Hingga waktu berkata 'pantas' maka kepergian tak lagi berbuah tangisan.

Salam hangat dari penulis,

penulis tidak sedang memberi curahan hati, namun hanya ingin sekedar berbagi. Mungkin kalian pernah merasakan hal yang sama, atau kalian bisa memberi nasihat bijak atas tulisanku, maka ijinkan penulis untuk memposisikan dirinya sebagai dirimu pembaca, dan memposisikan yang ku maksud sebagai dia.

***

Dalam tempat yang sunyi ini, matamu belum mendapati satupun napas yang ada di sekitarmu. Meski begini kamu merasa tenang, setenang hatimu mencoba menafsirkan apa yang kamu rasakan, walau sebenarnya tak terasa mudah, namun kamu mencoba tegar untuk membungkam ketakutanmu dalam sajak-sajak kesunyian itu. Sajak sunyi setelah sekian lama kepergian dirimu meninggalkannya.

Advertisement

Dia: entah mengetahui atau tidak, entah merasakan atau tidak.

Kamu hanyalah seorang manusia biasa yang tidak punya keberanian; belum sempat mengetahui perasaannya kepadamu, sudah mundur begitu saja dari dia impianmu. Saat itu pikiranmu terlalu dangkal, keyakinanmu terlalu surut bahwa kamu bukanlah seseorang yang tepat untuk bersanding dengannya.

"Kamu ini siapa, hanya seorang wanita yang suka menyendiri dengan segala kekurangannya. Minim sekali teman dan suka diacuhkan; bahkan di-bully menjadi hal yang wajar."

Hal ini sangat berbeda dan bertolak belakang dengannya. Dia laksana bintang yang bersinar, banyak sekali orang-orang yang mendukungnya, namun di saat itu pula kamu mengerti bahwa dia adalah bintang di langit yang amat sangat sulit kamu raih.

Mungkin ada benarnya pepatah “Jangan mimpi ketinggian, nanti jatuhnya sakit.”

Seperti itulah mimpimu kepadanya. Karena luka luar bisa diobati, tetapi luka hati tidak mudah. Sekarang mimpi itu tinggallah harapan; harapan yang sebenarnya memang tinggal harapan.

Kamu hanya bisa berharap semoga dia mengerti dan tidak salah menafsirkan kepergianmu; kamu salah tapi kamu juga lelah untuk disalahkan.

Alasan lain kamu menuliskan ini lantaran beribu kode halus atau bahasa tubuhmu tak mempan untuk menyadarkannya akan perasanmu seperti apa; hingga pada akhirnya kamu lelah sendiri. Menyadari bahwa bahasa tubuh hanya akan membuat itu terasa membuang-buang waktu saja dan berakhir dengan kata sia-sia.

Ada pilihan lain, yakni kamu memilih untuk mengungkapkannya secara langsung. Ah, sebenarnya bisa, bukankah sekarang adalah zamannya emansipasi? Akan tetapi, jika mengungkapkannya kamu lantas berpikir dengan seperti itu kamu akan terlihat seperti wanita yang ambisius dan sebagainya. Maka, tak ada jalan selain memendamnya, mendoakannya dan menuliskan apa yang kamu rasakan.

Merasakan tentang kepergian?

Dia memang tak pernah menanyakan secara langsung mengapa kamu pergi, bahkan untuk menanyakan bagaimana perasaanmu kepadanya secara lansung juga tidak pernah. Lantas dengan seperti inilah yang selalu membuatmu tidak tenang. Sebenarnya sejauh ini apakah dia pernah merasakan hal yang sama sepertimu? Dia pernah memberi bahasa sandi terhadapmu namun tak sekentara apa yang kamu berikan kepadanya? Ya, pantas saja kamu masih juga belum mengerti, ada pemikiran lain juga bahwa bahasa yang diberikan bisa jadi untuk mawar indah di luar sana.

Kamu merasa perasaanmu seperti digantungkan, tidak jelas akan seperti apa nantinya, dia yang kamu mimpikan bukanlah seperti realitanya. Dia yang kamu kagumi bisa jadi kamu terlalu berlebihan mengartikannya, berlebihan mendefinisikannya. Sejatinya kamu seharusnya tahu bahwa kekaguman belum tentu cinta. Dia tertawa denganmu namun dia juga bisa tertawa dengan yang lain; bijak dan nasehat yang diberikan padamu, dia juga memberikan kepada yang lain, tak ada yang istimewa, bukan?

Kepergian..

Tak ada kata yang indah untuk mendefinisikan kepergian. Namun ada kata yang lebih menyakitkan dari sebuah kepergian. Setelah kepergian itu terjadi, nyatanya kamu masih berharap padanya.

Ini seperti pepatah “Patah hati itu menyakitkan, namun lebih menyakitkan mencintai pada yang telah patah.”

***

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya: menyakitkan dan menyesakkan. Sengaja menyingkirkan diri itu tak mudah. Berpura-pura berdrama dan terlihat baik-baik saja itu melelahkan, namun apa dayamu? Berada di sampingnya saat waktu itu, terasa seperti bumi dan langit, dengan kenyataan sungguh berbeda. Perbedaan yang sangat amat jauh.

Kamu hanya berpikir, seandainya jika dia tahu perasaanmu sesungguhnya apa dia mau menerimamu? Kamu adalah seseorang yang masih mencoba tangguh di bawah tekanan, cacian, bully-an dan hal-hal yang membuatmu tak berdaya. Kamu juga berpikir pantaskah dia untuk bersanding denganmu, dengan segala kelebihannya. Memang benar cinta memang saling melengkapi, namun apa daya dirimu sewaktu itu? Kamu merasa bukanlah siapa-siapa jika dibandingkan dengannya.

Kamu pun hanya bisa menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya; tanpa dia tahu apa yang terjadi. Kamu membiarkan waktu saja yang menjawabnya ataukah waktu melenyapkannya.

Hingga waktu berkata 'pantas'

Meski kamu belum mengerti betul kapankah waktu akan menyebut seperti itu..

Kamu pun sedang berusaha untuk meyakinkan dirimu bahwa kamu layak dalam keramaian orang, kamu sedang membuktikan bahwa kamu bukanlah orang yang bisanya sendiri. Kamu membuktikan bahwa kamu bisa sepertinya yang lain yang juga mempunyai dukungan dari banyak orang. Kamu menjadikan dia sebagai sebuah pengalaman dan pembelajaran akan perasaan. Lewat dia, kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Hingga waktu berkata pantas, kamu akan yakin: jika kamu dengannya memang ditakdirkan, maka kamu dan dia akan bertemu di waktu yang pantas, di saat yang tepat. Jika bukan takdir, percayalah, Allah mempersiapkan seseorang yang juga pantas untuk kita.

Suatu saat pasti kita akan menemukan kebahagian masing-masing, dan tak menangisi satu sama lain.

Salam..