Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan hadiah, hadiah dalam bentuk pahala yang berlipat gandanya. Bulan ini menjadi bulan yang senantiasa dinanti oleh mereka yang mengerti akan kedahsyatan bulan ini. Karena telah dijelaskan dalam kitab Durrotun Nashihin bahwa api neraka diharamkan untuk mereka yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, tentunya bergembira dalam artian akhirat bukan sekedar dunia semata. Dan untuk bergembira dengan tulus akan hal ini saja sulit, kenapa bisa seperti ini padahal kita umat muslim. Karena menjadi muslim itu mudah, semudah kita mengisi formulir pembuatan Kartu Tanda Penduduk, namun sangat sulit ketika kita benar-benar aplikasikan dalam kehidupan kita.

Bahagianya menyambut bulan Ramadhan dalam arti sebenarnya hanya dirasakan oleh orang-orang yang mendapatkan hidayah oleh-Nya. Boleh jadi dalam usia matang kita ini, kita belum pernah sama sekali mendapat hidayah berupa rasa bahagia menyambut bulan Ramadhan.

Ada satu kegiatan di bulan Ramadhan yang seakan menjadi tradisi turun temurun oleh nenek moyang, yakni berbuka bersama anak yatim atau orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi. Namun seiring berkembangnya jaman, kegiatan tersebut meluas bukan hanya buka bersama, ada sahur bersama, bagi takjil bersama, berbagi sembako lebaran bahkan belanja keperluan lebaran untuk mereka. Apa yang salah dari semua program ini? Insyaallah tidak ada yang salah selama niatnya benar karena apa yang kita lakukan akan mendapatkan pahala sesuai niatan kita bukan sesuai besar kecilnya kegiatan kita atau bahkan sesuai keren tidaknya kegiatan kita.

Kemudian muncul beberapa pembahasan, pertama adanya panti asuhan yang kualahan menerima ajakan buka bersama bahkan mereka sampai menolak ajakan buka bersama, atau terlalu banyak menerima makanan untuk berbuka dan akhirnya kekurangan makanan sahur karena makanan yang diberikan untuk berbuka kurang layak dikonsumsi ketika sahur. Kedua, karena sosial media seakan menjadi kewajiban, dalam setiap kegiatan sosial di bulan Ramadhan selalu mengepost apa saja dan dimana saja kita mengadakan kegiatan, tanpa sadar kita seakan membuat adik-adik panti atau saudara-saudara kita yang kurang mampu sebagai artis dadakan di bulan Ramadhan karena terlalu seringnya wajah mereka memenuhi beranda sosial media kita. Dan ketiga tentang kemana para donatur dan pelaksana kegiatan-kegiatan baik setelah Ramadhan usai, panti asuhan menjadi sepi kembali dan orang-orang kurang mampu kembali diabaikan, bukankah mereka membutuhkan bantuan tidak hanya pada saat Ramadhan saja, sedangkan 11 bulan lainnya mereka kembali hilang dari hati kita.

Pertanyaan tentang kemana dan bagaimana dengan setelah bulan ramadhan usai. Kembali lagi pada niat dan hidayah. Tak usahlah kita terlalu memusingkan bahkan menggurui mereka yang kita anggap kurang tepat ketika hanya mengadakan kegiatan bakti sosial di bulan Ramadhan saja, karena kita tidak pernah tahu bagaimana niatan seseorang, bahkan ketika membahas niat mereka yang berbuat kebaikan di bulan Ramadhan sebenarnya pada akhir pembahasan kita nanti lebih mudah menggiring untuk berpikiran buruk daripada berpikiran baik akan niatan dan kegiatan mereka. Karena berpendapat sesuai apa yang hanya kita lihat adalah sebuah prasangka, bagus ketika prasangka kita adalah sesuatu yang positif tapi tidak jika yang muncul adalah prasangka selain itu.

Advertisement

Sebenarnya yang menjadikan miris bukannya mereka yang menjadikan bulan Ramadhan sebagai ajang nampang di sosial media, melainkan kita menjadikan apa yang mereka telah lakukan sebagai bahan gunjingan, karena sekali lagi niat dalam hati seseorang hanya diri mereka sendiri dan Tuhan yang tahu, akan terlalu menyita waktu jika kita sebagai manusia ikut menilai niatan orang. Dan terakhir untuk pertanyaan kemana mereka setelah bulan Ramadhan usai? Hal ini bukan menjadi ranah kita untuk mempertanyaakan karena adanya perilaku baik dalam diri seseorang adalah kinerja dari sebuah hidayah, karena hidayah adalah barang paling berharga yang diberikan oleh Tuhan untuk orang-orang yang Dia kehendaki. Bahkan kita sering membaca sebuah hadist yang mengungkapkan tentang keinginan seseorang untuk membeli hidayah dan dibagikan kepada orang-orang yang disayangi. Karena hidayah tersebut adalah sesuatu yang tidak mampu dibeli oleh siapapun dengan harta duniawi. Namun kita bisa mengusahakannya dengan berdoa, dengan doa kita mungkin saja kita bisa membantu menyelesaikan tiga permasalahan sekaligus yakni membantu agar orang lain mendapatkan hidayah untuk selalu mengadakan kegiatan positif di luar bulan Ramadhan sehingga adik-adik kita di panti asuhan dan saudara-saudara kita yang kurang mampu akan berlipat bahagianya tidak saja di bulan ramadhan.

Dan hidayah untuk diri kita sendiri agar kita selalu istiqomah untuk berpikiran baik dan melalukan hal baik tanpa pernah merasa sudah baik.