Tuhan selalu punya cara sendiri untuk mendewasakan hamba- Nya. Aku tahu dewasa itu butuh proses dari cara pemikiran, tingkah laku bahkan perbuatan. Semuanya tidak terjadi begitu saja, tidak semena – mena sim salabim.

Proses itu lah yang seringkali mengajarkan kita banyak hal. Hal yang belum kita ketahui sebelumnya, hal yang menjadikan dunia kita menjadi baru setiap detiknya.

Sometimes, melalui perjalanan yang teramat keras, terkadang melalui perkataan orang lain yang mampu melatih emosi kita, disitu sikap dewasa sedikit demi sedikit terbentuk. terkadang dari pengamatan yang terlintas dan paling utama dari masalah. Masalah yang terus saja memborbardir.

Seperti aku, aku tak menamakan diriku dewasa, namun umur sudah cukup menjelaskan. 19 tahun tak terasa sebentar lagi kepala dua. Lihat aku, lihat aku baik – baik, sudah 18 tahun ini aku bisa apa ? apa yang sudah aku perbuat untuk orang lain yang sifatnya memberi manfaat. Lalu apa artinya dewasa ? secara harfiah secara logika dan penerapanya dalam kehidupan sehari – hari.

Aku masih belum mengerti, masih belum paham terhadap ini semua. Seringkali menangis karena hal kecil persis sekali seperti anak- anak yang sedang main balon namun balon direbut salah satu teman lalu menangis. Kadang bak motivator ternama dengan golden wisenya, wusshhh sekali ucapan mampu membuat orang “oh iya yah bener juga”. Mungkin lebih tepatnya belum konsisten. Seringkali diperlakukan dewasa dari yang lain hanya karena satu alasan, strong!

Advertisement

Aah apalah ini, hanya rangkaian kata yang sengaja aku tulis agar aku tak kesepain, agar malamu penuh certita itu sajaa.