berani memimpikan berbagai hal yang tak masuk akal.

Percuma sajaperjuanganmu selama ini jika kamu menghilang seperti ini. Untuk apa pencapaianmu ini kawan? Hasilnya sudah di depan mata. Ayolah jangan lama-lama memusuhi patah hatimu itu.

Pria tampan yang melarang setiap temannya untuk jatuh cinta padamu. Kami semua menyayangimu. Bukankah hidup bukan hanya soal dia yang kau cintai saja. Kau memiliki kami….. teman kawan juga sahabatmu.

Pria baik dengan sejuta kebaikannya. Kami yakin kau akan segera di pertemukan gadis yang lebih baik darinya. Tuhan telah berjanji kan. Pria baik untuk wanita baik atau sebaliknya. Kau hanya perlu bersabar dan menunggu.

Lihat… senja ini selalu menunggumu untuk kau lukis di atas kanvasmu, bangku taman ini tak menerima siapapun yang mendudukinya kecuali kamu. Tumpukan buku di mejamu itu menunggu untuk kau baca. Kami semua menunggu untuk kau nasehati dan semangati kembali. Jus jeruk buatan mbo nah tak ada yang menghabiskannya. sop ayam buatan mamamu selalu terbuang percuma. COKLAT panas yang selalu kubelikan tak ada yang meminumnya. Bahkan anggrekmu mati tak ada yang merawatnya.

Jika kamu marah dengan perpisahanmu dengannya marahlah. jika kamu masih ingin sendiri juga tak apa. Jika kau ingin memulihkan rasa kecewamupun kami pasti mengerti. Tapi jika kamu membaca ini segeralah kembali. Kami menunggumu.