Masih tentang hujan yang akhir – akhir ini datang menggoda.
Aroma tanah basah yang kemudian menjadi kusuka.
Ku jadi suka melihat gerimis.
Melihat rintikannya yang jatuh seolah bernada, Aku rindu.
Rindu bercengkrama perihal masa depan.
Rencana yang kurencanakan bersamamu.
Kemudian Aku tertawa, ingat kalau – kalau kamu pergi tiba – tiba.
Membiarkanku memeluk rencana itu sendirian.
Tidak.
Aku tidak bisa.
Hujan semakin deras, iramanya semakin tak beraturan.
Aroma tanah tak lagi tercium.
Bahkan sekarang tanahnya sudah tergenang air yang menyentuh jemari kaki.
Hah!
Otakku baru mulai bekerja.
Setelah sedari tadi hanya hati yang berperan.
Ilusi-ilusi tadi kemudian menjelma nyata.
Dimana dirimu?
Tak kutemukan diseluruh pandanganku.
Hanya tertinggal jejak – jejak kaki mu yang kotor terkena tanah bercampur air.
Ketika kupegang ternyata sudah mengering.
Lalu? sudah berapa lama Aku disini?
Terus berilusi kalau – kalau kamu tak jadi pergi.
Hahahaha. Lucu.
Dia memang sudah menginginkan pergi, hingga berjuta alasan baik kuucapkan dia tak akan tetap tinggal.
Pergi bukan masalah mencari dan dicari.
Pergi itu masalah keinginan.