"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim"

Hi Mom, maaf aku menganggu waktu mu sebentar. Ini sebagian isi dari perasaan bathin ku yang tersiksa. Mungkin aku tulis, dengan linangan air mata. Sepertinya berlebihan, yah tapi itu yang aku rasakan. Lagi – lagi tentang pria yang akan menjadi pilihan anakmu. Pria yang kelak nantinya akan menjadi pendamping hidupku. Pria dengan segenap pilihan darimu.

Hi Mom, aku tau, setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk pasangan hidup yang akan menjadi anakmu juga nanti nya. Tapi ketauhilah Mom, kriteria mu itu sangat menyiksa batinku. Aku tidak begitu mempersalahkan penilaian darimu tentang pekerjaan, pembekalan pendidikan dan sikap. Wajar saja, setiap seseorang berhak melihat penilaian tersebut. Tapi satu penilainmu yang sangat menyiksa bathinku adalah ukuran pandangan mata dengan wajah rupawan.

Hi Mom, tolong ketahuilah, mengenai rupawan dan struktur fisik manusia hanya DIA yang berkendak. DIA yang memberi secara mutlak. DIA yang merangkainya tanpa syarat. Tapi kenapa, kriteria ini menjadi salah satu faktor utama penilianmu, Mom? Seraya bathinku menolak dan berkecamuk saat ditanya “Apakah dia tampan?"

Aku tau, papa adalah pria paling tampan menurutmu. Yaahh..!! aku tau, hidung papa yang mancung, kulit putih, kumis tipis, badan tinggi semampai seperti model. Aku juga ingin mendapatkan yang seperti itu Mom. Tapi saat ini aku sedang berjalan dengan pria yang membuatku nyaman dan menjadikan berarti.

Advertisement

Memang, dia tidak tampan seperti yang Mom harapkan, Tapi dia sedang menjadikan aku wanita seperti bidadari yang lupa dari keegoisanku. Karena nya, rutinitasku berhadapan dengan Al-Quran semakin menjadi mayoritas. Karena nya aku lupa dengan keletihanku sepulang kerja.

Mom, maafkan aku, diam – diam aku pernah bertemu dengannya sewaktu Maghrib dan dia mengimami ku senja itu, tapi tenang Mom kita tidak hanya berdua, aku bersama beberapa teman dan kita solat bersama. Dia pria yang mampu tersenyum saat amarah sedang tinggi, dia selalu menyeringai ramah saat emosiku berlebih. Apakah aku harus benar – benar meninggalkan dia Mom? Seseorang yang menurutmu tidak sesuai dengan penilaian rupawan?