Hai kau belahan jiwaku, jika sampai waktunya kau yakin akulah orang yang kau yakini untuk menemanimu dalam susah maupun senang, hingga kelak kau tua nanti, berjalan beriringan, saling berbagi dalam segala hal denganku… tentu saja aku tak perlu khawatir akan kasih sayang yang akan kau berikan kepadaku…karena jika kau akhirnya memilihku, alasannya sudah pasti karena kau yakin dirimu tak akan mampu berjalan sendiri tanpaku, karena keberadaanku begitu berarti bagimu…aku sangat yakin kau sangat menyayangiku.

Namun tau kah kau, jika kau memutuskan untuk bersanding denganku, kau tidak hanya bersanding hanya denganku, namun juga dengan keluargaku….aku tidak sendiri.

Mampukah kau berlaku adil dan menyayangiku dan keluargaku seperti kau manyayagi dirimu sendiri, seperti kau menyayangi keluargamu dengan sepenuh hatimu.

Aku begitu menyayangi mereka seperti halnya dirimu, tahukah kau? Untuk menjadi gadis yang layak berdampingan dengan mu kelak, apa yang ayah lakukan padaku?

Sejak kecil ayah mengajarkan bagaimana untuk menjadi gadis yang mampu menjaga kehormatan, sehingga kelak aku menjadi calon istri yang baik untukmu.

Advertisement

Sejak kecil ayah mengajarkan aku untuk selalu berbagi, mengasihi dan belajar bertanggungjawab kepada semua orang, dengan harapan jika aku mampu mengasihi orang lain, maka akupun akan lebih mampu untuk mengasihi mu dan keluargamu.

Sejak kecil ayah mengajarkanku untuk menjadi gadis yang pemberani dan mandiri, dengan harapan aku akan menjadi perempuanmu yang mandiri, sehingga kelak tidak menjadi beban bagimu tapi mampu meringankan bebanmu.

Ayah menyekolahkanku seperti anak yang lain, dan tak pernah membuatku kekurangan, dan mengharuskan aku menjadi anak yang berpikir cerdas, berani mengungkapkan segala pemikiranku kepada siapa saja, dengan harapan aku mampu menjadi istri yang cerdas, mampu bertukar pikiran dengan mu, dan mampu menjadi istri yang membanggakanmu kelak.

Ayah mengajarkan cara berpenampilan yang baik,sebagai kehormatan dan kepercayaan diriku, sehingga aku mampu menjadi wanita yang angun kelak untukmu… tapi ayah juga mengajarkan aku untuk terbiasa sederhana sehingga aku mampu menempatkan diriku dimana aku berada sehingga aku kelak mampu menerima apa adanya dirimu.

Ayah mengajarkan aku menjadi pribadi yang bersahabat sehingga aku kelak mampu menghargai dan bergaul dengan sahabat atau orang terdekatmu sehingga kau tak merasa seolah duniamu hanyalah aku.

Ayah mengajarkanku menjadi anak yang soleh dengan menuntutku selalu beribadah, meski tak jarang aku membantahnya, dengan harapan sehingga kelak akupun menjadi istri dan ibu yang soleh bagimu dan anak-anakmu kelak.

Ayah selalu mengajarkan bagaimana bersikap adil dan menanamkan sikap ikhlas sehingga aku kelak mampu bersikap adil dan iklas dalam setiap langkah, sehingga tidaklah sulit untuk menyatukan dua kelaurga kita kelak,

Banyak hal yang ayah ajarkan untukku.

Hingga pesan terakhir dan harapannya adalah tentangmu…beliau berharap kelak aku menerima apapun adanya dirimu dengan penuh bangga, tidak membantahmu, senantiasa menghormati, menjadi istri yang baik bagimu seperti apapun adanya dirimu… hingga akhir hidupnya, ayah membesarkanku dengan sempurna tanpa mengharapkan balasan apa2 dariku dan dirimu, atas jasanya menjadikan aku teman yang sempurna yang akan menemanimu dalam suka maupun duka kelak.

Lain halnya ibuku, sejak kecil beliau selalu berteriak di pagi hari, memaksaku untuk lekas beranjak dari selimut hangatku, memaksaku untuk membiasakan diri merapihkan rumah, dengan alasan agar kelak aku menjadi istri dan menantu yang sempurna untukmu dan kedua orang tuamu.

