Orang-orang dari kota kecil mengira bahwa siapapun yang hidup di kota besar nasibnya akan sukses. Sudah banyak kisah-kisah tentang para pemuda udik yang datang ke kota besar untuk mengadu nasib dan berhasil. Dari bukan siapa-sapa menjadi seorang pahlawan.

Seorang kakek akan mengatakan pada cucunya seperti ini, “pergilah ke kota, kau masih muda!”

Sang cucu lalu akan bertanya, “ayah masih memerlukanku di sawah, kenapa aku harus pergi ke tempat yang tidak pernah kukunjungi dan tidak kuketahui sebelumnya?”

Kakek itu akan membalasnya, “seorang lelaki jiwanya bebas dan merdeka. Selagi masih hijau dan kuat, kamu harus memperbanyak pengetahuanmu akan dunia. Pergilah, tinggalkan desa ini! Temui banyak orang, temukan banyak rumah yang besar-besar, bahasa yang tidak pernah kau dengar sebelumnya, serta gadis-gadis cantik. Hanya dengan begitu, saat kau tua dan bijak kelak, kau bisa duduk tenang di balai-balai gubukmu sambil mengenang kembali masa mudamu yang penuh dengan warna!”

“Apakah hanya itu tujuan hidup?”

Advertisement

“Ya, cucuku, benar! Hidup ini adalah untuk mengalami,” kata kakek itu, dan pergilah satu pemuda lagi dari desa.

Namun Robinson cukup spesial. Dia tidak suka memacul sawah, dan tidak becus bercocok tanam. Dia terlalu lembut untuk jadi pemburu dan tidak bakat berdagang. Saking tak ada yang bisa dia lakukan kecuali menyanyi—itupun suaranya tidak menyenangkan untuk didengar, semua orang menyebutnya sampah. Mungkin mereka menghinanya untuk memotivasinya. Tapi Robinson tidak bisa menerimanya sama sekali.

Dengan angkuh dia bersesumbar bahwa setelah dia sampai di kota besar nanti, dia akan jadi orang hebat. Dia tidak akan kembali ke kampung halaman dan tidak akan pernah mengingat keluarganya sekalipun.

Demikianlah contoh-contoh peristiwa yang memotivasi para pemuda pergi meninggalkan desa dan sawah orangtuanya untuk melihat kehidupan di kota besar. Ada yang pergi karena didukung, ada yang pergi karena tidak didukung.

Biasanya mereka naik kereta jerami yang ditarik seekor lembu tua dengan borok di bokongnya. Menapaki jalanan berbatu yang telah mengeras karena terlalu sering dilalui roda. Seperti telapak tangan ayah mereka yang kapalan oleh gagang pacul. Pada persimpangan, para pemuda itu turun dari kereta jerami untuk lanjut berjalan kaki menuju kota terbesar di negara Barbandia, Ibukota yang bernama “Detteroa”.

Mereka menciptakan lagu mengenai jalan itu. Mereka memberinya nama “Jalan Pelangi”, sesuai dengan dongeng yang selalu dikisahkan oleh ibu mereka di kampung.

“Di ujung pelangi ada timbunan emas yang luar biasa banyaknya. Siapapun yang berhasil menemukan jembatan pelangi dan menyeberanginya sampai ke ujung dengan selamat, akan mendapatkan harta karun berlimpah dan pulang sebagai orang kaya.”

Tapi tidak ada yang tahu dari mana mereka harus menaiki jembatan pelangi untuk berjalan hingga ke ujungnya. Mereka hanya menemukan jalan yang mirip dengan dongeng itu; yakni jalan setapak yang akan membawa mereka menuju kota impian, Detteroa. Kota dimana segala impian menjadi kenyataan, dimana harapan terwujud, kota yang mengubah seorang gembel menjadi raja.

Sayangnya orang-orang desa itu tidak tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Demikian pula dengan Jalan Pelangi tersebut. Mungkin karena sudah terlalu banyak yang sampai ke ujung jembatan. Sudah terlalu banyak orang yang mengeruk emas dari sana.

Walau begitu, tidak ada yang memperingatkan para perantau itu bahwa emas sudah habis.

Demikianlah para pemuda desa datang sampai ke Detteroa membawa harapan, hanya untuk melepaskannya begitu saja di Detteroa.

Pada saat Robinson tiba di Detteroa, tak ada sebutir debu emaspun yang tersisa untuknya. Namun dia telah bersumpah bahwa dia akan jadi orang besar di Detteroa di hadapan orangtua dan kerabatnya. Dia telah bersumpah sedemikian sombong untuk melawan semua penghinaan dan celaan dari keluarganya, sehingga hanya rasa malu yang bisa diberikan Detteroa untuknya.

Terlalu malu untuk pulang, terlalu miskin untuk bertahan. Hanya rum dan seorang gadis idiot baginya di penghujung jalan pelangi. Demikianlah Robinson meninggal dunia di pinggiran kota Detteroa sebagai gelandangan mabuk tak bernama.