Ada banyak alasan bagi seseorang yang masih bekerja untuk tetap mencari pekerjaan baru. Kondisi kantor yang kelihatan di ujung tanduk, situasi pekerjaan yang semakin nggak enak, atau malah gelagat bahwa kantor mulai nggak menghargai jerih payah kita selama ini. Semua itu wajar membuat kita berpikir untuk buru-buru mencari ladang nafkah yang lebih menjanjikan. Situasi macam ini juga seringkali menjebak kita dalam permainan petak-umpet, nggak hanya dengan atasan tapi juga dengan manajemen perusahaan.

Curi-curi waktu buat memperbarui profil LinkedIn kita, memoles ulang CV yang sudah lama tidak terurus, sampai berbohong demi mendatangi panggilan interview kerja. Adakalanya, kita juga merasa sebaiknya memberi kode pada atasan dan manajemen bahwa kita sudah bersiap cabut dari kantor. Tujuannya sih, supaya bisa dipertimbangkan untuk promosi dan kenaikan gaji. Toh, kalau memang manajemen mau mempertahankan kita, mereka tidak bakal rela kalau kita pergi, kan?

Tapi tunggu dulu. Masalah seperti ini kadang sangat amat tricky. Iya kalau manajemen membaca dan menafsirkan kode kita dengan baik sehingga akan menguntungkan karir kita ke depannya. Tapi, kalau kita malah dilepas begitu saja atau worse than that kita diputushubungan duluan sama perusahaan bagaimana? Terus, kira-kira, kapan ya kita boleh mulai open mengenai kondisi kita yang sedang mencari pekerjaan baru macam ini? There are some things we need to considerate before letting people know that we're on job searching.

Pertama, cari tahu posisi dan hubungan kita di perusahaan

Salah satu hal yang harus dipertimbangkan adalah bagaimana posisi kita saat itu. Seberapa 'aman' jika manajemen tahu kita sedang cari pekerjaan lain. Kalau posisi kita termasuk salah satu aset yang diandalkan dan terbaik di perusahaan, bisa dibilang cukup menguntungkan untuk memberi kode dan sinyal-sinyal bahwa kita sebentar lagi bakal cabut dari sana. They don't want to lose us. Kita juga harus bisa membaca kira-kira atasan kita ini suportif atau malah arogan. Kalau kebetulan kita dapat atasan yang suportif, membicarakan soal rencana kita cari pekerjaan yang lebih baik dengannya bisa sangat amat membantu. Karena kemungkinan besar dia bakal bertanya, apa hal yang bikin kita memutuskan begitu?

Advertisement

Nah, kalau pertanyaan itu sudah terlontar, kita bisa dengan mudah melakukan negosiasi. Kita bisa menyampaikan harapan-harapan kita agar bisa mendapatkan karir lebih baik di perusahaan ini. Malah, ada juga atasan yang saking mengapresiasi pencapaian kita selama ini, but they don't think can't help us staying there better, akhirnya memutuskan untuk membantu kita mendapatkan tempat yang lebih baik. Dengan cara merekomendasikan CV kita pada rekanannya misalnya (But I guess this one is very very rare).

Hal lainnya bahwa ketika kita sudah memutuskan buat memberi tahu atasan dan manajemen soal pencarian kerja ini, kita juga harus pasang tenggat waktu. Sampai kapan kita akan mencari tahu apakah perusahaan benar-benar memenuhi janjinya. Let say in two weeks, kalau mereka tidak menepatinya, kita bisa langsung cabut. Tapi, kalau kebetulan kita terjebak pada manajemen dan atasan yang arogan, sebaiknya kita tetap pada permainan petak-umpet ini.

Kedua, pastikan aman tidaknya posisi kita

Kalau sebelumnya kita lebih fokus untuk mencari tahu tingkat aman tidaknya dari hubungan dengan manajemen dan atasan, kali ini lebih pada peluang baru yang kita dapat. Banyak orang yang memutuskan untuk tetap main petak-umpet hingga mereka mendapat kepastian tawaran kerja hitam di atas putih dari perusahaan yang baru. Kenapa begitu? Ketika kita sudah memegang tawaran kerja tertulis dari perusahaan baru, tentu saja dengan persetujuan posisi dan gaji yang sedemikian rupa, kita nggak lagi cemas soal kerugian kalau-kalau manajemen dan atasan tahu kita lagi cari pekerjaan baru. Toh, ketika buruk-buruknya, manajemen dan atasan memutuskan untuk merelakan kita dari perusahaan, kita bisa langsung bekerja di tempat yang baru. Everything seem worthwhile then. Syukur-syukur negosiasi menguntungkan bisa jebol, tapi kalau pun tidak, sudah ada tempat baru.

Ketiga, one of the most important: jangan terlalu kentara

Terutama kalau kita sudah memutuskan buat stay di dalam permainan petak-umpet dengan perusahaan. Zaman yang canggih sangat memungkinkan orang-orang tahu apa yang kita lakukan bahkan tanpa kita menceritakannya. And of course in this sensitive case, news travels fast. Begitu orang-orang di kantor tahu kalau kita ada gelagat cari kerja baru, banyak hal bisa terjadi. Dan mungkin saja nggak selamanya menguntungkan bagi kita. Kalau sudah begini, kita harus lebih cerdik lagi.

Usahakan untuk nggak menggunakan fasilitas kantor dalam hal pencarian kerja kita. Kalau memang masih ada waktu di luar jam kantor, lebih baik kita melakukan job hunting sepulang kerja. Usahakan pula untuk nggak terlihat ketika kita harus menjawab telepon panggilan interview. Pastikan kita menjawab panggilan itu di tempat yang tidak banyak orang, di balkon kantor, atau teras belakang misalnya. Nggak hanya soal menerima panggilan, the way we behave on social medias is also matter. Kecuali kita memang ingin mengirimkan sinyal-sinyal cabut pada orang kantor. Jangan tunjukkan kalau kita sedang berada dalam proses pencarian kerja. Selain kelihatan nggak profesional karena mengumbar-umbar, bisa-bisa rekruter yang sangat teliti mempertimbangkan ini sebagai sikap buruk kita. They tend to think bahwa kita tipikal orang yang mudah cabut ketika situasi sudah nggak enak.

Urusan cari pekerjaan di saat kita masih jadi karyawan perusahaan memang a bit tricky. Hal yang paling utama bahwa either kita memutuskan untuk kasih tahu atasan dan manajemen ataupun nggak, kita harus tetap menjalankan tugas dan peran kita sebaik-baiknya hingga last date kerja kita. Kita harus tetap menunjukkan performa kerja terbaik bahkan meski—tentu saja—di hari-hari terakhir kita cabut itu pasti sudah nggak mood buat bekerja. Karena, dengan tetap profesional menangani pekerjaan sampai akhir, hal ini bisa bikin reputasi kerja kita terjaga, lho. Sohave a goodluck, job fighters!