Dan aku tidak akan menghalangimu, silakan saja. Kamu ternyata hanya tertarik ketika mengejar, tapi tak begitu tertarik mempertahankan. Jadi silakan saja.

Silakan, kau kejar dia yang mirip masa lalumu, dia yang mirip idolamu. Aku tidak akan cemburu.

Karena itu semakin membuktikan padaku, bahwa aku yang terlalu naif memperjuangkan kesemuan ikatan. Ia yang kupikir akan membersamaiku ternyata tidak begitu bisa membersamai. Jadi akan aku hantarkan kamu sampai pintu hati, silakan pergi. Aku tidak akan cemburu.

Saat realita menyadarkanku, tak ada lagi tangis yang terpecah. Tidak juga dengan lagu-lagu bernuansa putus cinta yang aku putar di sekeliling kamar, tak ada. Aku mencoba untuk membuat kesenduan di hidupku hari itu, tapi benar-benar tidak tercipta.

Inikah amarah sesungguhnya? Atau aku pun tidak benar-benar mencintaimu? Atau mungkin hatiku yang sudah teramat letih merasakan perih dari orang yang sama?

Aku sepertinya tidak akan cemburu, dan tak akan pernah bisa berhak mencemburuimu lagi. Sejak tulisan ini aku tuliskan, setelah malam ini, kamu sudah menjadi orang asing di hatiku, orang asing yang sempat singgah beberapa waktu. Sekarang kamu bisa mencari hati lain yang mampu menerimamu.

Mungkin aku tidak cukup sabar menghadapi sikap kerasmu, aku tidak cukup memaklumi sifatmu yang jarang bisa serius, aku tidak cukup cakap meyakinkanmu ketika kamu ragu, aku tidak cukup sigap ketika kamu butuh, dan aku juga tidak cukup mendewasakanmu.

Jadi, silakan saja kau cari orang lain, fluktuasi hatiku mencapai nadirnya malam ini.

Meski dia hanya teman yang tak terlalu dekat, namun dia tetap temanku, bagaimana bisa kamu memujinya berulang-ulang kali di hadapanku? Menyimpan fotonya di galeri handphone-mu. Kamu keterlaluan atau aku yang cemburuan? Sepertinya aku yang cemburuan, selalu aku bukan yang salah? Baiklah, Aku tidak akan cemburu lagi.

Beberapa kesempatan, aku seolah tidak mengetahui kebenaran-kebenaran yang kau sembunyikan. Setidaknya kamu harus jaga perasaanku yang kau ucapkan kalimat "Aku berjuang untukmu", aku tau sifatmu yang mudah bosan, aku tau… Aku pun tau aku membosankan, tapi setidaknya kamu dulu jaga kalimat-kalimat yang kau utarakan, tak usah seolah akan jadi kenyataan, padahal hanya bisa kau jadikan angan-angan.

Aku ingat betul bagaimana kamu dengan amarahmu membuat suasana begitu mencekam, hanya karena aku berbalas pesan dengan teman-temanku, yang bahkan aku kenal sebelum aku mengenal kamu. Tapi malah aku kan yang meminta maaf? Lalu, ketika kamu diam-diam menghubungi lagi masa lalumu dan aku pura-pura tidak tau, apakah kamu mencoba memberi tau ku? Tidak kan? Boro-boro apalagi kamu meminta maaf. Aku mencoba untuk tidak cemburu saat itu.

Aku tidak akan cemburu, jika kini kau beralih. Semoga kamu nanti menemukan orang yang lebih dibanding aku atau kamu ciptakan saja sosok idealmu itu. Sungguh… Biar aku tidak akan cemburu.

Aku hanya ingin mengingatkanmu, bahwa di dunia ini tidak ada seorang yang sempurna dan seideal harapan kita, jika kita pun tidak menjadi orang yang pantas untuk membersamainya. Kita hanya bisa mencoba menyempurnakan ikatan, meski ikatan itu sampai kapanpun memang tidak akan bisa sempurna. Di bumi Allah ini, tugas kita hanya mencoba mendekati kesempurnaan, jika memang kesempurnaan itu tercipta, itu hanyalah persepsi kita saja. Termasuk Seorang Pendamping yang ideal.

Aku mulai saat ini mencoba untuk tidak menyibukan diri berusaha terlalu keras untuk menjadi yang sempurna di mata siapapun, karna aku tersadar, menjadi sebaik-baiknya dari diriku adalah tugas utama untukku saat ini. Nanti, Allah akan kirimkan kesempurnaanku di mata seseorang yang menjadi Jodohku. Ia akan dikaruniai Allah persepsi, bahwa aku lah yang paling ideal untuknya, tanpa aku harus bersusah payah menjadi yang paling ideal dari seluruh wanita dihidupnya, karena Allah yang mengatur sisanya dari usaha menjadi Ideal untuknya sebisaku.

Aku tidak akan cemburu jika takdirmu memang mendapatkan yang lebih dariku, sesosok perempuan idamanmu, yang rela diduakan diam-diam.

Aku tidak akan cemburu, percayalah.

Ia yang tepat, akan mengingatkanmu pada akhirat!

Silakan kamu cari perempuan itu, dan jika sudah kamu temui di dunia nyata, kamu tolong kirimkan undangannya kepadaku, aku pasti datang. Aku hanya ingin melihat rupanya, aku ingin menjawab pertanyaan pribadiku saja “bagaimana sosok yang sebenarnya dulu kau cari dariku?”.

Selamat mencari ya… Aku tunggu undangannya.