Aku mulai terbiasa tanpamu. Melewatkan hari – hariku bersama keluarga, sahabat, dan teman teman yang begitu menyayangiku. Aku masih ingat saat-saat kita berdua. Melewati tiga tahun bersama. Dan kini kita harus terpisah karena seorang wanita, yang bahkan aku tak mengenalnya sedikit pun.

Tiga tahun bersamamu, aku merasa sangat bahagia. Tiga tahun kita bersahabat dengan jarak dan waktu yang memisahkan kita. Aku teringat ketika pertama kalinya aku mengenalmu. Di detik-detik terakhir saat semua kegiatan perkuliahan sudah hampir selesai. Kita berada di satu tempat kuliah yang sama. Aku mengambil jurusan kebidanan dan kamu mengambil jurusan keperawatan.

Dengan sikapmu yang selalu sok kenal sok dekat dengan orang lain, akhirnya kau pun mengenalku. Berawal dari keinginanmu meminjam laptopku ketika kamu ujian proposal, sampai akhirnya kita sms-an dan telponan. Komunikasi semakin intens sampai pada akhirnya kita harus terpisah, kita wisuda, kembali ke kota asal masing-masing. Tapi komunikasi tetap berjalan lewat ponsel.

Sampai akhirnya aku mendapat pekerjaan sesuai dengan cita–citaku dan kau belum mendapat panggilan kerja. Setiap hari kamu mengirim pesan melalui ponselku, bercerita semua keluh kesahmu tentang panggilan kerja yang belum juga kau dapatkan. Entah kenapa aku begitu ingin membantumu. Serta merta saja aku menyarankanmu untuk melamar pekerjaan di kota asalku.

Yang kupikir saat itu, mungkin saja rejekimu ada di kotaku. Dari niat tulusku itu, komunikasi kita semakin akrab dan kau pun rajin memintaku untuk mengantar ke beberapa rumah sakit tempatmu melamar pekerjaan. Panas dan hujan kita lewati sebagai perjuangan agar kau memperoleh pekerjaan. Sejak itu pula kita menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.

Advertisement

Alhamdulillah, kau pun diterima di salah satu rumah sakit di kotaku. Setiap hari kita menyempatkan waktu untuk bertemu. Namun, tiga bulan kemudian kamu berhenti bekerja karena merasa pendapatan dari bekerja di rumah sakit belum memuaskan bagimu. Seketika itu juga kamu merasa gelisah dengan nasib jalinan kasih kita. Kamu takut aku meninggalkanmu dengan status menganggurmu.

Tapi aku tetap setia di sisimu dan berusaha mencarikanmu lowongan pekerjaan lagi, selalu memberimu semangat dan mendukung apapun keputusanmu. Pada akhirnya kau pun mendapat tawaran pekerjaan di kota lain, bukan kota asalmu, dan bukan kota asalku. Kota yang akhirnya memisahkan kita. Aku senang dengan ceritamu bahwa kini pendapatanmu sangat memuaskan.

Dua tahun kita menjalani hubungan jarak jauh karena aku pun harus menerima tawaran beasiswa pendidikan lanjutan dari kantorku dimana kampus tempatku kuliah itu jauh dari kota asalku, bahkan berbeda pulau. Dua tahun lebih kita jalani dengan penuh kasih. Tibalah pada akhir tahun ketiga, pertengkaran-pertengkaran kecil sampai yang besar mulai terjadi.

Aku sering marah karena kesibukanmu di ruang operasi dan kau sering marah karena kesibukanku di tempat kuliah yang baru. Ketidakberuntungan bagiku, aku jauh darimu, sementara di sana ternyata kamu membuka peluang di hatimu untuk wanita lain masuk ke dalamnya.

Entah rayuan macam apa yang kamu berikan padanya sampai dirinya rela menjadi orang ketiga dalam hubungan kita. Sekalipun semua teman-temanmu telah lelah menasehati kalian berdua, kalian tetap saja menikmati permainan kalian. Mungkin ini memang takdirku, tiga tahun harus berakhir karena ternyata jarak dan waktu menang dari hubungan kita. Kau tak mampu melawan jarak dan waktu. Kehadiran wanita itu terlalu menyeretmu jauh, jauh dari sisiku. Aku tidak akan berdoa yang buruk untuk kalian berdua. Aku justru bersyukur karena dijauhkan dari seorang penghianat.

Terima kasih, hey wanita perebut, kau menjauhkanku dari lelaki tidak baik. Kalian cocok satu sama lain. penghianat dan perusak hubungan orang. Satu-satunya kesalahan si penghianat adalah memberi jalan bagi wanita perebut untuk memporakporandakan hubungan yang bahkan hampir menemui titik pernikahan. Pernikahan yang telah kita rencanakan jauh-jauh hari.

Bermula dari pertemuan dua keluarga besar dan saat itu juga kau melamarku. Aku hanya memintamu menunggu sampai wisudaku, hanya beberapa bulan lagi. Pada akhirnya, ketika aku akan ujian tesis, wanita itu mulai masuk dalam hubungan kita. Pupus sudah harapanku yang ingin melihatmu bangga melihat wisudaku. Mungkin kamu memang bukan jodohku. Tapi yang perlu kamu tahu, sekarang aku bahagia.

Aku sudah tak lagi mencemaskan seseorang yang hatinya terbagi dua, sama sekali tidak tegas, tidak bertanggungjawab dan tidak menghargai sebuah komitmen. Semoga bibit buruk yang kau tuai selama ini kepadaku dan keluargaku, tidak menjadi hal buruk yang akan kau panen dengan keluargamu kelak.

Duniaku tanpamu ternyata baik-baik saja, aku menghabiskan banyak waktu untuk kerja di kantorku, tertawa bersama sahabat dan keluarga serta melakukan banyak hal secara mandiri dan menyenangkan. Ternyata semua sahabatku mendukung keputusanku mengakhiri hubungan denganmu. Mereka bahagia aku terbebas dari lelaki tidak setia. Aku yakin Tuhan akan menggantikan sosok dirimu dengan lelaki yang jauh lebih baik untukku. Matahari tetap bersinar dengan indahnya. Dariku, yang sudah sembuh dari luka.