Hai Kamu, Tempat Berbagi Kisahku.

Lama tak jumpa denganmu, membuat kumerindukanmu. Namun apalah arti kata rindu itu, jika hampir setiap Minggu kau selalu menyempatkan diri mendengarkan ocehanku.

Perkenalan antara kita tak pernah kusangka. Kupikir, hanya perkenalan singkat yang terjadi, mungkin hanya bertahan dalam hitungan hari. Namun ternyata, meskipun ribuan hari telah berganti, kamu masih tetap berada di sini.

Rasa bahagia tak bisa ku sembunyikan, saat layar telepon genggamku menyala dan namamu terpampang jelas di situ. Ingin segera ku geser ke kanan icon telepon berwarna hijau dalam layar telepon genggamku, dan segera berbicara denganmu. Namun sayang, tak jarang aku mengabaikan panggilanmu itu, karena memang banyak alasan yang menjadikanku tak mengacuhkan panggilan selularmu.

Kesibukanku dan kesibukanmu menjadikan kita sebagai teman yang terpisah oleh jarak dan waktu. Semasa masih sekolah dalam kota yang sama dulu, boleh dibilang kita tak terlalu peduli dengan jalinan pertemanan ini. Kamu dengan duniamu, aku dengan duniaku. Setengah tahun sekali pun belum tentu kita saling menghubungi. Menanyakan kabar satu sama lain, atau bahkan menyapa pun juga jarang, kecuali sekadar sapaan sebagai formalitas di saat tertentu saja, di hari ulang tahun kita misalnya. Itu pun sudah membuatku bahagia. Bagiku hal sesederhana itu masih mengindikasikan bahwa masih ada rasa peduli di antara kita.

Advertisement

Sekarang, setelah sekian lama kita tak saling bertemu, lagi-lagi aku masih merasa bahagia, karena aku rasa kamu cukup perhatian dengan pertemanan kita. Semenjak kamu ditugaskan bekerja di pulau seberang sana, dan aku diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar kota kelahiran kita, mulai tumbuh lagi keinginan untuk saling menyapa. Tak sekadar menyapa, memanggil nama. Tak ada salahnya, kesempatan ini kita manfaatkan untuk saling berbagi cerita. Dan dari situlah semua ini bermula.

Kita bernostalgia. Berbagi cerita suka, duka, canda, dan tawa. Saling mengisahkan jalan hidup yang telah, sedang, maupun yang ingin kita lalui. Banyak yang mengira kita memiliki hubungan istimewa. Saat ada yang bertanya tentang hal itu, senyumin aja. Tak dapat aku pungkiri, jika sebenarnya dalam hati aku khawatir jika hal itu terjadi. Aku mencintaimu, lebih dari sekedar menjadi temanku.

Tak tahu kenapa, aku merasa risih jika keakaraban kita selalu dikait-kaitkan dengan hubungan istimewa, berujung pada asmara. Bagiku, pertemanan ini akan lebih istimewa jika tak disangkut-pautkan dengan masalah asmara. Namun, apalah daya. Sekuat aku mempertahankan rasa ini hanya sebatas teman, pada akhirnya aku juga harus tunduk atas apa yang telah digariskan-Nya. Untuk saat ini, aku hanya berusaha mengikuti alur yang telah direncanakan Tuhan.

Berbagi cerita denganmu di kala aku merasa sendu adalah suatu hal yang sangat aku tunggu. Tanpa jaim namun dalam batasan yang wajar, kita saling menceritakan apa yang telah terjadi dalam hidup kita.

Aku dan kamu, begitu pun seterusnya. Jalinan pertemanan yang selama ini kita jalin seakan menjadi saksi adanya dua hati yang saling mencintai namun tak bisa memiliki. Mengisyaratkan aku dan kamu terjebak dalam zona yang dinamakan friendzone. Suatu hubungan pertemanan istimewa yang bisa dibilang mengesampingkan perasaan cinta yang tumbuh di hati, demi menjaga relasi yang cukup lama ini.

Terima kasih telah memotivasi, terima kasih telah menginspirasi. Kamu, sang teman sejati.