Hai Ladies, dalam hubungan pasti kalian pernah berada dalam posisi dimana kalian pernah merasa sebahagia-bahagianya perempuan yang sedang bahagia, dan sesedih-sedihnya perempuan yang sedang bersedih saat tak lagi diterima sebagaimana semestinya diri kalian. Dari fasa jatuh cinta, hingga patah hati. Kalian bisa jadi sangat menyayangi, namun tidak cukup kuat untuk bertahan. Dan berujung gundah antara bertahan atau melepaskan. Ini beberapa alasan kamu sudah cukup pantas untuk melepaskannya.

1. Butuh yang menerima kamu apa adanya. Menurut aku, point ini penting. Seseorang yang mencintai kita harus menerima kita apa adanya. Mungkin banyak yang berpendapat, “Kita kan harus merubah kejelekan seseorang”. Bukan, bukan seperti itu. Menerima apa adanya disini maksudku yang bener bener menerima bagaimana cara kita bergaya, berpenampilan, bergaul dan bagaimana pembawaan kita. Yang nggak banyak merubah. Kalau ingin ini ingin itu, kenapa nggak cari pasangan yang sesuai dengan kriteriamu? “Lho, tapi kan demi kebaikanmu juga” kebaikan apa? Kamu ini menjalin hubungan dengan aku atau dengan orang lain yang bisanya hanya sibuk mengritik aku? Aku nggak peduli dengan pandangan orang lain, mereka bukan bagian dari hidupku yang bisa seenaknya mengatur ini itu. Oke, ini alasan pertama, lanjut ke alasan selanjutnya.

2. Kamu dikekang, temanmu berkurang. Bukan bermaksud mengutamakan teman, daripada pendamping. Tapi untuk ukuran teman yang sudah lama kenal, kamu nggak akan membuang mereka begitu aja. Bagaimanapun, mereka pernah menjadi pelipur laramu, pernah menjadi penyemangatmu. Tentunya, saat dia belum masuk di kehidupanmu. Mungkin memang beberapa dari mereka ada yang dia cemburui. Kamu pun begitu, dengan beberapa temannya kamu juga cemburu. Kamu seringkali disebutnya cemburu buta dan memiliki perasaan yang nggak logis. Untuk kedua kalinya; iya, kamu memahaminya. Kamu hanya ingin dimengerti mengerti bahwa kamu juga sama seperti dirinya yang nggak punya perasaan apa apa pada mereka. Kamu mungkin juga merasa, Kenapa kamu nggak mencoba mengikhlaskan aku dengan teman temanku, seperti aku mengikhlaskan kamu dengan teman temanmu? Sesulit itukah berkorban? Lalu menurutmu, seberapa kerasnya aku mencoba dan berjuang melawan kesulitan itu? Kehilangan teman temanku? Tapi toh ternyata, pengertianmu nggak berarti apa apa untuknya.

3. Kamu butuh yang konsisten. Konsisten antara perkataan dan perbuatan. Konsisten dengan perbuatannya dulu, sebelum menilai perbuatan orang lain. Kalau kamu nggak boleh “ini itu”, kenapadia melakukan “ini itu”? Seringkali kamu tanyakan, kan? “Memang kamu mau kalau aku seperti itu?" "Nggak mau”, katamu. Tapi kalau kamu yang melakukan “ini itu”, marahnya bisa melampaui kata kata luar biasa.

4. Yang bersyukur karena memilikimu. “Wanita itu sering terbuai dengan apa yang Ia dengar, lelaki sering terbuai dengan apa yang Ia lihat”. Kinda senseless statement. Argumen itu hanya ditujukan kepada orang orang yang nggak bersyukur. Kita hanya perlu pandai pandai bersyukur karena memiliki pasangan kita masing masing. Karena apapun yang terjadi, hubungan yang dijalani adalah pilihan kita, kita harus siap dengan kekurangan masing masing. Bukannya malah lirik sana, lirik sini. Jika benar seorang wanita itu terbuai dengan apa yang Ia dengar, terbuai itupun dengan perkataan pasangannya. Bukan dengan perkataan yang Ia dengar dari orang lain. Setiap orang senang jika dirinya dianggap seseorang yang istimewa bagi pasangannya. Kamu mungkin nggak butuh dengan pujian yang membuatmu merasa bahwa kamu istimewa. Kamu percaya ini adalah sebuah pilihan yang memang hanya dijalani olehmu dan dia. Tapi setidaknya, bisakah dia menghargaimu? Dengan apa? Dengan tidak memuji-muji wanita lain, dan bersyukur.

Advertisement

Beberapa poin di atas mungkin bisa membuka pikiran kalian yang sedang gundah, melepaskan dia yang sudah sangat mengekangmu akan membuatmu lebih leluasa dalam menjalani kehidupanmu. No more curb!