Begitu banyak bintang yang menghiasi langit. Ratusan, ribuan, ratusan ribu dan millyaran jumlahnya. Sangat indah, saling berkedip satu sama lain. Memancarkan sinarnya dalam gelap malam. Memberikan kebahagiaan bagi setiap orang yang melihatnya. Sangat banyak, hingga aku sulit memilih milyaran bintang yang tergantung di langit malam. Aku pernah memilih bintang yang sinarnya terang dan di keliling oleh jutaan bintang lainnya seakan bintang itu menjadi pusat bagi bintang yang lainnya.

Bintang itu sangat cantik. Sinarnya begitu terang. Aku memilihnya. Memilihnya sebagai bintangku, bintang yang begitu indah. Kecantikannya membuat bintang yang lainnya ikut bersinar terangnya, berlomba menyaingi sinar dari bintang indah itu. Ataukah mereka para bintang saling berlomba untuk mendapatkan perhatian dari bintang cantik ini? Ah, aku tidak peduli, tapi aku telah memilihnya satu bintang yang paling cantik dan bersinar dengan terang.

Kecantikannya membuatku selalu memikirkannya. Keindahannya membuat diriku ingin melihatnya setiap saat. Tapi, sinarnya yang terang itu tidak dapat menyaingi sinarku, yang kian meredup ketika aku bersamamu. Justru kau menjadi bintang yang sangat terang, membuat diriku tenggelam dan kian menjauh darimu. Kau bahkan tidak pernah menggagapku ada. Hingga akhirnya aku putuskan untuk pergi meninggalkanmu.

Awalnya bintang yang bersinar dengan terangnya membuatku terbuai akan sinarnya. Tapi, mengapa bintang itu tidak pernah melirikku? Ibarat bintang aku tidak punya sinar sedikit pun. Tidak sepertimu yang begitu terang sinarnya dan selalu di kelilingi orang-orang yang selalu membuatmu tersenyum. Terasa sakit memang. Tapi apalah aku yang tidak pernah dilirik oleh orang-orang di sekitarku. Jadi aku putuskan untuk mengubah haluanku.

Untuk tidak akan melihatmu lagi, untuk tidak memandangmu lagi. Aku telah salah memilihmu. Ibarat bintang aku hanyalah bintang kecil yang jauh darimu. Aku memang tidak pernah bisa bersamamu lagi. Membiarkan dirimu bersinar dengan terangnya di langit malam. Dan berharap dirimu mendapatkan kebahagiaan. Akan kusimpan rasa sakit ini. Keikhlaskan menjadi kunci agar rasa sakit ini segera terlepas dari diriku. Dirimu telah bersamanya dengan orang yang dapat membuatmu bahagia melibihi aku. Dan aku hanya bisa menangisi kepergianmu. Mungkin aku telah salah memilihmu. Bintang yang sinarnya terang tidak selamanya indah. Keindahan itu justru membuatmu terbuai akan ketenaranmu dan melupakan aku yang selalu melihatmu dari kejauhan.

Advertisement

Hati yang terluka karena dirimu memang sulit untuk di sembuhkan. Hati ini sudah terlanjur memilihmu, lalu bagaimana caraku agar aku terlepas dari bayanganmu? Disaat itulah aku melihatnya. Sebuah bintang kecil yang memiliki sinar yang sama denganku. Yang mencoba tersenyum padaku walaupun sinarnya tidak begitu terang. Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa darimu. Senyummu yang begitu tulus. Sekalipun sinarmu tidak seterang bintangku dulu. Dan saat itu aku merasakan sebuah cinta yang tulus darimu.

Jika aku telah memilihmu biarkan aku memberikan kepercayaanku padamu. Biarkan rasa tulus ini menyatu dengan hatimu. Dan biarkan perasaan cinta ini mengalir seperti air yang nanti akan menemui muaranya. Kita mungkin pernah merasakan rasa sakit yang sama. Dan pernah memilih bintang yang salah.

Tapi, bukankah rasa sakit yang pernah kita terima ini membuat kita untuk tidak saling menyakiti? Kesempurnaan cinta menjadi tujuan kita selanjutnya. Hati ini telah memilihmu dan berjanjilah untuk tidak saling menyakiti. Rasa sakit yang pernah kita alami membuat kita berpegang tangan, membuat kita untuk tidak mengalami rasa sakit itu lagi. Hingga akhirnya kita berdua menjadi bintang yang memiliki sinar yang sama dengan bintang memiliki sinar yang sangat terang.

"Biarkan aku bersamamu menjadi sebuah bintang untukmu, memberikan sinarku untukmu, memberikan kepercayaan cinta untukmu dan berjanjilah untuk tidak saling menyakiti satu sama lain. Karena aku telah memilihmu."