Hai, Ted.
Sudah berapa kebahagiaan yang kau bagi hari ini? Di antaranya, adakah yang kau sesali? Tentang kebahagiaan, aku tau kau tak pernah itung-itungan.

Seperti yang kau bilang: kebahagiaan tak bisa dikalkulasikan, mengalir, tanpa ada kepura-puraan.

Dari sekian kebahagiaan yang kau bagi, apa kau bahagia, Ted?

Ted,
Apa kau baik-baik saja? Jangan pernah merasa sendiri. Aku masih di sini, masih dengan pelukan hangatku; untukmu.

Tidakkah kau rindu dirindukan olehku, Ted?

Advertisement

Percayalah, aku tak pernah tinggalkanmu, meski aku kerap dingin dan pergi tanpa dulu mengecup keningmu. Jika kau merasa telah aku kecewakan, maaf. Bisakah kita saling memaafkan? Aku rindu berbagi tawa, denganmu, Ted; Tawa penuh kebebasan.

Ted,
Hidup bukan cuma untuk menghakimi orang yang tak punya hati, kan? Pada akhirnya, kita berlindung pada kata "sabar dan ikhlas". Bukan untuk menyerah. Bukan! Ah, Tuhan pasti tau.

Ted,
Jika saja waktu dapat dibeli, aku ingin kembali; menghabiskan separuh dari 24 jamku bersamamu; mungkin makan es krim, pergi ke taman bermain, bermain kartu, atau bermain petak umpet di halaman depan. Maafkan aku yang kadang menjadikanmu objek sasaran saat aku ditindih amarah yang begitu hebat,

Ted. Maafkan aku yang akhir-akhir ini lebih asik menonton televisi dan bermain game daripada mengajakmu bermain, Ted. Ah, rasa-rasanya kata maafku tak terlalu cukup untuk membius kesedihanmu, kekecewaanmu. Ted, maaf..

Ted,
Aku masih dengan aku yang dulu; menyayangimu utuh, pedulikanmu penuh. Bisakah kau beri aku senyum ceriamu seperti yang dulu-dulu? Tapi, Ted, ada satu pertanyaan yang sampai hari ini mengganjal dadaku

"Kenapa kau tak pernah mengeluh saat aku mencubitimu tanpa ampun atau bahkan memukulmu?"