Saya hanya berbagi dengan pengalaman saya. Bila anda suka bacalah jika tidak tinggalkanlah.

Seorang laki-laki muda berusia 25 tahunan, seorang perantau dari pulau timur pulau Bali. Merantau di Jogjakarta, sekolah hingga bekerja disebuah perusahaan yang tidak terlalu besar. Sebut saja namanya Boy. Boy adalah teman saya, hampi 2 tahun menjadi rekan kerja saya. Dia adalah seorang muslim sama seperti saya. Awal pertama saya menjadi temanya, saya lihat dan mendengar ceritanya dia adalah muslim yang kurang taat terhadap perintah Tuhan, seperti menjalankan ibadah wajib yaitu sholat. Singkat cerita dia bercerita pada saya, "saya tahu, jika barang siapa yang meninggalkan sholat itu dosa, tapi entah apa yang membuat saya belum melakukan kewajiban itu, saya sering bertanya kenapa saya tidak melakukan kewajiban itu, bahkan orang tua yang menyuruhpun saya belum melakukan".

Walaupun dia bukan pemabuk, namun dia juga meminum minuman yang diharamkan oleh agama islam, yaitu miras. Dia bahkan tahu, apa hukumnya meminum minuman tersebut. Ramadhan tahun pertama kami berteman, terkadang dia juga tidak puasa, malah terkadang dia habiskan nongkrong dengan teman kosnya ditempat hiburan menenggak miras. Tahun kedua kami berteman, hampir setiap hari jumat, dia selalu keruangan saya, 7 menit dia memberi kuliah agama islam kepada saya. Dari perihal beramal dengan harta, hingga maut. Dia tahu ajaran islam, namun dia belum melakukan perintah Tuhan yang itu wajib hukumnya bagi umat muslim.

"Saya berharap saya bisa diberi jalan terang, sehingga saya bisa mematuhi perintah Tuhan yang wajib itu", tuturnya kepada saya. Saya juga seorang muslim, namun saya juga bukan muslim yang baik, namun saya melaksanakan perintah Tuhan yang wajib tersebut, maaf jika kalimat ini terkesan riya' atau menyombongkan diri.

Tahun kedua masih berjalan, perubahan semakin terlihat. Setiap adzan zuhur, dia selalu pergi berangkat ke masjid dekat kantor untuk pergi sholat berjamaah. Hingga suatu saat beberapa orang dikantor kami sadar jika si Boy pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. "Saya tidak tahu apa yang membuatku mendapatkan cahaya dari Nya. Saya merasa tenang, jika saya melakukan kewajiban ini, walaupun saya masih harus beradaptasi dengan kebiasaan yang sudah lama saya tinggalkan", jawaban si Boy setelah saya tanya, "Apa yang membuatmu taat kepada Nya, Boy?".

Advertisement

Perubahan semakin terlihat, kala Boy memutuskan memotong seluruh celana Boy hingga tidak menutupi mata kaki, bahkan Boy memelihara jenggot dan pergi ke kantor dengan peci.

Setelah berjalan sekitar 3 bulan dari perubahan yang dilakukan Boy, Boy bilang kepada saya, "Kewajiban itu hukumnya wajib, maka kita wajib menjalankannya, itu tidak mudah, namun harus kita paksa. Awalnya itu berat, namun jika sudah kita jalani itu akan ringan. Hidayah ini datangnya dari diri sendiri, mau sampai kapan kau mencari? sampai mati kamu tidak akan menemukan jika kamu belum niat dari diri sendiri".

Jadi selama ini yang dilakukan Boy adalah belajar, belajar bagaimana dia berubah menjadi lebih baik, karena subuah kewajiban. Jalannya kini semakin lurus, melakukan perintah dan menjauhi larangan Tuhan nya. Bahkan ketika saya ajak dia ke klub malam, bukan untuk minum, hanya untuk menonton konser band kesayangan saya dia menolak. Apa yang saya pelajari dari Boy, Kewajiban itu wajib dikerjakan dalam kondisi apa pun.