Satu yang ingin aku tanyakan, apa kabarmu? Apa kabar bapak ibumu? Kuharap semua baik dan sehat. Jujur, aku merindukan nasihat-nasihat ibumu.

Banyak hal yang telah terjadi, setelah sore itu kamu bergegas meninggalkanku. Ya, tak usah kau tanya lagi, yang pasti, keadaanku sebaik sekarang ini, seperti yang kau lihat. Jangan tanya seperti apa kondisiku kemarin, hingga akhirnya aku bisa berdiri segagah ini sekarang.

Aku menulis ini bukan untuk berharap kamu bisa kembali lagi, sama sekali bukan. Aku menulis ini karena memang aku ingin berbagi kebahagiaanku ke kamu, ya, kita masih berteman baik kan? Tidak ada salahnya aku berbagi sukaku sekarang, setelah dulu aku sering berbagi dukaku.

Sebenarnya aku ingin berterimakasih sekali denganmu, sewaktu aku berada di posisi tersusah ketika menjadi “orang” kamulah yang selalu ada. Bak seperti asisten pribadi, mengantar kemanapun ketika sibuk mencari kebutuhan. Sedia selalu ketika aku membutuhkan. Dan sekedar melepas penat dengan refreshing ke kota sebelah.

Ya, itulah kita dulu yaa, “kita yang dulu”. Masih ingat? Kamu yang terbiasa dengan kecerewetanku, kamu yang terbiasa dengan keribetanku. Yaa, mungkin sampai saat ini, masih kamu yang menduduki peringkat pertama tentang seseorang yang bisa mengerti “aku”. Tapi STOP, aku perjelas lagi disini, aku bukan untuk berharap kamu kembali lagi. Aku hanya sedikit mengingat masa-masa itu, masa dimana, aku yang dulu sangat bergantung denganmu.

Advertisement

Aku tidak ingin panjang lebar dengan kenangan-kenangan pahit kita dulu, sekali lagi aku hanya ingin berbagi kelancaran hidupku saat ini, yang walau tanpa kamu, ya sekali lagi “tanpa kamu”. Dan aku pastikan saat ini, aku bangga dengan diriku, kalau akhirnya aku bisa menghilangkan sifat yang bergantung denganmu.

Dan masalah baper-baperan, aku sudah sangat khatam akan hal itu. Ya, bodoh kalau jika sampai saat ini aku masih merasakan rasa baper itu. Aku tau, mungkin aku sudah disibukkan dengan kesibukanku sendiri, hingga rasa sakit hati pun pergi dengan sendirinya. Sekarang aku hanya perlu membiasakan diri, untuk sendiri.

Satu hal yang paling aku sangat sayangkan, ketika kamu pergi, malah saat ini aku bisa melunasi harapan-harapan dan keinginan-keinginanku yang dulu pernah aku utarakan ke kamu. Padahal aku tau, harapan dan keinginanku ini bisa kucapai juga besar persentase juga adalah karenamu. Ya, kamulah orang dibalik layar kesuksesanku. Tapi malah, kamu pergi disaat aku bisa meraih harapan dan inginku, sangat kusayangkan itu.

Tapi aku tau, aku tidak bisa lagi merubah. Aku juga tidak ingin berbuat apa-apa. Aku hanya ingin mengucapkan Terimakasih teramat sangat kepadamu, aku berdoa, semoga kita bisa sama-sama menemukan orang yang bisa lebih mengerti kita, lebih sejalan dengan kita, dan lebih membahagiakan kita. Sekali lagi terimakasih dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sudah memaafkanmu. Semoga kaupun juga.

Salam dari orang yang tak akan melupakan jasa-jasamu.