Korea merupakan tempat yang sangat diidamkan-idamkan oleh aku dan adikku. Pada suatu hari dengan ajaibnya, Papa mengajak kita semua ke Korea. Ini ajaib lho. Karena sebelumnya Papa sudah bilang tidak ingin ke Korea. Sudah beberapa negara yang kita kunjungi, Papa selalu tidak pernah menggunakan jasa tour guide, jadi selalu kita sendiri yang mencari hotel, tempat makan, objek rekreasi, dan jalan menuju ke sana. Kita pergi ke Korea pada tahun 2014 tanggal 23 Mei malam dan pulang tanggal 28 Mei siang. Waktu yang sangat sebentar untuk mejelajahi negara yang sangat indah seperti Korea. Tapi apa daya karena kita semua berpacu dengan tanggal-tanggal aktivitas lainnya.

Kita menginap di sebuah guest house di Hongdae, kemudian pada malam terakhir di Korea, kita menginap di Itaewon. Hongdae merupakan kota yang sangat rapi dan metropolitan. Bisa dibilang sebagai kota anak muda karena banyak cafe, factory outlet, dan street perfomance yang berkontribusi dalam kekreatifan anak muda Hongdae. Sedangkan Itaewon merupakan daerahnya para turis, banyak orang asing dan tempat oleh-oleh di sana. Bahkan ada masjid dan beberapa restoran-restoran makanan halal yang rata-rata adalah makanan India seperti kari, roti cane, dll.

Dari lima hari tersebut, yang paling berkesan adalah tanggal 26. Rencana pertama kita adalah ke Hello Kitty Cafe. Kafe ini sih harusnya tidak jauh dari tempat kami menginap karena masih sama-sama di Hongdae. Tapi memang segala sesuatu itu Tuhan yang merencanakan. Kita sudah melihat peta, masih saja berkeliling di tempat yang itu-itu lagi. Akhirnya di pagi yang sangat sibuk itu kita bertanya pada orang-orang yang kita temui di jalan. Sebagai orang yang tidak bisa bahasa Korea, cukup sulit juga untuk mendapatkan jawaban. Tapi sebagai info, di kota-kota besar di Korea, sudah cukup banyak anak muda yang bisa berbahasa Inggris dan sangat ramah pada turis. Setelah perjuangan panjang, sampailah kita di Hello Kitty Cafe dan BELUM BUKA.

Karena perjuangan panjang tidak mungkin kita pulang begitu saja. Kita menunggu sampai buka dan kita tidak pernah menyesal datang ke sana. Di dalamnya semua warna pink dan serba Hello Kitty. Bahkan sampai toiletnya pun Hello Kitty dan sangat pink. 80% hal yang kita lakukan di kafe itu adalah foto-foto. Sisanya untuk makan dan mengobrol merencanakan perjalanan berikutnya. Kita hanya membeli pancake dan coffee latte yang sangat appealing dengan hiasan Hello Kitty di atasnya. Ingin sih beli yang lain juga, tapi harganya cukup tinggi kawan.

Rencana kita berikutnya adalah ke Lotte World. Yang kita kenal biasanya hanya Lotte Mall, Lotte World ini rupanya masih satu grup dengan Lotte Mall. Lotte World merupakan sebuah arena rekreasi seperti Dufan, di mana Lotte World memiliki arena di dalam ruangan dan di luar ruangan. Yang di dalam benar-benar seperti mall, dan di luar merupakan tempat-tempat wahana ekstrim yang memicu jantung. Satu peringatan sebelum ke sana atau ke Korea, di Korea banyak orang pacaran. Entah karena pengaruh Drama Korea atau apa, kebanyakan pengunjung adalah muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Dan tak sedikit juga yang masih mengenakan seragam.

Advertisement

Aku dan adik tidak sempat bermain di arena luar karena kita harus mengejar waktu untuk ke Han River. Tahu kan? Itu lho yang sering kita liat di drama-drama Korea. Sungai indah dengan atraksi air mancur warna-warni. Romantis bukan?

Dan seperti biasa, mencari jalan itu tidaklah mudah. Karena kita turun di stasiun dan nyasar-nyasar dulu, jadi jalan menuju Han River sangat jauh. Kita sempat bertanya ke beberapa orang, dan kita ikuti arah yang mereka kasih dan ternyata, kita masih salah arah. Kita tanya ke beberapa orang dan ke seorang Bapak yang kelihatannya baru pulang dari kantor. Beliau sangat baik, karena beliau tidak begitu hapal jam berapa atraksinya dan menelepon temannya untuk menanyakan jam dan menjelaskan kembali kepada kita dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Perjuangan kita tidak berhenti di situ karena kita masih belum sampai-sampai juga. Aku dan adikku sudah sangat excited sampai-sampai kita berlari. Orang tuaku menyuruh kita berlari duluan dan mereka nyusul. Kita berlari sangat cepat sehingga Papa dan Mama tidak terlihat lagi. Kita masih terus berlari dan berlari sampai kita melihat ada jembatan dengan air terjun warna-warni. Disaat itulah kita tahu, itu adalah jembatan yang kita tuju.

Atraksi dan pemandangannya sangat indah dan benar saja melihatnya bisa membuat bahagia dan tersenyum. Namun sayang, saat kita datang, atraksinya sudah akan selesai tidak lama lagi. Namun cukup lah kita mengabadikan foto warna-warni di jembatan yang dikenal sebagai, Banpo Bridge. Setelah atraksi selesai, barulah kita sadar, papa dan mama belum sampai! Kita belum panik dan masih menenangkan diri masing-masing dengan berkata, “Papa sama Mama kan jalannya lama. Tunggu aja bentar lagi jangan kemana-mana.” 30 menit berlalu dan papa mama belum kelihatan juga. Mulai panik, kita mundur ke arah tadi kita datang. Tidak berani terlalu jauh karena kita masih percaya papa mama akan sampai ke sini nanti. Lebih baik kita tetap di sekitar Sungai Han. 15 menit berlalu dan kita semua mulai gelisah, karena bulan Mei masih bulan peralihan jadi angin masih terasa sangat dingin dan hari sudah malam. Aku mencoba memberanikan diri minta tolong ke seorang wanita yang sedang duduk untuk minta tolong telepon ke Papa, tapi ya jelas tidak bisa. Keadaan panik membuat kita sulit berpikir. Hal-hal aneh mulai terlintas di kepala. Bagaimana kalau kita hilang di negara orang? Bagaimana kalau kita tanya polisi saja. Bagaimana kalau kita langsung balik saja ke Hongdae?

Aku sudah menangis, kepala sudah dipenuhi pikiran-pikiran buruk. Akhirnya kita coba balik lagi ke tempat tadi kita datang, dan pada akhirnya kita mendengar suara memanggil namaku. “NISAA…. NISA…” Aku dan adikku serentak langsung menyatuti “PAPAAA…. PAPA….” Dan pada akhirnya aku dan adikku menangis bersama di pelukan Papa.

Semenjak kejadian itu, sekarang setiap kita ke luar negeri, handphone kita masing-masing selalu punya koneksi internet. Supaya kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Sesusah apapun wisata tanpa tour guide, #iniplesirku yang dapat menjadi pengalaman berharga.