Hai, apa kabar hati? Bagaimana keadaanmu hari ini? Masihkah kau merasakan pahit akan semua kisah-kisah yang bergulir selama beberapa waktu ini? Masihkah kau merasa perihnya tersayat luka tajam itu kembali? Terimakasih

Hati, aku tahu tentunya kau sangat lelah akan semua ini. Kau sangat ingin rehat dari semrawutnya pikiranku, maafkan aku. Tentunya kau tahu hati bagaimana rindu itu merasuk ke dalam kalbu? Sangatlah dalam, sangat membekas, dan menorehkah cerita manis.

Kau ingat hati, ketika semua ucapan manis, semua keluh kesahnya selalu kau dengarkan, tapi ketika kau memerlukannya seenak jidat ia hanya menjawab "ah, aku sibuk, nanti saja ya" . Namun setelah waktu yang "nanti" itu tiba, ia hanya berucap "ah aku ngantuk, besok saja ya". Yah benar, ia tak pernah dengan manis menerima dengan tangan terbuka semua masalahmu. Cukup! Sangat perlu kau simpan rindu tentangnya.

Tentunya, masih banyak perlakuan sedikit kasarnya itu menyakiti hatimu, wahai hati? Masih banyak semua torehan kalimatnya mencabik dirimu? Hati, bersabarlah. Tentunya kita akan mundur perlahan. Mundur perlahan agar kita tak tersandung kerikil-kerikil rindu. Biarkan semua perlakuan itu walaupun bak pil pahit yang menyergap seluruh relung-relung hatiku ini. Memang, jika hanya seorang saja yang berjuang itu adalah sia-sia. Tak perlu lagi kita lanjutkan. Cukup sudah aku melukaimu, hati. Dengan menguras seluruh energimu untuk menahan semua pahitnya rindu itu. Sekali lagi maafkan aku.

Aku berjanji, tak akan lagi aku hancurkan dirimu dengan hal-hal yang berkaitan tentang semua perlakuan tak pantasnya. Dan saatnya kita mengucap selamat tinggal pada rindu yang telah lama kita huni, namun menyisakan pahit dan luka tak terperi.