Di persimpangan lampu merah, di temani sang mentari, aku melihat banyak pengemis lalu lalang untuk mengais rezeki mereka di antara para pengendara kendaraan roda dua maupun roda empat.

Di saat itupun sekilas aku mendengar apa yang mereka bicarakan walaupun tidak terlalu jelas terdengar, “Ini semua sudah takdir”. Apakah kalian pernah mendengar kata kata ini? Kata kata yang seolah olah membuat ku menahan diri untuk keluar dari cengkraman belenggu keputusasaan. Ini semua sudah takdir.

Aku cukup banyak sekali mendengar kata kata ini dari teman teman ku diluar sana, bahwa hidup nya sudah ditakdirkan jauh sebelum dia lahir maka dari itu mereka memilih pasrah akan apa yang sudah di takdirkan tuhan kepadanya, entah itu takdir yang baik baginya atau buruk baginya.

Jadi, apakah orang jahat sudah ditakdirkan tuhan menjadi jahat sejak lahir? Apakah pembunuh sudah ditakdirkan tuhan menjadi pembunuh sejak lahir? Aku pikir bukan seperti ini cara kerja Tuhan dalam konteks ini.

Aku pun sebenarnya tidak sepenuhnya sependapat dengan orang orang yang pasrah terhadap takdir yang ditentukan kepada nya, jika kita harus terima apa adanya takdir yang kita dapatkan, Untuk apa kita berobat jika takdir kita adalah sakit? Untuk apa kita menuntut ilmu jika takdir kita adalah bodoh? Untuk apa kita berbuat baik jika takdir kita adalah menjadi jahat?.

Advertisement

Senior di kantorku pernah membagi suatu hal, apakah takdir bisa dirubah dengan doa? Di dalam tulisannya itu, ia menyatakan bahwa ada takdir yang memang sudah ditentukan yang tidak bisa dirubah (mungkin ini yang dimaksud dengan Gen, DNA atau semacamnya) dan ada yang memang bisa kita ubah jika kita mau berikhtiar dan berusaha.

“Seandainya hambaku berdoa atau bersilahturahmi dan berbakti kepada orang tua, maka aku jadikan dia begini. Jika dia tak berdoa dan tidak bersilahturahmi serta durhaka kepada orang tua, maka ia aku jadikan seperti ini.”

Disini aku tidak akan membahasnya dalam perspektif keagamaan karena memang bukan kapasitasku disana, melainkan melihatnya dari konteks kehidupan.

Dari kutipan di atas menunjukan bahwa kita punya kemampuan untuk memilih karena memang pada dasarnya hidup itu adalah pilihan. Kita bisa memilih apakah kita mau bermalas malasan yang menyebabkan kebodohan atau kita mau bersemangat menuntut ilmu yang menyebabkan kita tahu bahwa betapa indahnya dunia ini dengan segala kekurangan di dalamnya.

Takdir itu adalah sebab-akibat, sebab kita malas, akibatnya kita bodoh.

Kita tidak bisa menyalahkan takdir atas apa yang sudah kita capai, sangat-sangat tidak adil jika kita menjadikan ini alasan yang bodoh dan tidak masuk akal atas kegagalan yang kita alami. Semua yang kita lakukan, semua yang kita usahakan tidak akan sia-sia pada akhirnya. Tuhan tahu kita sudah berusaha keras. Tuhan tahu kita sudah mengeluarkan segala kemampuan kita. Tuhan sangat tahu kita pantas mendapatkan sesuatu.

Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. That is how God works.

Misteri tentang takdir, itulah yang membuat dunia ini semakin menyenangkan untuk dijalani. Akankah kita senang jika kita sudah tahu akhir dari perjalanan kita? Akankah?

God works in mysterious ways.

Inilah yang membuat kita punya harapan, harapan akan kehidupan. Karena kita tidak tahu bagaimana ini semua akan berakhir maka kita berharap dengan berusaha yang terbaik untuk membuat semua nya menjadi lebih baik. Harapan lah yang membuat kita punya impian. Harapan lah yang membuat kita percaya akan ada masa nya dimana awan gelap tergantikan dengan cerah nya sang mentari. Harapan lah yang membuat hidup kita lebih bergairah.

Karena harapan, awal dari sebuah akhir yang indah.

Hope as high as you can, do not be afraid to fall. Because, I will catch you.