Desa sebagai organisasi resmi di dalam pemerintahan formal yang berada pada posisi paling rendah. Namun perkembangan negara-negara modern kini tidak dapat terepas dari tumbuh kembang desa di berbagai belahan dunia.- Mashuri Maschab.

Indonesia itu cantik, juga beraneka ragam. Terdiri dari banyak pulau yang indah dengan ribuan desa yang ada. Sudahkah pernah berpikir untuk kembali ke kampung dan menetap di desa? kembali ke kampung bukan berarti gagal dalam perantauan, hanya saja hati kecil terpanggil oleh ketertinggalan desa. Tidak masalah bermimpi demikian walau pun kebanyakan mahasiswa akan tertawa jika diceritakan mimpi yang demikian, sebab para sarjana selama kuliah terlah dibangun paradigma yang kurang tepat. Paradigma yang sering dibangun dari dunia pendidikan adalah menjadi karyawan perusahaan, dengan hidup di kantor yang ber AC.

Tidak masalah bekerja di manapun, namun jangan hapus keinginan untuk suatu saat kembali ke kampung halaman dan membangunnya. Jangan fikirkan kesulitan membangun desa, namun pikirkan apa yang bisa desa kembangkan. Pengalaman saya sebagai seseorang yang ikut bergerak dalam bidang pemerintahan, daerah dan desa masih sangat butuh bimbingan para sarjana yang kebanyakan hidup di kota.

Enam bulan ini saya yang membantu seorang praktisi dalam mengembangkan usahanya di bidang UMKM, BLUD dan beberapa konsultasi keuangan, telah banyak berkeliling ke berbagai daerah. Membuat pelatihan demi petalihan untuk berbagi ilmu yang dimiliki. Seperti beberapa waktu lalu, tim kecilku dipanggil ke Sulawesi Tengah untuk melatih bagian keuangan tentang pola pengelolaan keuangan BLUD. RSUD Tora Belo adalah nama RSUD yang tim kunjungi. Betapa mengagetkan bahwa gedung dan segalanya masih baru, ternyata RSUD ini baru berdiri, jadi wajarlah jika lokasi jauh ditempuh.

Saya sempat berdiskusi kecil dengan kepala bagian keuangan, ia mengatakan sulitnya mencari sarjana akuntansi yang mau bekerja di BLUD. Ia mengatakan sangat ingin mencari akuntan untuk membantunya. Ya wajar saja, kebanyakan yang bekerja di RS ini adalah jurusan kesehatan, bukan keuangan sehingga sulit untuk memahami keuangan. Padahal, saya berpikir sarjana akuntansi seperti jamur di kota. Bahkan banyak yang masih menganggur dan menunggu pekerjaan. Tidak meratanya para sarjana disebabkan bahwa sarjana belum mau hidup mengabdikan dirinya di desa, padahal di daerah masih sangat besar peluang untuk bekerja dan berkarir.

Advertisement

Di kota yang sudah penuh dengan hiruk pikuk ini, seringkali membuat diri berambisi tinggi namun lupa tidak bertindak. Harapan lulusan baru dengan tindakan yang diambil tidak sama. Para sarjana pasti memikirkan setelah lulus dapat bekerja di kantor dengan gaji tinggi, namun aksi untuk mengarah ke sana sangat kurang. Begitulah manusia yang dibentuk oleh zaman modern kota. Di desa segala cita bisa terwujud. Apalagi bagi mahasiswa yang dahulunya adalah aktivis, hidup di daerah sudah tentu tepat sekali.

….

Dalam pengertian desa sebagai pertumbuhan ekonomi, berarti desa merupakan suatu organisasi pemerintah yang memenuhi kebutuhan hidupnya dari kekayaan alam sekitar yang ada. Maksudnya adalah desa seringkali dituntut untuk mandiri, namun SDM desa yang sangat minim pengalaman membuat desa seakan terlupakan. Desa yang berada di daerah kota barangkali sudah memiliki beberapa SDM yang memahami, namun bagaimana desa-desa yang lainnya? Yang belum terjangkau oleh para pemikir yang siap berkorban dan mengabdi di desa?

Saya saat ini memang masih bekerja di sebuah perusahaan, namun tetap saja keinginan untuk kembali ke kampung dan mengembangkan desa masih ada. Sekarang pun, cita-cita itu mulai saya pupuk, kebetulan tempat bekerja saya adalah tempat kerja yang menunjang ke arah sana, sehingga harapan dan tindakan saya mulai tersinergikan mulai dair hari ini.

Jangan gengsi hidup di desa, sebab kota tidak menjamin kebijaksanaan berpikir. Setiap manusia memiliki kehidupan masing-masing, tak perlu memikirkan perkataan kebanyakan manusia. Bukan berarti kita lebih tahu, hanya saja kita yang lebih memahami diri sendiri.

Untuk para anak muda, sudah siapkah menjadi alskar daerah yang siap memajukan daerah sendiri?