Siapa yang sih yang nggak mau tampil sempurna di hadapan orang lain, baik secara langsung atau pun tidak langsung? Kalau dulu olahraga dan menjaga pola makan wajib dilakukan untuk menjaga penampilan, tapi lain halnya dengan sekarang. Kenapa? Karena sudah banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk menyulap tubuh dan wajah menjadi kece. Itu semua nggak lepas dari berkembangnya foto selfie sebagai suatu tren dan akses internet dan sosial media, membuat banyak orang berlomba-lomba menunjukkan eksistensinya di dunia maya. Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi yang memberikan kemudahan edit foto seperti Camera 360, B612, BeautyPlus dan lain-lain.

Jadi, seseorang bisa mengubah fotonya sendiri sesuai dengan keinginannya. Banyak sekali yang bisa diganti atau diperbaiki loh, misalnya warna kulit yang lebih cerah, pipi lebih tirus, mata lebih besar, bahkan tubuh yang lebih langsung. Nggak heran jika akhirnya edit foto mewabah dan hampir dilakukan oleh semua orang sebelum foto mereka terpampang di sosial media.

Tapi tahukah kamu bahwa sebenarnya tindakan edit foto berlebih bisa berpengaruh pada kejiwaan seseorang. Loh kok bisa? Karena orang tersebut merasa rendah diri dan membuat orang berfikir bahwa mereka harus terlihat sempurna. Jika dilakukan sesekali sih nggak masalah, tapi yang dikhawatirkan justru ini menjadi sebuah kebiasaan yang dilakukan hanya untuk diakui atau bahkan dipuji dari teman-teman sosial medianya, mendapat like yang banyak serta meningkatkan percaya diri.

Padahal ini semua bisa memicu gangguan mental mulai dari ringan sampai akut. Alasannya terjadi karena sifat takut apabila foto yang di-posting tidak disukai orang atau komentar yang bikin sakit hati. Parahnya karena perbedaan antara foto editan dan wajah asli, banyak orang yang bahkan tidak ingin bertemu dengan teman dunia mayanya secara langsung.

Secara medis kondisi ini disebut body dysmorphic disorder. Suatu kondisi yang membuat orang merasakan kecemasan yang berlebihan terhadap tampilan fisiknya. Satu lagi gangguan kejiwaan yang sangat lekat dengan orang yang gemar selfie yaitu Narcissistic Personality Disorder (NPD) yang merupakan gangguan psikologis ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi untuk kepentingan pribadinya dan juga rasa ingin dikagumi. Gangguan narsisme termasuk salah satu dari tipe penyakit kepribadian.

Advertisement

Bahkan American Psychiatric Association (APA) baru-baru ini memasukkan kecanduan selfie, menjadi suatu diagnosis gangguan mental (mental disorder) yang disebut selfitis. Diagnosis tentang seltifis tersebut dibagi menjadi 3 tahap yaitu selfitis pinggiran, selfitis akut, dan selfitis kronis.

Selfitis pinggiran adalah kecenderungan seseorang mengambil foto diri sendiri, setidaknya tiga kali dalam sehari, tapi tidak mengunggah hasil fotonya ke jejaring sosial. Selfitis akut yaitu seseorang yang memotret diri sekurang-kurangnya tiga kali dalam sehari dan mengunggah tiap hasil foto diri tersebut ke media sosial. Sedangkan selfitis kronis adalah keinginan yang kuat untuk mengambil gambar diri sendiri sepanjang waktu, dan mengunggah foto-foto tersebut ke media sosial lebih dari enam kali sehari.