Kamu bilang

Kamu merasa nyaman di dekatku, merasa berbeda kalau di dekatku, kamu akan serius, akan menjaga semua untukku, jika aku tak membalas perasaanmu jangan pernah aku menjauhimu, akan tetap memberikan sayangmu untukku, selalu ada untukku kapanpun itu.

Aku menghabiskan waktu dengan belajar menerima, apa yang memang belum ditakdirkan teruntuk diriku sekarang. Walaupun hanya tersisa harapan, aku selalu mencoba percaya akan harapan yang disimpan dengan indah yang hanya akan menjadi milikku.

Aku masih berharap kamu sadar bahwa aku ada, di sini, di sisimu, bukan di depan maupun di belakangmu, aku tepat di sampingmu, kamu hanya perlu menoleh sedikit melihat aku.

Tak jarang aku memikirkan apa semua mungkin bisa terjadi? Yaaa harapan yang aku ciptakan setelah mengenalmu. Apa mungkin kita bisa benar-benar dipertemukan jika hanya aku yang berusaha mencarimu? Akan adakah waktumu untukku menceritakan perasaan ini?

Karena sayang itu gak butuh alasan hanya perlu aku dan kamu rasakan karena yang tau hati ini

Advertisement

Dekat seakan tak pernah ada jarak di antara kita yang membuatku belajar mengerti kamu dengan semua perhatian, kasih sayang, sifat manjamu, hingga ejekan-ejekan yang kamu berikan untukku, mungkin dulu aku belum paham apa arti semua itu atau karena aku yang masih dihantui dengan masa lalumu.

Karena aku tipikal yang susah melupakan kenangan, bisa jadi itu menjadi alasan kuat aku takut kamu kembali kemasa lalumu yang indah yang mungkin takkan bisa aku gantikan ketika kamu bersamaku.

Bagaimanapun sayang gak butuh alasan untuk diberikan seperti yang kamu ucapkan padaku.

Aku menginginkanmu, seperti dulu kamu sering melihat mataku tanpa berkata satu patah kata kemudian tersenyum, apa sebenarnya yang ada dibenakmu melihatku. Cerita akan mimpi-mimpi kita kelak, berandai-andai jika suatu saat aku menemukan pasangan yang begini-begitu.

Berangan kemungkinan yang akan kita lewati nanti. Bertanya mungkinkah kamu akan bertemu dengan kebahagian yang sesungguhnya dan membuatku tertawa dengan kekonyolan yang selalu aku rindukan.

Jika mereka dapat dengan mudahnya menuntaskan rindu, maka aku hanya bisa mengalihkannya dengan mengerjakan hal lain demi membunuh waktu akan rindu yang tak berujung ini. Mencoba sibuk untuk menghabiskan waktu tanpa harus menjadi terpaku hanya terdiam menunggumu.

Menunggumu muncul di jendela notifku, menjadi keseharian yang tak pernah absen kulakukan. Mungkin orang di sekitarku pun terusik ketika aku selalu menatap layar handphone memeriksa notifku. Aku hanya tak ingin melewatkanmu dan membiarkanmu menunggu lama, walaupun aku sering menunggumu.

Ketika penantian tak menjemukanku dan saat itulah yang aku tunggu hadir meski hanya sapaan namaku yang kamu sebut, tak pedulikan itu yang aku tau hanya kamu sedang berfikir tentangku.

Ironis memang, tapi menyenangkan ketika menunggumu bukan hanya sekedar harapan.

Menunggu kamu membukakan lagi pintu hati yang dahulunya pernah kamu buka, tapi belum sempat aku melangkahkan kaki untuk masuk, kamu sudah lebih dulu menutupnya rapat bahkan setelah aku mengetuknya berulang kali kamu tetap tak membukanya.

Itu di bagian hatimu berbeda dengan di bagian hatiku, sejak mengenalmu aku mencoba berusaha membuka hati dengan perlahan, hanya saja ketika pintu itu terbuka kamu enggan masuk untuk berada di dalamnya.

Aku sadar kamu sudah mengakhiri semua cerita cinta kita, berhenti dan tak ingin berbagi hari denganku lagi. Ketika kamu menganggapku sebagai kesalahpahaman, bolehkah aku menganggapmu sebagai kebahagiaan yang tidak sengaja aku abaikan?

Tiap aku mencari alasan mengapa aku begitu buta aku semakin menemukanmu.

Berperan sebagai pembohong ketika aku mengatakan semuanya baik-baik saja sedangkan sebenarnya yang hatiku rasakan ialah kehancuran sedang tidak baik-baik saja. Saat aku merasa seperti kehilangan harapan, mungkin saat itu aku mampu mengatakan semua yang sebenarnya aku pendam yang sudah lama ingin kukatakan tapi aku tak memiliki kekuatan untuk mengatakannya bahwa aku mencintainya sepenuh hati.

Hari ini ijinkan aku meninggalkannya meskipun sakit tapi aku pernah melewati yang lebih hancur dari ini sebelumnya. Kumohon jangan datang lagi dalam segala bentuk apapun.

Tolong bergeserlah sedikit dari pintu hatiku, jika kamu tak berkenan masuk, itu hanya akan menghalangi pandanganku kepada yang lainnya yang telah berkenan masuk.

Hati, kumohon kali ini bisakah kamu lepaskan yang tak ingin digenggam, jangan memaksakan menggenggam duri mawar itu hanya akan melukaimu.

Mungkin beberapa waktu lalu aku sangat kuat meyakini harapanku.

Tapi jika yang menciptakan kita tidak menghendaki harapanku ini aku tak bisa berbuat apapun, hanya merelakan Tuhan yang mengatur sebagaimana mestinya kita masih ada harapan yang jauh lebih baik untuk diperjuangkan.