Hai kamu yang disana, apa kabarnya?

Untuk para hati yang mulai beradapatasi maupun yang ahli dalam rasa sendiri.

Bagaimana keadaanmu? Dingin? Sepi? Ya begitulah kita disini.

Tak terasa bulan puasa sudah habis setengahnya. Dirimu masih saja dalam kondisi yang bisa dibilang sepuh dalam menanti. Tak berjenggot atau tinggal digoa yang tinggi, kau sudah hafal bagaimana menghadapi rasa sendiri. Apalagi di bulan penuh kebahagiaan ini. Engkau masih sendiri. Mencari sebelahnya lagi, yang tak kunjung bertemu atapun parahnya malah ditinggal pergi. Sahur tak ada yang menemani, sore hari tak ada yang mengisi kursi kanan ataupun kiri.

Tenang saja, soal menanti. Kita berada dalam keyakinan yang sama. Berbagai cerita menghiasi hati kita yang mendamba sebuah rasa. Kau dan aku, sebutlah kita, sedang dalam keadaan statis menyoalkan rasa cinta, katanya sih cinta. Sebongkah kata atau benda atau bisa kalian deskripsikan sendiri sesuai imajinasi kalian. Cinta. Tahu apa kita tentang cinta. Katanya dalam cinta tak ada yang namanya logika. Katanya dalam cinta, bersiaplah untuk menderita, katanya dalam cinta adalah sumber bahagia, katanya. Katanya lagi atau memang faktanya kita berada dalam siklus cinta yang tak bisa kita hindari. Tiap detik, entah berapa orang di dunia ini saling jatuh cinta. Tiap detik pula sekian banyak pasangan yang memutuskan berpisah karena tak lagi saling cinta. Maka, termasuk golongan apakah kita yang belum mendapat apa itu cinta? Ironis yah.

Advertisement

Cinta adalah penyakit. Yang anehnya, manusia ingin sekali terjangkit olehnya.

Mempermasalahkan masalah bersama. Soal kesendirian yang tak kunjung menjadi kebersamaan. Entah kita korban dari besarnya kuasa cinta atau mungkin cinta belum melihat eksistensi kita di dunia, tak masalah, ada yang dapat kita pelajari dari rasa sendiri. Untuk lebih halusnya, mari kita ubah kata rasa sendiri dengan masa menanti, biar tak ada yang merasa semakin pilu akan kondisi yang sedang dialami.

Cerita dari para hati yang dalam masa menanti beragam kisahnya. Ada yang memang sedari dulu tak kunjung tahu menahu, ada yang sudah merasakan nikmat cinta dan akhirnya jatuh sedalam dalamnya dan ada pula yang sedang berjuang mendapatkan cinta. Dan ujung ujungnya, statusnya seperti bayi yang terlahir ke dunia, sendirian lagi. Mari sedikit lebih bijak dalam masa menanti. Masa yang sebenarnya bisa dibilang masa yang paling tepat untuk menempa diri. Cobalah tengok para hati yang masih sendiri. Mereka itu kuat, disaat orang orang saling suap-menyuap makanan, ia bisa menyuap sendiri dengan tangannya, tanpa bantuan kalimat motivasi pesawat mau lewat dan sebagainya. Mungkin itu versi lucunya, namun benar kok, mereka kuat. Mereka mempersiapkan diri untuk masa nanti. Di mana ketika mulai berusaha menjadi lebih baik dari pribadi sehari sebelumnya, tak jarang rasa pedih menghampiri. Mereka menyembuhkan luka itu sendiri. Mereka mengusap keringat perjuangan itu seorang diri. Dengan semangat dari hati kecil yang kian besar, mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas dalam masa menanti.

Jika kita ingin mendapatkan yang terbaik, bukankah tak mengherankan menjadikan usaha untuk mendapatkannya dengan cara yang terbaik.

Bagi para hati yang sedang mencari belahan hati yang satu lagi ataupun mencoba kembali mendapatkannya lagi. Luangkan sejenak untuk setidaknya menempa diri dan memantaskan diri. Apa salahnya menjadi versi terbaik dari diri sendiri kalau itu nantinya untuk belahan hatimu yang kau pilih yang paling baik pula. Jika mungkin kau sekarang masih super saiya 2, cobalah untuk jadi super saiya 4. Biar nanti hatimu yang satunya lagi tak khawatir akan masa depannya bersamamu. Menjadikan diri lebih baik untuk pasanganmu kelak adalah suatu hal yang mulia. Mungkin berat kau masih berjuang sendiri dalam hari-harimu, tapi yakinlah usaha dan niat yang teramat baik akan mendapatkan hasil yang baik pula. Bukannya kau, bahkan kita sendiri ingin memberikan yang terbaik bagi mereka yang mengisi relung hati? Selamat menanti wahai para hati.

Siapapun engkau, tak tahu di mana ataupun bagaimana rupamu. Ada hati yang bersiap menjemput dengan segala kehebatannya. Siapkan dirimu, karena yang terbaik tidak datang begitu saja.