Hari ini pekerjaanku tak seperti biasanya, lebih santai bahkan cenderung tak ada kegiatan. Saat siang menjelang, sebuah pesan masuk ke dalam notifikasi handphoneku. Aku tersenyum begitu melihat ternyata pesan darimu, dengan sigap aku membalas dan menyetujui permintaanmu untuk bertemu. Teman berbagi yang selalu membuat aku semangat untuk membahas apapun.

Ketika senja menjelang, aku sudah tak sabar menanti pertemuan kita. Ingin segera membahas segala hal denganmu, dari yang jelas sampai tak jelas. Dari membahas masa lalu sampai mimpi di masa depan. Ledekan, tawa dan canda pasti tidak luput dari setiap pembahasan yang kita lakukan, tak jarang obrolan kita juga menjadi pembahasan yang serius untuk beberapa hal.

Meskipun banyak sekali kata-kataku yang justru menamparmu dengan tajam. Hai kamu maaf ya, aku tak bermaksud melukaimu, aku lakukan agar kamu sadar dan segera bisa menggapai mimpi besarmu. Agar kamu tak selalu fokus dengan rasa sakitmu, kamu bisa fokus dengan bahagia dan mimpi besarmu.

Mungkin aku tak seperti kebanyakan wanita lain yang manis di depanmu, kau merasa diterima tanpa perlawanan. Namun bisa kapan saja meninggalkan dirimu jika mereka sudah muak, dan hal itu yang selalu membuatmu patah bukan? Hal yang justru bertentangan dengan apa yang aku lakukan.

Aku akan memuji jika memang layak aku puji, dan akan memberikan pendapat jika memang ada hal yang aku rasa kurang tepat. Aku mungkin satu-satunya yang berani menamparmu dengan kalimatku, yang membuatmu sadar apa yang harus kamu lakukan dan apa yang tidak perlu kamu lakukan. Karena buatku mimpimu terlalu besar untuk bisa kamu abaikan begitu saja.

Advertisement

Waktu bergulir sangat cepat, tak terasa semakin malam, namun kita masih saja enggan untuk beranjak. Dua gelas kopi menemani perbincangan kita yang sudah tak tau kemana arahnya, namun aku terkejut saat kamu bilang "aku sayang sama kamu." Aku langsung terdiam mematung, tak berani memandangmu namun tak bisa menyembunyikan degupan jantung yang seketika menjadi cepat.

Setidaknya aku bersyukur saat itu malam dan hanya cahaya lampion-lampion yang temaram menerangi langkah kita, jadi kamu tak bisa melihat wajahku yang mendadak memerah karena kalimat yang kamu lontarkan. Sesekali aku memandangimu, mengamati fisikmu, mengamati rupamu. Aku hanya tersenyum sambil berjalan di belakangmu, melihatmu salah tingkah karena responku sangat biasa. Tapi otakku penuh dengan segala hal yang kamu katakan sambil memikirkan apa aku juga merasakan hal yang sama. Meskipun tak langsung terjawab, bukan berarti aku tak memikirkannya.

Kamu tau? saat aku memikirkannya bukan hal indah justru yang aku bayangkan. Tapi pertanyaan-pertanyaan gila yang aku lontarkan untuk diriku sendiri. Tak ada maksud mencela ataupun mendoakan keburukan untuk masa depan, namun aku harus lakukan untuk meyakinkan hatiku. Aku berdiskusi dengan hati kecilku, apakah aku akan bisa tetap mencintaimu meskipun nanti bukan limpahan materi yang aku dapat?

Apakah aku akan bisa tetap mencintaimu meskipun nanti kau tak setampan saat ini? dan apakah aku akan tetap di sampingmu andaikan sebuah musibah hadir merenggut salah satu bagian tubuhmu, sehingga kamu tak selincah saat ini?. Dan segala pertanyaan mengenai kemungkinan-kemungkinan naas saat aku bersamamu. Ya, kali ini kamu bisa bilang aku gila.

Hai kamu, aku tak tau alasan pasti mengapa kamu bisa mencintaiku. Mungkin saat ini masih jadi tanda tanya besar yang tak akan aku temui jawabannya. Sayangnya aku juga tak tau pasti alasan mengapa aku bisa mencintaimu. Yang aku tau, aku mengenalmu karena kepribadianmu bukan hal lain. Sesosok lelaki yang terlihat baik-baik saja, nyatanya sungguh rapuh. Lelaki yang mandiri namun luar biasa manja, lelaki yang selalu bersemangat cerita tentang mimpi besarnya meski lelah terlukis melalui guratan wajah.

Dan kamu yang saat ini adalah sosok lelaki yang begitu adanya dengan segala ketidak sempurnaan yang kamu miliki. Buatku hal itu sudah mampu meyakinkan aku untuk menyayangimu lebih dalam lagi, tak memandang apa yang kamu miliki sekarang ataupun nanti. Toh sejatinya memang tak ada satupun hal yang benar-benar kita miliki.

Teruntuk kamu yang mengatakan sayang kepadaku dengan salah tingkah. Aku mencintaimu meskipun nanti kita tak berlimpah materi, aku akan tetap menyayangimu meskipun wajahmu tak lagi rupawan, dan aku akan tetap di sampingmu meskipun ragamu tak sekuat dulu. Aku takkan kemana-mana sekalipun nanti Tuhan berikan musibah kepadamu. Kita akan bisa tertawa bersama dengan segala keadaan, aku akan menguatkan dirimu dan kamu selalu bisa menenangkan aku.

Mudah mencintai seseorang dengan segala kelebihan, namun tak mudah bertahan dengan segala kekurangan. Dan karena aku mencintai segala kurangmu, menutupinya dan memperbaikinya sedikit demi sedikit. Kekacauan yang aku dan kamu punya akan sama-sama kita perbaiki dengan rasa yang kita punya.

Akan ada banyak sekali lelaki yang silih berganti datang kepadaku, menawarkan kebahagiaan dan kesenangan yang mungkin tak kalah indah jika dibayangkan. Bukan tak peduli, namun sampai kapan aku harus membandingkan dirimu dengan orang lain yang lebih baik, menurutku sosok yang lebih baik belum tentu bisa menjadi yang terbaik. Dan meskipun mereka lebih baik, belum tentu aku bisa seyakin ini bertahan.

Dan mungkin itu juga berlaku denganmu, akan banyak wanita yang hadir seakan menggodamu untuk berpaling, dengan segala kelebihan rupa dan mungkin hal yang menyenangkan lainnya. Namun juga belum tentu bertahan saat kamu Tuhan sedang mengujimu dalam keterpurukan.

Untuk kamu yang mungkin ragu dengan apa yang aku katakan, semoga ketika kamu membaca ini kamu tak lagi menanggap kalimatku hanya sekedar gurauan. Aku mudah mengatakan maaf, terima kasih dan segala hal kalimat-kalimat magis lainnya secara langsung. Namun tidak dengan kalimat sayang, pasti akan aneh dan sulit rasanya buatku. Jika sampai itu terucap di depan matamu, artinya aku tak bercanda dengan apa yang aku katakan, karena aku telah rela menurunkan egoku untuk bisa mengatakan sayang padamu.