Aku dan kamu, kita adalah dua orang yang berbeda dan berada di tempat yang berbeda namun kita sama dalam satu hal yang entah itu dalam hal apa. Apa kau merasakannya? Atau ini hanya perasaaanku saja? Hai kau! Rindu ini perlahan akan menghabisi stock oksigen dalam paru-paruku. Jarak ini mengecewakanku, tapi aku takut kau lebih kecewa jika melihat diriku.

Hingga saat ini aku masih tidak mengerti kenapa aku begitu ingin bersamamu, ada banyak lelaki di sini tapi kau yang di sana, kenapa kau begitu menyita. Aku merasa cemburu pada wanita yang kelak bersanding denganmu. Sungguh aku cemburu. Kau tahu, sebelumnya aku mencari seseorang yang bertahun-tahun telah hilang dalam hidupku, aku menemukannya tapi aku juga menemukanmu. Hari-hari sempat terlewati dengan perasaan aneh bersamamu.

Apa kau juga merasakan? Tawa, canda, dan cerita kukira sedikit membuatku tahu tentang dirimu. Tapi aku salah, kau adalah lelaki yang sulit. Sulit untuk aku masuk ke dalam kehidupanmu. Kau sangat misterius. Kau pandai menutupi suasana hatimu. Kau sadari atau tidak kau begitu rapat menutup dirimu.

Tentu saja tidak mudah bagimu dan mungkin bagiku juga untuk terbuka satu sama lain, bagaimana bisa aku dan kamu memahami siapa diriku dan dirimu sedangkan kita tidak pernah bertemu setelah belasan tahun. Kau bahkan mungkin tidak membuka dirimu kepada orang-orang disekelilingmu kecuali dia telah memiliki peran penting dalam hidupmu. Kau bahkan tidak memiliki memori tentangku.

Tapi aku punya. Wajahmu tidak berubah. Kecuali beberapa bekas jerawat di wajahmu. Selama ini hanya handphone yang menjadi media kita berkomunikasi. Tapi aku tidak bosan. Apa kau bosan? Jarak yang jauh dan urusan kehidupan kita masing-masing membuat hubungan kita tidaklah mulus. Sesungguhnya, aku bisa saja berjuang, mengusahakan kita bisa bertemu walau sekali, sekedar untuk melihat secara langsung seyummu yang selama ini telah membiusku walau hanya di foto atau video call.

Advertisement

Tapi, nampaknya semua sia-sia karena kau menganggapnya semua akan sia-sia. Kata-kata, “terlalu jauh” yang acap kau katakan padaku membuatku tidak gentar namun rupanya itu membuatmu pesimis. Sebenarnya semua itu tidak menjadi masalah selama ada tekad untuk bersama. Namun nampaknya aku sendiri yang terlalu bersemangat. Terlalu bersemangat untuk memiliki hidup bersamamu.

Hai Kau…apa kau membaca ini? Jika iya aku akan bercerita. 11 Agustus 2015 itu pertama kalinya kita berkomunikasi. Aku berusaha keras membuatmu ingat siapa aku tapi rupanya kau buruk dalam ingatan :p. Hari berganti hari, kau membuatku menjadikanmu seseorang yang bisa untuk diajak berbagi segala cerita. Jujur saja aku bukan tipe orang yang mudah bercerita kepada orang lain sekalipun dia teman dekatku.

Tapi keberadaanmu mematahkan salah satu prinsipku itu. Jika orang lain akan memandang aneh atau mengerutkan keningnya jika mendengar ceritaku, tapi tidak denganmu kau merespon segala bentuk ceritaku dengan tulus. Ya…meski itu bisa jadi hanya pemikiranku saja karena aku tidak bisa melihat wajahmu saat itu juga. Tapi semua terlihat jelas dari setiap pesan yang kau kirim untukku.

Jika aku bercerita tentang hal gila, kau akan menambahnya semakin gila. Jika cerita itu tentang rasa gembira, kau akan membuatnya semakin gembira. Jika cerita itu tentang kesedihan, kau akan mengubah cerita itu menjadi suatu kebahagiaan yang akan datang suatu hari nanti. Kau membuat wanita yang memiliki imajinasi tinggi sepertiku ini, semakin yakin akan sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan.

Namun sayang, nampaknya kau tidak menanamkan hal itu pada dirimu. Mudah bagimu untuk mengangkat seseorang dari kesedihannya, namun saat itu terjadi padamu sulit kau lakukan. Aku tidak tahu ini benar atau salah tapi ini konyol bagiku, saat kau mengatakan ‘Aku sayang kamu’. Jujur saja aku tidak merasakan apa-apa. Karena bagaimana bisa kau mengatakan hal itu pada orang yang tidak pernah kau jumpai setelah belasan tahun. Aku berfikir bahwa itu hanyalah perasaaan sesaaatmu. Dan aku tidak berharap banyak.

Namun aku menengok kembali saat kita bercanda lewat chat dan telefon, bagaimana kau berusaha menghiburku, dan bagaimana kau berusaha menunjukkan dirimu apa adanya meski aku tidak bisa melihatnya namun aku merasakannya. Kesederhanaanmu, apa adanya dirimu, dan seyummu yang menawan itu. Membuatku tidak bisa mengabaikan apa yang terlanjur kudengar itu.

Aku mulai menaruh harapan. Aku mulai memperhatikanmu dan aku mendapati rasa, diriku nyaman bersamamu. Aku mulai gila saat tak ada kabar darimu. Kini, hanya sebuah harapan, ‘aku ingin bersamamu ‘ beranjak tua bersamamu. Menjalani suka-duka kehidupan bersamamu, memulai segalanya dari nol bersamamu. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang menjadi tempatmu berbagi. Aku ingin membahagiakanmu dengan caraku. Aku ingin mengetahui dirimu seutuhnya.

Apa aku salah jika aku menginginkan semua itu, aku ingin menjadi teman hidupmu, aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu. Aku ingin mereka tahu betapa beruntungnya aku memilikimu dan betapa beruntungnya mereka memiliki ayah sepertimu. Meski setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tapi, ayah mereka adalah yang terbaik.Tapi, Waktu akan terus berlalu dan aku takut kita akan tetap seperti ini. Meski cinta saja tidak cukup dalam suatu hubungan. Tapi aku pastikan aku tidak akan menyusahkanmu. Ini bukanlah ambisi atau obesesi. Jika jalan kita memang berbeda, aku harap hatimu tidak jatuh pada hati yang salah. Aku harap aku bisa terseyum bahagia, saat kau bersama yang lain. Dan semoga kau memiliki hidup yang baik bersamanya. Tapi, untuk itu datanglah terlebih dahulu, dan hapus keinginanku untuk bersamamu.