Sahabatku, bukannya aku tak bahagia melihatmu bersanding dengan pria pilihanmu di pelaminan. Bukannya aku sedih melihat kau melepas masa lajangmu.

Aku hanya sedih saat aku menyadari bahwa waktu kita untuk bersenang-senang, bersenda gurau hingga larut malam berkurang karena kau sudah menjadi seorang istri. Dulu, untuk bertemu denganmu hanya membutuhkan izin dari kedua orangtuamu, sekarang kami harus meminta izin kepada suamimu untuk bertemu denganmu.

Aku sangat bahagia melihat akhirnya hari itu telah tiba, hari di mana salah satu dari kami telah menjadi istri seseorang, tetapi hati kecil ini sangat sedih… Bukan karena kau mendahului kami untuk menikah duluan, bukan. Aku hanya ingin mengulang masa-masa kecil kita di mana setiap hari kita bisa bermain tanpa ada batasan waktu, tidak memikirkan masalah-masalah di hidup kita sekarang dan tertawa sangat lepas ketika salah satu dari kita harus jongkok karena kalah bermain kartu.

Pertemuanku dengan kalian berawal saat kita masuk TK di komplek, dan persahabatan kita pun masih terjalin hingga sekarang. Sampai-sampai satu komplek tahu bahwa kita adalah sembilan sahabat yang sangat solid. Kau masih ingat saat itu? Saat kita bermain kasti di lapangan sekolah, lalu salah satu dari kita memecahkan kaca ruang kelas dan kita dihukum bersama-sama atau saat salah satu dari kita melempar kertas ke arah kipas angin putar di atas kelas sehingga kipas angin tersebut rusak atau saat kita bermain di meja bundar perpustakaan komplek sambil makan bakso kesukaan kita? Ah, rasanya aku ingin mengulang masa-masa indah itu.

Kau tahu rasa sedihnya saat kita harus berpisah kota untuk menuntut ilmu? Setelah itu, kita tidak pernah kumpul lengkap bersembilan. Ada saja yang tidak bisa datang, padahal waktu itu jarak kita hanyalah sebatas 100KM, tetapi sangat susah untuk mengumpulkan sembilan orang secara lengkap. Belum lagi setelah kepindahanku ke luar pulau, semakin susah untuk berkumpul dengan kalian.

Advertisement

Hingga akhirnya setelah 10 tahun kita baru berhasil lengkap karena salah satu dari kita menikah dan semua dari kita diberi kesempatan untuk hadir. Lagi-lagi kita hanya bisa bersenda gurau berdelapan, bukan bersembilan, karena satu dari kita berada di pelaminan. Aku rindu rasanya kumpul lengkap bersembilan di satu kasur dan bercerita tentang semua hal-hal kecil hingga besar tanpa ada beban. Tertawa lepas karena hal-hal kecil di masa lalu yang membuat kita terlihat konyol.

Kita sudah bersama sejak kecil, tidak ada lagi rasa malu saat aku mengeluarkan angin di depan mukamu, tidak ada lagi rasa malu saat aku mengangkat kaki di meja makan, semua sudah kita anggap biasa. Bahkan kebiasaanku yang sering makan di rumah kalian saat kalian tidak ada di rumah pun sudah sangat sering aku lakukan. Satu hal yang aku banggakan dari persahabatan kita, kita tidak pernah sama sekali bertengkar. Hebat bukan?

Pembahasan kita saat masih kecil hanyalah bagaimana caranya kita bisa berkumpul setiap hari minggu dengan dresscode yang sama, teman-teman yang jahat di sekolah, bermain sepeda keliling komplek, dan menghadiri ulangtahun salah satu di antara kita. Aku rindu saat-saat itu.

Sesaat sebelum kuliah, kita hanya bisa kumpul bertujuh karena dua orang tidak bisa datang, tetapi itu cukup membuatku bahagia karena kita sudah hampir dewasa. Kita sudah menjadi mahasiswa, pembicaraan kita sekarang adalah bagaimana caranya bertahan di kampus kita yang baru dengan orang-orang baru dan metode belajar yang baru.

Tapi satu hal yang masih aku ingat hingga sekarang saat pertemuan tersebut, kita masih bermain kartu hingga larut malam dan masih menertawakan salah satu di antara kita yang kalah bermain kartu. Masih jelas di ingatanku ketika muka kita ditaburi bedak basah karena kalah, betapa jeleknya kita saat muka kita penuh dengan bedak. Ah, aku rindu….

Sepertinya itu adalah permainan kartu kita terakhir dengan formasi yang hampir lengkap, sekarang permainan kartu itu tinggal menjadi kenangan di antara kita, karena dua dari kita sudah resmi menjadi istri seseorang. Satu dari kami sedang menunggu kelahiran anak pertamanya, satu lagi sedang menikmati masa-masa menjadi pengantin baru. Sisa tujuh orang lagi yang belum menikah, dan kami masih menunggu giliran kami untuk dijemput pangeran berkuda putih.

Sahabat, jika salah satu di antara kita ada yang menikah lagi, tolong luangkan waktu kalian untuk menghadiri acara ini, karena mungkin inilah satu-satunya cara agar kita bisa berkumpu dengan lengkap walaupun masing-masing dari kita kelak akan sibuk dengan urusan kita masing-masing, tapi ingatlah persahabatan kita akan terus abadi hingga maut memisahkan kita.

Hari ini, aku belajar lagi untuk melepas salah satu sahabatku yang sudah menemukan pangeran berkuda putih… Melepas kesempatan untuk bertemu dengan mudah, berkomunikasi dengan intens dan bersenda gurau tanpa izin dari suami. Semua itu tak kusesali, bukan aku marah karena kalian sudah bertemu dengan pujaan hatimu, aku hanya ingin masing-masing dari kita mengingat bahwa persahabatan kita masih akan berlanjut hingga kita tua. Ingatlah hari ini, hari di mana kita belajar untuk melepaskan sahabat kita sebagai seorang istri dari seseorang…