Beliau berteriak, ketika aku memilih bermain bersama teman-temanku dari pada menemaninya memasak di dapur, tidak untuk mengharuskan aku meringankan pekerjaannya, namun hanya untuk memperhatikan beliau ketika memasak, dengan harapan aku mampu belajar sendiri kemudian, dan aku mampu menjadi istri yang menunaikan kewajibanku memasakkan makanan setiap harinya untukmu dan keluarga kelak.

Beliau selalu mengajarkanku untuk selalu bersikap sopan dan menjaga sikap ku ketika berada di mana saja, dengan harapan dimanapun aku berada aku mampu menjaga kehormatanmu.

Beliau selalu mengajarkan untuk selalu menjaga kebersihan, dengan alasan karena segala sikap, prilaku, dan kebersihan diriku adalah cerminanmu.

Beliau mengajarkanku untuk tidak terbiasa bergosip, dengan alasan mulutku mampu menjadi pisau perusak kehormatanmu.

Beliau mengajarkanku bagaimana kelak menjadi istri yang kuat dan penyabar, istri yang mampu mencintai tanpa menuntut, apalagi menjadi beban bagimu.

Beliau mengajarkan bagaimana beratnya menanggung tanggungjawab keluarga besar sebagai istri, hingga kelak aku menjadi istri yang mampu mengemban tanggungjawab tidak hanya kepadamu, namun juga keluargamu.

Beliau mengajarkan apa itu kesetiaan, sehingga kelak hal paling berharga yang mampu aku janjikan kepadamu adalah kesetiaan, apapun adanya dirimu dan apapun yang sedang kau alami, yakinlah aku akan disana menggandeng erat tenganmu.

Beliau mengajarkanku untuk selalu bersyukur, sehingga kelak aku menjadi istri yang pandai bersyukur sehingga lagi2 tidak menjadi beban bagimu.

Beliau mengajarkan bagaimana menjadi pendengar yang baik, penyemangat, dan bagaimana seharusnya menjadi teman saling berbagi untukmu kelak.

Beliau megajarkan, bagaimana memegang bayi kecil, mengurusnya perlengkapannya, bercerita bagaimana mengurus bayi ketika umurku masih kecil, dengan alasan kelak meski tanpanya, aku mampu menjadi ibu yang baik untuk buah hatimu kelak.

Tahukah kau, banyak hal yang beliau ajarkan kepadaku meski aku sering membantahnya, dengan alasan agar aku mampu menjadi pendamping yang sempurna untukmu, menantu yang baik untuk keluargamu, dan ibu yang sempurna untuk buah hati kita kelak.

Hingga disaat aku berajak dewasa, dimana seharusnya Beliau menuntut aq untuk bekerja dan membahagiakannya di hari tua, Beliau berkata “kelak ketika telah menjadi seorang istri aku harus terbuka kepada mu dalam segala hal, kelak meski aku sangat ingin memberinya sesuatu, apalagi itu bermasalah dengan uang, maka aku harus memberi atas seiijinmu…jika tidak, Beliau melarangnya, karena jika tidak Beliau melarang keras melakukan hal tersebut atas seijinmu..karena aq akan berdosa katanya.

Kedua Orang tuaku, berjuang, berkorban hanya demi menjadikanku gadis yang sempurna kelak ketika mendampingimu, tahu kah kau.

Karena hal tersebutlah, tak ada yang paling berharga bagiku daripada keluarga… aku tak meminta kau adalah laki-laki sempurna yang akan memberikan segalanya untukku, aku tak berharap kau laki-laki yang hebat yang mampu melakukan apapun untukku, hanya satu hal terpenting yang aku harapkan darimu, yaitu mampukah kau menyayangi kami berempat (permata hati ayah) yang akan ayah titipkan kepadamu…. Mampukah kau berlaku adil, menyayangi kami seperti kau menyayangi dirimu dan keluargamu, yang tentunya tak perlu lagi dipertanyakan bagaimana besarnya rasa cintamu kepada mereka… karena seperti itulah yang ayah ajarkan kepadaku…. Karena ketika aku memutuskan akan meraih uluran tanganmu kelak, seperti itulah yang akan aku lakukan…aku berjanji akan menyayangimu dan keluargamu seperti menyayangi diriku sendiri dan juga keluargaku.

Semoga kelak Tuhan mempertemukan kita di tempat dan waktu yang tepat.