“Daun daun itu mulai gugur dari dahannya, berterbangan, dan jatuh tak tertahan”

Masih terbayang senyum manis nan cantikmu dalam bulatan lingkaran asmara yang kau buat sendiri disini, di hatiku. Masih sering terngiang canda khas dan rona wajahmu yang bulat pipih merona. Paras cantikmu yang membuatku semakin terbawa oleh lantunan rindu yang kau bawa sendiri. Entah setelah sekian waktu bersama denganmu, hati ini tak ingin beralih sedetik pun. Aku terlanjur kaku di hadapmu.

Teringat kala lenganmu masih melingkar erat di pundakku dan tiada ingin kau lepas. Saat kau masih menghitung jari jari kita yang masih tergenggam erat. Entah momen manis itu terus melekat dalam ingatan dan tak ingin padam. Tak mampu rasanya aku membunuh rinduku sendiri hingga terkadang ketika sudah sangat sesak di dada, amarahlah yang akan bicara.

“ Selamat pagi kesayangan. Semoga hari ini makin semangat. Jangan lupa jaga kesehatan sayang. jaga dirimu. Semangat online shopnya. Semoga makin lancar sayang. aamiin.”

Separuh kata menjelang pagi, penyemangat langkahmu.

Advertisement

Aroma khas pagi adalah momen yang indah. Saat masih terus ku ketik dalam ponselku, separuh kata yang kiranya mampu menghangatkan harimu. Masih sering ku tulis rapat, tentang bagaimana kau menjaga kesehatanmu saat aku tak berada tepat disisimu.

Aku tahu kau telah sedewasa ini, namun kesehatanmu adalah ketakutanku yang berlebih. Aku tahu kau takkan lupa cara memakai sendokmu saat kau lapar, tapi hidup ini tak lengkap rasanya tanpa mengingatkan. Percayalah, ini adalah sebuah rasa sayang.

Cerita tentangmu adalah bahasan paling menarik untuk hariku.

Sudah sering kau bercanda dengan dengan orang yang berada dalam obrolan telfonmu, aku. Canda manis adalah rasa yang lengkap dan tepat mengisi jenuhnya rasa harian akan padatnya jam kuliahku. Rasanya ingin berbagi sebentar tentang penatnya dunia kerja yang kau jalani. Tak pernah aku pungkiri, memang kadang semua itu menjenuhkan.

Namun apa dikata, semua itu untuk modal di masa depan. Lembaran HVS terkadang juga masih terserak dalam jeda pertemuan kita. Berserakan hingga malas merapikan hal kecil yang jadi punggung keberhasilan.

“Ah, inikan sedang pertemuan (baca: quality time), pending dulu laporannya.”

Dalam benak terbesit harap mendalam. Rasa ingin akhiri semua kejenuhan ini. Lagi-lagi inilah modal kehidupan yang kelak akan kita jalani.

Perjalanan amat panjang, namun “kita” adalah satu bahasa yang saling menguatkan.

Saat musim terganti dengan sendirinya, maka saat itulah perjalanan masih terasa sangat panjang. Terkadang mulai bosan dengan keadaan yang tak kunjung hilang dan hanya terlewati perlahan. Memang aku pun tak pernah pungkiri bahwa ini cerita yang amat melelahkan.

Kita adalah bahasa paling sempurna untuk diperjuangkan. Bahasa yang mampu meluluhkan malam dengan segala kehangatan. Kita bahasa terpadu yang membuatku mengerti bagaimana rasanya sendiri. Dan setiap candamu adalah sesal yang membuatku memahami artinya kesepian.

Setiap detik adalah harapan, dan engkaulah detik pada setiap menitnya.

Rasanya tak mampu terkata, jika kisah ini harus terpadam untuk kesekian kalinya. Harapan datang membawa ku perlahan disisimu mengarui kisah lama yang membuatku amat berarti pada setiap detiknya. Iya, karna itu denganmu. Denganmu ku lakukan segalanya. Segala yang tetap akhirnya membawaku dalam hangatnya pelukan. Kau juga tak lupa selipkan doamu di seujung kisah beranda ini yang makin diketahui orang, agar aku sadar bahwa nama ini hanya milikmu. Karna kita sedang sama sama menanti keajaiban datang, hujan di musim kemarau.