Ketika aku terbangun di sisi ranjang, kudapati tubuhku hanya terbalut pakaian di bagian-bagian intim saja. Kegelapan seakan menyatu dengan hawa dingin membentuk sebuah kesempurnaan. Kesempurnaan yang hatiku telah lama dambakan.

Sejenak kujernihkan pikiranku, tapi ternyata nggak bisa. Tanganku – seperti telah dibiasakan – meraih telepon genggam di atas meja dan menggeser fitur-fitur aplikasi untuk mengecek daftar pesan masuk. Nihil. Kucoba menyambungkannya dengan sinyal wifi di kos supaya pesan-pesan di media sosial terbaca, ternyata ada.

Nggak ada obrolan penting di pesan grup sehingga aku beralih ke pesan-pesan masuk lainnya. Ada 2-3 pesan dari sebuah akun pribadi yang nggak asing lagi di ingatanku, sebuah akun yang aku hindari sebisa mungkin. Kutahan jemariku supaya nggak membukanya, tapi hatiku bersikeras dan terlihatlah apa yang ada di dalamnya.

Alo

Aku kangen nih :*

Nin?

Aku menghela napas berat, kecewa menyesakkan kepala dan dadaku saat itu juga. Bimbang menyelubungi udara pagi buta itu seperti kabut. Logika dalam kepalaku bekerja keras menghalauku mengirimkan balasan, lain lagi dengan hati yang di dalamnya telah muncul kembang-kembang. Duh, bikin baper aja!

Namun, itu semua nggak bertahan lama. Aku segera teringat akan timeline dan target yang mesti kucapai setelah bangun tidur. Mandi, berpakaian rapi, membungkus baju untuk dikirim ke laundry, memasak sarapan, cuci piring adalah rangkaian timeline pertamaku pagi itu. Belum lagi nanti siang masih ada jadwal nge-lab, kelas, dan bikin laporan sebelum tubuh ini kembali merebah di atas tempat tidur. Siapa yang tahu kapan waktu membolehkanku untuk beristirahat sejenak?

Pada akhirnya, pesan yang tadi belum sempat dibalas hanya kutinggal menganggur saja di daftar pesan masuk. Menganggur tanpa tahu kata apa yang harus diketik sebagai balasannya.

. . . . . . . . . . . . .

Tiga hari berlalu setelah pesan nggak diinginkan itu datang dan hebatnya, aku sama sekali belum mengirimkan balasan. Malam itu aku kembali ke kamar dengan perut kenyang terisi nasi goreng hangat dari gerobak di depan kos – salah satu makanan andalan di saat perut lapar dan kaki terlalu lelah diajak pergi menyusuri jalan yang siapa tahu banyak penjual makanannya.

Selesai mandi dan ganti baju, aku merentangkan selimut menutupi tubuhku yang berat dihantam rentetan aktivitas dan tugas-tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Tanganku menggenggam telepon genggam sekadar mengecek pesan masuk di media sosial malam itu dan mumpung sempat, sekalian mengecek akun Instagram milikku.

Nggak cukup digempur rasa lelah, akun Instagram si pengirim pesan nggak diinginkan 3 hari yang lalu itu baru saja mengunggah foto mesranya dengan seorang perempuan dilengkapi beberapa tagar

#NikmatiKebersamaan

#Udahduatahunjalan

#GaNikahNikah

#DuitGaKekumpul

Membacanya membuat aliran darahku terasa dipaksa mengalir ke arah sebaliknya. Aku nggak tahu apa aku harus kesal, kecewa, marah, sedih, atau apa. Di saat aku mulai berpikir untuk memulai kembali hubungan baru dengannya, kenapa dia sedang bersama dengan yang lain? Kelihatannya aku nggak ada artinya sama sekali untuknya, dia membohongiku, aku dimanfaatin. Pikiran-pikiran buruk melintasi kedua belah otakku secepat darah masuk dan mengisi rongga-rongganya.

Ada retakan kecil di hatiku, nggak seberapa tapi tetap terasa perihnya. Aku segera diingatkan akan kebersamaan-kebersamaan semu yang pernah terlewati bersamanya, kemudian dikhianati dan dipermainkan hingga akhirnya menjadi pihak yang ditinggal. Pilu. Hatiku nyeri mengingat semuanya.

Jika tersakiti, mengapa masih memilih untuk berada di dekatnya? Sungguh, orang baik hanya pantas untuk orang baik dan yang kurang baik hanya pantas untuk yang kurang baik pula. Mengapa memilih menurunkan standar hanya karena belum ada yang berani mengetuk pintu hatiku? Di saat yang sama, aku memilih untuk menyalahkan perbuatan yang kupikir benar-benar bodoh.

Ada ketidaksabaran menunggu jodoh tertancap di hatiku, ada rasa ingin disayang dan dicintai lawan jenis mengisi pojok hatiku. Namun, aku nggak segitu egoisnya menuruti tuntutan-tuntutan perasaanku yang haus kasih sayang… sebab… aku sadar jika masih ada derajat dan harga diri yang mesti dijaga dengan baik.

Bersabarlah, sesungguhnya Tuhan menyayangi kita lebih dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Meski cinta dari pasangan hidup belum menghampiri, masih ada cinta dari orang-orang yang mengasihi kita, orang-orang yang peduli akan kebaikan kita, orang-orang yang menanamkan pemikiran positif daripada yang negatif. Daripada takut nggak akan dicintai lawan jenis, takutlah untuk nggak bisa mencintai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.