Dia tidak tahu ada hati yang tersakiti disini.

Dia tidak tahu ada yang menahan air mata hingga terasa sesak di dada.

Dia tidak tahu ada yang sibuk menyibukkan diri karena tak ingin terus teringat.

Dia tidak tahu ada yang mati-matian berjuang agar yang diperjuangkan menjadi miliknya.

Dia tidak tahu ada yang diam-diam selalu memintanya pada pemilik semesta.

Advertisement

Kenapa terasa begitu sakit?

Dia selalu memberiku kejutan-kejutan menyakitkan.

Hanya sakit yang terus dia berikan.

Semoga ini bukan kode dari Tuhan bahwa bukan kamu yang ditakdirkan.

Aku masih begitu naïf.

Naïf karena tak mampu bergerak.

Naïf karena tak mampu mengelak.

Rasa ini terlanjur dalam.

Aku tahu ini semua kesalahanku.

Kesalahanku membiarkanmu masuk begitu jauh.

Padahal aku hanya harus memintamu pada Tuhan.

Harusnya hanya Tuhan dan aku yang tahu.

Ya, seharusnya begitu.

Aku mengutuki diri habis-habisan atas kebodohanku.

Bagaimana bisa aku bertindak seperti ini.

Ah, aku hanya manusia biasa.

Aku sama seperti mereka.

Aku merasakan apa yang menjadi fitrah manusia.

Tapi harusnya aku mampu mengendalikan itu semua.

Tidakkah kamu tahu?

Kamu satu-satunya orang yang mampu membuatku seperti ini.

Kamu orang pertama yang membuatku merasa yakin.

Bahkan kamu adalah orang yang aku bayangkan akan menjadi imamku.

Sudahlah, aku tahu manusia hanya mampu berangan dan berencana.

Selebihnya hanya Dia yang menentukan.

Tapi …

Ah, manusia selalu tak pernah mengerti.

Bahwa hanya skenario Tuhan-lah yang terbaik.

Sekarang aku hanya harus belajar rela.

Aku tidak mau lagi merasakan sakit.

Aih, lucu sekali.

Bahkan belum berganti hari rasanya aku tak mampu melakukannya.

Namamu masih tersimpan dengan rapi disini, di hati.

Memandang ke depan aku tak menemukan sosok yang pantas menggantikanmu.

Maaf, aku tak bisa melakukannya.

Aku akan tetap berdoa untuk kebaikan bersama.

Aku akan tetap berjuang.

Tapi kali ini, aku tak memaksamu untuk ikut berjuang.

Silahkan memilih. Berkelanalah.

Terhitung hari ini aku berhenti berharap.

Aku berhenti menunggu.

Aku akan berhenti “kepo” atas segala aktivitasmu.

Mungkin aku harus menghapus kontak BBM-mu, nomor ponselmu, berhenti mengikutimu di semua media sosial yang kita miliki.

Ya, karena itu akan membantuku untuk kembali menata hati.

Terhitung hari ini aku memulai semuanya dalam diam.

Aku akan bertahan dengan rasa ini, tanpa kamu mengetahuinya.

Terima kasih telah menjadi bagian yang indah dalam kehidupanku.

Terima kasih telah menjadi sosok yang hebat di mataku.

Terima kasih atas pelajaran serta kenangan yang di berikan.