Hai hatiku, Apa kabarmu ? masihkah kau memilih untuk meringkuk disudut tergelap ruangan, atau kau malah masih berkutat dengan memunguti tiap buliran airmata yang menggenang disetiap malam-malam panjang. Mungkinkah kau juga tengah menikmati hingar bingar keramaian namun masih merasa sepi, atau kau belum juga menghilangkan kebiasaanmu yang memilih tersenyum dan bersembunyi dibalik topeng 'aku baik-baik saja'. Hai hatiku, kau adalah sumber 'bernyawa'nya kehidupanku, diatas segala remuk redammu. Hatiku yang terserak dan tertatih mencoba bangkit dari keterpurukan..

Wahai hati, tulisan ini untukmu..

Kehilangan sosok terkasih tentu bukan termasuk agenda yang kau rencanakan, entah di tinggalkan atau meninggalkan semua memiliki rasa yang rumit untuk dijabarkan, percayalah..

Ketika kita merasa memiliki, ia akan semakin cepat diambil dari sisi kita, begitupun dengan cinta.

hatiku yang tengah patah tentu kini kau merasakan luka dan perih yang menjalar mesra menggerogoti setiap syaraf bernama kesadaran, perlahan kau bermetamorfosis menuju mati rasa. Sah bagimu untuk menangis berhari-hari, meluapkan sakit dengan amarah, menyendiri dan membenci banyak hal.

Advertisement

Tak perlu lagi mencoba tegar berlindung dibalik senyum palsu dan kalimat paling bulshit sejagad raya – aku baik baik saja – Kau berhak menguapkan rasa sakitmu, entah pada dunia atau pada sajadahmu.

Aku paham, caramu membebat luka hanyalah kamuflase yang kau tampakkan pada dunia, luka itu masih ada dan berdarah akibat goresan tajamnya cinta yg salah. Kau sedang mencoba berdamai dengan waktu dan logika, kau belajar memaknai ikhlas sebagai part terwajib dalam drama hidupmu.

Wahai hatiku..apapun opsi yang kamu pilih, yakinilah bahwa sakit itu hanya sementara,

meski bagian tersulitnya adalah menghapus bekas luka.. memaafkan dan berdamai dengan amarah. Memang bukan perkara mudah, terlebih lagi luka yang di sebabkan oleh orang yang paling kita cintai, paling kita percayai..namun itu hanya sedikit pertanda dr sang Maha pemilik semesta, bahwa kita tidak tinggal di surga, melainkan di dunia tempat dimana kita harus belajar memperjuangkan atau belajar mengikhlaskan.

Hatiku yg patah adalah bukti bahwa kau bernyawa, bahwa aku manusia yang memiliki hati..
menangislah seperlunya…
berteriaklah semampunya… tapi jangan pernah menyerah, keluarlah sebagai pemenang tak perduli meski harus bersimbah darah..

Pemenang adalah mereka yang mampu berdamai dengan amarahnya…

Wahai hatiku.. bersabarlah, Allah tengah menghitung setiap inci lukamu dan Dia akan segera menggantinya dg bahagia. Hanya soal waktu, meski mungkin terasa sedikit lama, tetaplah percaya.. Janji Allah itu nyata, dan akan datang tepat pada waktunya.

Dariku, yang ingin kau bahagia..