Secara umum laki-laki cenderung memliki “zona nyaman” dalam suatu hubungan. Sebelum memiliki istri seorang laki-laki akan berusaha mendapatkan istri yang ideal menurut standar kelelakiannya. Ia rela melakukan usaha apa saja demi mendapatkan calon pendamping hidupnya. Ia akan berusaha mati-matian mengejar dan mendapatkan perempuan yang menarik dan membuatnya tergila-gila untuk menjadikanya istri.

Ia akan berusaha dan berkorban banyak hal untuk mendapatkan perempuan tersebut termasuk bersaing dengan banyak lelaki. Namun, setelah menikah dengan perempuan yang selama ini diharapkan, laki-laki mulai memasuki zona nyaman. Ia merasa tidak perlu lagi mengejar atau melakukan usaha untuk mendapatkan pendamping hidup, tak perlu lagi berjuang susah payah menyakinkan hati perempuan karena perempuan tersebut sudah ada disampingnya.

Ketika sudah memasuki zona nyaman dalam sebuah hubungan, laki-laki merasa bisa fokus ke hal yang lain dalam hidupnya misalnya karier, pekerjaan, organisasi, hobi dan lain sebagainya serta yakin bahwa istri yang berada disampingnya merasa nyaman bersama dengannya. Pada beberapa kalangan suami ketika sedang berduaan dengan istri, tidak masalah bila dia asyik bermain handphone, menyelesaikan tugas kantor, baca koran maupun nonton TV.

Sedangkan istri misalnya membaca majalah dan asyik dengan handphonenya. Saling sibuk dan fokus mengerjakan pekerjaan masing-masing adalah sebuah kenyamanan dan kebahagiaan tersendiri bagi beberapa laki-laki. Maka laki-laki akan terkesan lebih cuek setelah menikah, meski sebenarnya hal tersebut berarti dia sudah merasa nyaman dengan Istrinya.

Sikap seperti inilah yang seringkali ditanggapi oleh istri sebagai tidak romantis lagi, cuek dan cenderung tak peduli. Di mata istrinya, suami telah kehilangan romantisme dan kemesraan yang hangat setelah berumah tangga, tak ada lagi perhatian yang seperti dulu saat berpacaran apalagi ketika sudah menempuh waktu menikah yang panjang. Padahal suami merasa sama sekali tidak ada yang berubah.

Advertisement

Bahkan ia merasa sudah sedemikian bahagia dan nyaman hidup berdampingan dengan perempuan yang amat dicintainya, dan heran mengapa sang istri terkesan mencari-cari kekurangan/kesalahannya? Mengapa selalu dituduh tidak perhatian dan cenderung acuh? Apa yang terjadi dengan istriku?

"Karena perempuan selalu memerlukan perhatian yang konsisten dalam sebuah hubungan." Secara umum perempuan atau Istri menginginkan diperlakukan romantis, perhatian, dirayu dan sedikit dicemburui serta kemesraan. Apalagi bila selama pacaran sosok laki-laki tersebut sudah tampak romantis dan perhatian. Maka perempuan memiliki ekspektasi yang tinggi bahwa suaminya akan semakin romatis setelah menikah dengannya.

Seorang istri ingin melihat bagaimana usaha suami untuk membahagiakannya, meskipun baru melihat usahanya saja perempuan akan langsung luluh dan merasa bahagia hatinya. Karena itu ketika sedang berduaan dengannya, perempuan akan mengeluh bila suaminya asyik bermain handphone, main game dan baca artikel online maupun nonton tv tanpa mempedulikan yang saat itu ada disampingnya.

Meskipun sepele, pujian kecil untuk istri sangat berarti penting dan berpengaruh bagi perasaannya, dan laki-laki pun sebenarnya sangat menyukai apabila di puji oleh istrinya. Ada sensasi yang luar biasa di hati, seolah mendapatkan suntikan semangat yang luar biasa. Ketika suami sedang berduaan santai di rumah, namun melihat suami sibuk melakukan aktivitas lain seperti melakukan pekerjaan di laptop, main handphone dan lain sebagainya, istri akan berpikir mengapa aku dicuekin begini?

Sudah dia super sibuk, jarang pulang ke rumah karena lembur di kantor dan sibuk urusan organisasi begitu dirumah masih saja sibuk begini? Kenapa asyik dengan handphone saat berduaan dengangku? Apakah aku sudah tidak menarik lagi? Apabila hal seperti ini terjadi berulang, istri akan mulai mengeluh pada suami. Perlahan keluhan itu akan menjadi tuntutan.

Namun tanggapan suami biasanya tersinggung dan membela diri karena merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Ia merasa semuanya selama ini baik-baik saja tidak ada yang bermasalah. Istri menuduh suami tidak peka, tidak perhatian dan tidak penegrtian lagi. Sementara suami menuduh istri terlalu banyak menuntut dan sering mencari-cari masalah, memancing pertengkaran dan mengusik kenyamanan yang selama ini sudah terbangun dengan baik.

Akibatnya pertengkaran pun terjadi dan saling menyalahkan satu sama lain. Hanya karena keduanya tidak mengerti kebutuhan pasangan dan tidak ada upaya komunikasi untuk mengurai apa yang perlu keduanya lakukan untuk saling mengerti apa yang dibutuhkan pasangan. Dalam sebuah hubungan komunikasi memiliki peran penting untuk mengurai masalah, menyampaikan pendapat atau mendiskusikan suatu hal.

Laki-laki tidak akan mengerti apa yang perempuan inginkan bila ia hanya diam saja. Begitu juga perempuan tidak akan mengerti dengan logika laki-laki dalam mengekspresikan cinta terhadap pasangan tanpa adanya komunikasi. Komunikasi dapat menjadi jembatan yang baik bagi keduanya agar dapat saling memahami perbedaan yang ada, meminimalisasi konflik dan menyampaikan kasih sayang.

Setelah ada komunikasi yang baik, solusi untuk sebuah kesibukan pasangan ialah perlu adanya ketersediaan keduanya untuk berusaha memahami pasangan, kemudian menentukan kompromi yang paling mungkin dilakukan atas perbedaan diantara mereka. Istri harus memahami kecenderungan para lelaki dalam mengungkapkan apresiasi pada sebuah hubungan.

Demikian juga suami harus mengerti kecenderungan perempuan. Kompromi lebih mungkin terjadi bila keduannya sudah saling memahami dengan baik keinginan pasangannya. Contoh komromi misalnya menentukan waktu atau hari dimana suami istri bisa bersama liburan atau sekedar bersantai tanpa adanya gangguan handphone, tv dan kerjaaan. Sehingga kalian berdua memiliki waktu yang berkualitas untuk lebih banyak ngobrol secara hangat dan menghabiskan waktu berdua bersama pasangan. Kompromi apapun yang anda pilih tentunya atas dasar kesepakatan bersama.